Puasa di Masa PPKM, Wakil Ketua NU Sumenep: Upaya Penyadaran Diri

Kota, NU Online Sumenep

Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan ibadah Puasa Tarwiyah dan Arafah di bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 8 dan 9, sebelum Hari Raya Idul Adha. Menurut jumhur ulama, keutamaan dari kedua puasa ini dapat menghapus dosa yang dilakukan oleh mereka yang menjalankan.

Namun ada yang berbeda dengan pelaksanaan ibadah puasa Tarwiyah dan Arafah tahun ini. Karena pemerintah sedang menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat akibat pandemi Covid-19 yang terus melonjak.

Secara substansial, puasa dapat dimaknai menahan diri sepanjang hari dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu, menahan dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa bagi orang islam yang berakal, sehat, dan suci dari haid dan nifas bagi seorang muslimah.

Dalam konteks pemahaman tentang puasa, menahan diri tidak hanya dapat diartikan secara dzahir. Seperti menahan diri dari lapar, haus dan dahaga. Melainkan juga secara bathin, yakni menahan diri dari segala sifat buruk. Seperti emosi, membicarakan orang lain, berbohong dan sebagainya.

Oleh karena itu, masa PPKM ini, menurut Kiai Subairi Karim, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, juga merupakan salah satu ikhtiar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membuat keadaan semakin butuh di tengah wabah Covid-19.

“Inti puasa itu, baik sunnah atau wajib, adalah pengendalian fisik dan hati. PPKM ini juga sama. Kita dibatasi, dikendalikan dalam arti ditertibkan, sebagai bentuk ikhtiar lahir menghadapi pandemi,” ungkap beliau kepada NU Online Sumenep, Sabtu (17/7/2021).

Menurut beliau, puasa dan PPKM memiliki satu orientasi atau tujuan yang sama, yakni menahan diri. Jika dalam puasa umat Islam dilatih untuk menjadi pribadi manusia yang lebih baik dengan cara menjauhi segala prilaku buruk. Maka PPKM juga demikian, tidak lain untuk menahan dan membatasi segala aktivitas manusia dari hal-hal yang dapat menyebabkan virus semakin menyebar.

“Ini erat kaitannya dengan PPKM karena banyak pembatasan yang dilakukan oleh negara. Membatasi untuk ibadah di rumah, karena memang fungsi masjid bisa dilakukan di rumah. Kemudian mengendalikan diri untuk tidak berkerumun dan segala macam, tentu tidak lain tujuannya agar dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” imbuh beliau.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudhatul Iman (Stidar) Ganding Sumenep ini juga menegaskan bahwa upaya pengendalian yang dilakukan terkait PPKM bukan prilaku represif pemerintah. Melainkan upaya penyadaran diri untuk bersama-sama memerangi pandemi ini yang sudah banyak menelan korban.

“Semua adalah bentuk pengendalian, pengendalian itu sebaik-baiknya bukan karena sikap represif negara. Tapi karena kesadaran diri untuk terus berupaya agar pandemi segera lenyap dari muka bumi,” tegas beliau.

Segala kebijakan tentu ada konsekuensinya. Semenjak PPKM diberlakukan, kondisi perekonomian masyarakat menurun drastis. Utamanya masyarakat kalangan menengah ke bawah. Mereka yang semula berjualan di pinggir jalan, pangkalan, dan tempat terbuka lainnya terpaksa harus ditertibkan agar tidak menimbulkan kerumunan dan mobilitas sosial yang menyebabkan virus semakin menyebar. Akan tetapi hal tersebut tidak lain demi keselamatan bersama.

Meski begitu, menurut Kiai Subairi, sebagian masyarakat masih ada yang menolak dan bahkan menentang kebijakan tersebut karena tidak sesuai dengan kehendaknya. Padahal, peraturan tersebut diterapkan untuk kebaikan bersama. Demikian pula dalam agama, syariat diberlakukan tentu untuk mengatur dan menertibkan prilaku keberagamaan agar semakin baik.

“Hidup bernegara itu tidak berdasarkan ego dan perasaan sendiri saja. Melainkan berdasarkan aturan dan ketentuan yang dibuat untuk kebaikan dan keselamatan bersama. Termasuk sadar untuk tidak beragama berdasar ego dan perasaan sendiri saja. Justru beragama itu karena aturan yang dibikin Rosul,” tutur beliau.

Mematuhi aturan demi keselamatan bersama, perlu dimulai dari kesadaran diri. Tentu kesadaran diri yang dimaksud tidak mendasarkan segala sesuatu pada kehendak atau ego pribadi. Untuk mencapai semua itu salah satunya dapat dilakukan dengan puasa. Sebab, menurut beliau, puasa dapat menahan diri dari berbagai hal yang dapat memperkeruh keadaan.

“Kesadaran itu bisa dicapai dengan berpuasa. Puasa akan banyak mendongkrak kesadaran umat untuk semakin sadar mematuhi PPKM sebagai ikhtiar lahir, bahwa negara bikin ini itu bukan untuk menyengsarakan rakyatnya melainkan untuk menyelamatkannya,” tandas beliau.

Beliau berharap agar masyarakat, termasuk Nahdliyin, beragama dengan cara-cara Ahlussunnah Wal Jama’ah, yakni tidak berlebihan. Di tengah kasus lonjakan pandemi, kesadaran diri untuk menaati peraturan sangat dibutuhkan. Agar tidak membahayakan nyawa orang lain.

“Makan minum kan boleh, yang tidak boleh kalau berlebihan. Nah belebihan itu bentuk pengendalian,” ungkap beliau mengingatkan.

Kehadiran negara tentu untuk mengatur dan menertibkan tatanan sosial kehidupan masyarakat. Termasuk untuk menjalankan ibadah dengan sempurna. Selama pandemi masih ada, kehidupan tidak normal. Bahaya penyebaran virus bisa datang dari sisi mana saja. Karena itu, sadar diri untuk mematuhi aturan pemerintah terkait PPKM, menurut beliau, juga untuk kepentingan agama.

“Mentaati PPKM berarti mengendalikan kesadaran diri untuk menjalankan perintah agama. Selamat berpuasa,” pungkas beliau.

Editor: A. Habiburrahman

- ADVERTISEMENT -
Ibnu Abbas
Pemimpin Redaksi NU Online Sumenep
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x