Pendidikan Mental Berbasis “Sepeda Ontel”

Oleh : Abdul Warits*

Suatu ketika ada orang tua yang sedang membelikan anaknya sepeda ontel di dalam mobil yang saya tumpangi. Di Madura, kepedulian orang tua kepada pendidikan ternyata sangat luar biasa. Mendidik dengan cara membelikan sepeda ontel kepada anaknya adalah cara terbaik dalam membumikan nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, ketangguhan luar biasa menuju peradaban pendidikan yang lebih menjanjikan.

Sepeda ontel adalah salah satu kendaraan yang biasa digunakan oleh siswa dan siswi untuk berangkat ke sekolahnya. Dulu, barangkali seseorang yang ingin menuntut ilmu ke sekolah menggunakan berbagai sarana yang terus mengalami pergeseran dari hari ke hari. Ada yang berjalan kaki, diantarkan orang tua, naik sepeda ontel, naik sepeda motor, naik mobil, hingga naik bis dengan cara berjamaah adalah momen yang tidak pernah bisa dilupakan dalam kenangan kita di sekolah. Sebuah kenangan yang mendebarkan.

Jika kita mengamati lingkungan dan life style (gaya hidup) masyarakat kita di Madura, maka tentu akan menemukan pergeseran dalam paradigma pendidikan yang dibentuk karena beragam faktor : materialisme, kapitalisme hingga pragmatisme menjadi “racun” masyarakat bahkan hingga orang desa-desa mengadopsinya. Pandangan masyarakat desa seringkali melihat kesuksesan ketika ia mempunyai materi; mobil, mempunyai pekerjaan yang mapan, mempunyai tahta, dan lain sebagainya.

Ini yang menjadi anggapan miring bahwa sekolah atau kuliah hanya sebagai tujuan untuk memperoleh  pekerjaan, hanya sebatas tujuan duniawi semata. Padahal, seharusnya pemikiran akhirat lebih didahulukan dari dunia. Karenanya, masyarakat perlu dibekali dengan niat ukhrawi agar bisa berpikir jangka panjang untuk masa depannya. Begitulah penjelasan dari tujuan mencari ilmu dari berbagai kitab karya para ulama’.

Kesalahan dalam pemikiran tentu akan mempengaruhi mental mereka. Contoh kecilnya, ketika pekerjaan seorang anak harus dibanding-bandingkan, harus melebihi dari orang tuanya sehingga orang-orang desa kadang mengatakan bahwa seorang anak harus lebih sukses dari pekerjaan orang tuanya. Jika orang tuanya petani, maka seorang anak harus melebihi itu. Ini jelas sesuatu yang salah karena pandangan materialisme, pragmatisme, menjadi nomor satu di sanubari mereka. Tetapi, barangkali orang yang menginginkan anaknya lebih dari orang tuanya mungkin ia tidak mau memberikan beban kemelaratan kepada anaknya. Cukup dirinya saja yang melarat dan susah. Bisa jadi ini juga pandangan revolusioner.

Akankah pekerjaan petani menjadi pekerjaan yang termarginalkan jika tanah bagi masyarakat Madura masih marwah yang harus dijaga? apalagi pekerjaan petani adalah pekerjaan paling murni dan mengandung banyak berkah. Akankah kita meninggalkan petani? Maka, seharusnya perlu seorang yang mendalami pertanian dan mengatur kehidupan rakyat jelata dengan baik. Masyarakat yang terperangkap dalam urbanisasi hendaknya dicarikan solusi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Bukan materi yang diperhitungkan pertama kali. Materi harus rela dinomorduakan meski semua orang pasti butuh materi.

Dalam satu hadits dijelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu makan Allah akan memudahkan jalannnya menuju ke surga. Selain itu, binatang yang ada di dunia akan mendoakan dan akan memohon ampun kepadanya. Anak-anak di lingkungan kita hari ini jarang yang mengendarai sepeda ontel sebagai salah satu alat yang memudahkan dalam menuntut ilmu.

Kemudahan dalam menuntut ilmu memang menuntut kita agar tidak bermalas-malasan saja. Tetapi, kebobrokan moral masih merajalela hingga hari ini. Karena dengan kemudahan seseorang menjadi terlena dan tidak bisa menyikapinya dengan bijaksana perkembangan yang sedang berlari. Maka, masyarakat seharusnya bisa mengendalikan dunia yang sedang merangkak, berlari bahkan sudah berpaju dengan perkembangan waktu.

Hal tersebut memang akan terlihat sebagai perantara paling mudah menuju kebaikan dan kejujuran. Akan tetapi, secara perlahan permasalahan ini akan mengikis mental. Seorang siswa tidak lagi diajari bagaimana filosofi dari adagium berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Oleh sebab itu, pendidikan mental dengan sepeda ontel harus tetap dipertahankan sebagai perantara dalam membangun mental siswa agar  menghargai proses. Selain menjaga kesehatan dan kebugaran anak-anak, pendidikan dengan sepeda ontel juga mendukung terciptanya ramah lingkungan dengan tidak mencemari melalui asap knalpot. Pendidikan mental berbasis “sepeda ontel” tentu juga akan mengurangi  kenakalan remaja karena kenakalan remaja hari ini kebanyakan dipicu oleh life style hingga muncul geng motor dan lain sebagainya.  

Dengan demikian, mentradisikan anak-anak dengan sepeda ontel adalah cara terbaik dalam menumbuhkan sikap kesemangatan dalam meraih cita-cita.  Dengan bersepeda, anak-anak justru menjadi orang yang mandiri dalam menjalani kehidupan kesehariannya.  Maka,  di sinilah alasan yang perlu dikukuhkan bahwa mental  tangguh karena tidak pernah terpengaruh dengan hiruk pikuk modernisme, pragmatisme, kapitalisme, materialisme,  yang hanya  bersifat kesenangan semata.  Sepeda ontel akan membentuk anak-anak untuk kreatif dalam berusaha dengan terus mengayuh menjalani kehidupan sepanjang jalan mereka yang masih panjang.

*Penulis lepas, Redaktur NU Online Sumenep

- ADVERTISEMENT -
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x