Asilah Bahtsul Masail LBM NU Dungkek tentang Jual Beli Air Sumur Bor Pribadi

Praktik Jual Beli Air (Sumur Pribadi dan Sumur BOR Pribadi)

Deskripsi Masalah:

Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup dan salah satu karunia besar Allah SWT untuk kelangsungan hidup manusia. Tanpa air, manusia tak akan mampu bertahan hidup.
Kita diwajibkan bersyukur atas nikmat air. Di kalangan masyarakat terjadi beberapa praktik jual beli air dengan berbagai cara yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan hal itu menjadi kebiasaan di kalangan petani khususnya:

  1. Jual air dengan tarif berdasarkan satuan waktu. Penyedia air, atau pemilik sumur pribadi atau sumur Bor menentukan harga berdasarkan satuan waktu, misalkan Rp. 10.000,-  untuk satu jam dan berlaku kelipatan.
  2. Jual air dengan tarif berdasarkan hitungan perpohon. Praktek ini sering terjadi pada petani tembakau. Penyedia air menetapkan harga dengan dengan cara menghitung pohon yang disiram. Dengan asumsi sejak awal penyemaian hingga panen. Dalam kasus ini dapat diilustrasikan pemilik air menetapkan Harga Rp. 15.000,- permohon dari masa tanam hingga masa panen
  3. Jual air dengan model persentase hasil panen tani. Penyedia air membuat kesepakatan dengan petani dengan menentukan harga persentase dari pendapatan hasil panen, misalkan 30%. Jika Hasil panen semangka Rp. 10.000.000,- maka harga air yang harus dibayar kepada penyeedia air dengan nominal harga Rp. 3000.000,-
  4. Jual air dengan tarif berdasarkan petak. Praktek ini terjadi pada petani padi dan jagung. Penyedia air akan mengisi air secukupnya pada sebidang sawah. Harga ditetapkan untuk setiap pengisian air. Penyedia air akan mengisi air secukupnya pada sebidang sawah dengan luas 200 M2, dengan harga Rp. 50.000,- dalam satu kali layanan.

Pola-pola di atas ini sering menimbulkan disharmoni antara masyarakat, karena harga itu penentuan harga tidak memiliki standart baku yang membuka ruang perbedaan pendapat. Akibatnya terjadi konflik horizontal berupa peemusuhan, pemutusan arus listirk, penutupan jalan kampung dan lain-lain. Pemilik air tidak sudi menjual airnya lagi ke tetangganya, karena masalah di atas. Kemudiam pemilik air menjual sumur bor ke orang lain.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana hukum jual beli air, dengan berbagai praktek tersebut? Jika tidak boleh, bagaimana solusinya, karena praktik tersebut telah membudaya di masyarakat.
  2. Bagaimana hukum tidak memberikan jual beli air karena konflik sosial? Padahal, Layanan air tersebut, satu-satunya layanan air yang bisa di akses untuk lahan pertaninya.
  3. Bagaimana hukum jual beli sumur bor tersebut>

Sail: Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Dungkek.

- ADVERTISEMENT -
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x