spot_img

Belajar dari Orang Gila

Oleh: Anas Ilhami

Judul Buku: Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila
Penulis: Abu al-Qasim an-Naisaburi
Penerbit: Turos Pustaka
Cetakan: I, Desember 2019
Tebal Buku: 460 halaman
ISBN: 978-623-7327-25-7

Suatu ketika Umar bin Khattab berada di atas mimbar di Mina dan menyeru, “Wahai para penduduk Qaran!’ para Syekh berdiri dan menjawab, “Ya, kami disini wahai amirul mukminin!’ kemudian Umar bertanya, “Apakah di Qaran ada orang bernama Uwais?’ salah seorang Syekh menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Di antara kami tidak ada yang bernama Uwais, kecuali orang gila yang tinggal di padang pasir yang tidak bergaul dengan masyarakat”. Umar pun berkata, “Dialah yang aku maksud, apabila kalian sampai di Qaran, carilah orang itu dan sampaikan salamku padanya, lalu katakan kepadanya “Sesungguhnya Rasulullah SAW, telah memberi kabar gembira tentang dirimu dan memberitahukanku untuk menyampaikan kepadamu salamnya,”

Dari buku ini ada yang menarik pembahasannya untuk dibaca dan dipahami, yakni dengan sebutan “gila”. Sebutan gila pada seseorang tidak otomatis menunjukkan bahwa yang ditunjuk adalah orang gila. Adakalanya yang disebut gila justru orang yang benar dan baik. Peristiwa semacam ini juga terjadi di ranah filsafat, agama dan sains.

Dalam ranah filsafat, kita mengenal seorang filsuf yang bernama Socrates, filsuf yang mendapat julukan bapak filsafat ini dianggap gila oleh orang-orang Yunani, lantaran mempertanyakan hal-hal yang diterima begitu saja oleh orang-orang disekitarnya, padahal filsuf ini bertujuan untuk menyadarkan orang-orang supaya tidak terpaku pada opini-opini tanpa harus difilter terlebih dahulu, malainkan mengarahkan kepada pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Sedang di ranah agama, Nabi Muhammad juga pernah kalah dalam mendakwahkan Islam di Mekkah, Nabi Muhammad dituduh sebagai orang gila yang menyesatkan warga sehingga diupayakan untuk dibunuh dan akhirnya pindah ke Yatsrib (Madinah). Demikian juga Giordan Bruno di ranah Sains, dia dianggap melenceng dari jalur intelektualitas dan agama gara-gara mengkampanyekan eliosentrisme. Baginya, matahari yang diputari bumi bukan sebaliknya. Pernyataan itu bertentangan dengan keyakinan gereja yang menganggap bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, akibatnya Bruno dibakar hidup-hidup, tapi kemudian terbukti bahwa pendapat Bruno justru benar, sementara keyakinan gereja salah.

Buku yang berjudul “Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila” ini adalah buku terjemahan dari karangan Abu Al-qasim An-Naisaburi dengan judul aslinya “’Uqala’ al-Majaanin” yang kemudian diterjemahkan oleh Zainul Ma’arif, Lc, M. Hum dengan tujuan untuk membantu para pembaca yang tidak bisa memahami kitab berbahasa arab, agar juga dapat menikmati buku ini melalui terjemahan ini.

Karya Abu al-Qasim ini, di satu sisi membela orang-orang yang dianggap gila dengan menunjukkan ketidak gilaan mereka, sedang di sisi lain buku ini juga memberi kritik tajam untuk kegilaan dan kedunguan dengan cara memberi tips-tips menghadapi orang-orang yang sungguh mengalami penyakit tersebut (hal. 05)

Tokoh-tokoh yang dikisahkan di dalamnya, rata-rata mereka adalah para sufi: orang zuhud, sangat mencintai tuhan, lebih memikirkan akhirat dan sangat tekun dalam beribadah, bahkan melampaui orang-orang yang dianggap berpikir sehat. Maka tidak berlebihan jika mereka disebut orang-orang yang sangat cerdas secara spiritual walaupun dianggap sebagai orang gila dan bahkan banyak kata-kata mutiara yang terucap dari mulut mereka, juga akhlak mulia dari prilaku mereka sehari-hari.

Dalam konteks kegilaan ini, catatan penting yang harus diperhatikan adalah peribahasa arab yang mengatakan “undzur ma qila wala tandzur man qala” (lihatlah apa yang dibicarakan jangan lihat siapa yang bicara). Lagi pula, kebijaksanaan seyogyanya diambil dari manapun asalnya, sebagaimana orang arab bilang “khudz al-hikmah walaw min al-dubur al-dujjaj” (ambillah kebijaksanaan meskipun dari pantat ayam). Bahkan Rasulullah bersabda, “kebijaksanaan ibarat benda yang hilang milik orang mukmin, dimana pun orang mukmin mendapatnya dia paling berhak mengambilnya. (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah). Atas dasar itu, tidak ada salahnya kita belajar dari orang-orang gila tapi pintar tersebut melalui buku ini.

Maka buku ini cukup baik untuk dibaca oleh setiap kalangan, agar lebih berhati-hati mengklaim orang berlaku nyeleneh dari kebiasaan tapi sebenarnya di dalam dirinya, tersimpan aneka ragam pengetahuan yang dapat diteladani dan diamalkan. Wallahu a’lam.  

Anas Ilhami, Mahasiswa INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep Jawa timur sekaligus alumni PP. Darul Ulum 1 Lenteng Barat.

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x