Di Forum Sumenep Hijau, Pimpinan Pondok Pesantren se-Sumenep Sepakat Tolak Tambang Fosfat

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Sejak tiga bulan terakhir, isu mengenai penolakan rencana tambang fosfat di Kabupaten Sumenep kian meningkat. Di sejumlah kalangan mulai dari akademisi, aktivis dan petani melakukan berbagai upaya guna menggagalkan eksploitasi yang berdampak terhadap kerusakan lingkungan tersebut. Sebab di Sumenep sendiri, menurut data yang dilansir mongabay.co.id, bahwa pemerintah setempat berencana akan mengubah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) untuk memperluas kawasan penambangan fosfat.

Kali ini, penolakan muncul dari kalangan kiai atau pimpinan pondok pesantren se Kabupaten Sumenep. Melalui Forum Sumenep Hijau yang bertempat di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk pada Kamis kemarin, (11/2/2021), dihadiri oleh kurang lebih 30 orang perwakilan dari sejumlah pimpinan pondok pesantren berkumpul guna membicarakan langkah-langkah solutif untuk menyikapi rencana eksploitasi itu. Di awali dengan pembacaan istighatsah bersama kemudian dilanjutkan dengan perundingan yang bermula dari silang pendapat dan diskusi panjang tentang tambang fosfat.

Penolakan tegas terkait rencana tambang fosfat di Kabupaten Sumenep ini disampaikan oleh KH. Muhammad Ali Fikri, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, beliau menuturkan, bahwa pengerukan kekayaan alam bisa berdampak buruk terhadap masyarakat dan lingkungan dalam kurun waktu yang sangat panjang.

“Berkaca pada kejadian yang pernah terjadi di daerah Palembang dan Balikpapan. Dampak negatifnya sudah sangat jelas di rasakan oleh masyarakat dan alam. Saya kira dalam hal ini penting kiranya untuk berpikir jauh ke depan tentang nasib anak cucu-cucu kita,” tegaskan beliau.

Menurutnya, sisi positif daripada penambangan fosfat itu jauh lebih besar sisi negatifnya. Sebab, bilamana penambangan fosfat itu dilakukan, maka cepat atau lambat kekeringan akan melanda. Karena itu, Kiai Fikri, sapaan akrabnya, berharap agar lebih mementingkan dan mengutamakan keselamatan nasib generasi bangsa selanjutnya.

Namun demikian, Kiai Abdul Hamid Ali Munir menuturkan, bahwa meski sampai saat ini isu tambang fosfat di Sumenep menjadi isu yang hangat, akan tetapi pihaknya mengaku bahwa proses pembahasan mengenai rencana perubahan RTRW untuk kawasan tambang fosfat belum sampai ke jajaran anggota dewan.

“Artinya, sebelum terlambat, kita harus memorandumkan sikap penolakan ini dalam bentuk legalitas formal,” ungkap kiai yang saat ini tengah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tidak hanya itu, langkah-langkah solutif juga akan dilakukan ke bawah, upaya penyadaran sosial kepada masyarakat melalui sosialisasi tentang dampak buruknya terhadap keberlangsungan kesejahteraan hidup dan kelestarian lingkungan. Hal ini dengan tegas disampaikan oleh Kiai Muhammad Ainul Yaqin, salah seorang Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah.

“Dengan memberikan pemahaman langsung kepada masyarakat tentang dampak negatifnya, ini akan menjadi gerakan penyadaran sosial yang dimulai dari pinggir, demi menjaga lingkungan dan kesejahteraan umat di masa berikutnya.”

Beliau menambahkan, bahwa potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumenep belum siap untuk meminimalisir dampak negatif dari tambang fosfat itu. Karena itu pihaknya menolak agar tidak semakin memunculkan madharat (masalah) yang jauh lebih besar ke depannya. Jika tidak, maka masyarakat secara perlahan akan dihegemoni.

Oleh karena besarnya dampak negatif dari penambangan fosfat, menurut Ahmad Saheri, salah seorang aktivis lingkungan asal Kecamatan Lenteng, menuturkan bahwa Forum Sumenep Hijau itu telah menghasilkan kesepakatan yang akan dilakukan sebagai langkah antisipatif ke depannya.

“Ada dua kesepakatan yang dihasilkan tadi di acara Forum Sumenep Hijau, pertama akan melaksanakan istighatsah di sejumlah daerah, utamanya pesantren-pesantren, untuk keselamatan negeri. Kedua, akan membuat rekomendasi dalam bentuk surat yang akan dikirimkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) terkait penolakan rencana tambang fosfat,” ujarnya kepada NU Online Sumenep.

Pewarta: Muhammad Iqbal
Editor: Ibnu Abbas

- ADVERTISEMENT -
Ibnu Abbas
Pemimpin Redaksi NU Online Sumenep
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x