Tragedi Idul Adha Berdarah 1962

Momen hari raya Idul Adha selalu identik dengan rasa gembira dan ceria. Pada hari ini, umat Islam menggelar shalat ‘Ied, bermaaf-maaf dengan seluruh handai taulan, serta menunaikan ibadah qurban bagi yang mampu. Tapi tahukah anda, bahwa beberapa dasawarsa silam ternyata ada peristiwa kelam dalam sejarah Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia pada saat pelaksanaan hari raya kurban ini?

Peristiwa Idul Adha berdarah ini terjadi pada hari Rabu, 14 Mei 1962. Waktu itu KH. Zainul Arifin, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pergi ke masjid Baiturrahim di Istana Negara, Jakarta, untuk mendirikan shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno. Bertindak sebagai imam pada saat itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Idham Chalid sedangkan khatibnya Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution

Sekitar pukul 7.50 WIB shalat ‘Id pun dimulai. Presiden Soekarno berada di barisan paling depan. Di samping kirinya secara berturut-turut ada Abdul Harris Nasution, KH. Zainul Arifin, KH. Saifuddin Zuhri yang tak lain merupakan Menteri Agama. Sejak takbiratul ihram hingga usai rakaat pertama, suasana masih aman terkendali. Tragedi terjadi pada saat shalat memasuki rakaat kedua.

Cucu KH. Zainul Arifin, Ario Helmy, dalam catatannya sebagaimana dilansir oleh www.nu.or.id menggambarkan kejadian itu seperti berikut :

“Keheningan khusuk berlangsung khidmat melingkupi umat memuji Sang Maha Agung dalam ruku’ mereka pada rakaat kedua Idul Adha tersebut.

‘Sami’allahu liman hamidah,’ ucap imam KH. Idham Chalid. Belum sempat jamaah menyahuti seruan imam dengan ‘rabbana wa lakal hamdu,’ dari barisan ketiga jamaah bagian kiri, tiba-tiba pecah teriakan lantang seorang jamaah, ‘Allahu Akbar…!”, seraya tangannya mengacungkan pistol yang diambil dari betis kanannya.

Ia adalah seorang penembak tepat, mestinya sasaran tembaknya tidak bakal luput dari muntahan pelurunya, namun anggota pengawal presiden berhasil menepiskan tangan pembokong itu dengan sigap hingga senjata api sang penembak gelap melenceng ke sisi kiri target yang ditujunya, Soekarno?

‘Dor…!’ Peluru menyalak nyaring.

Orang-orang, termasuk imam bertiarap. Lalu suasana berubah kacau balau.

KH. Zainul Arifin dalam upayanya merebahkan diri di atas sajadah, malah jatuh tersungkur. Bahu kirinya terasa basah. Ketika dia mencoba meraba bagian tubuhnya yang terasa hangat, didapatinya buhul dasinya sampai terputus. Darah segar merembesi kemeja putih hingga ke jas luarnya. Sedikit lagi peluru bisa mengenai jantungnya.

‘Saya kena…,’ desah tokoh NU tersebut pasrah, di antara kekacauan di sekelilingnya.

‘La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim,’ begitu ucap kiai bermarga Pohan asal Barus tersebut. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia terus berdzikir, bertasbih. Menyeru-nyeru tuhannya Yang Maha Kuat…”

Selain KH. Zainul Arifin, ada empat tokoh lain yang juga mengalami luka-luka, yaitu KH. Idham Chalid, Pengawal Presiden Ipda Darjat dan Brigadir Susilo, serta pegawai istana Mohamad Noer. Belakangan, diketahui pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII dengan target utama adalah Bung Karno.

Memang tak ada korban jiwa pada kejadian Idul Adha berdarah tersebut. Akan tetapi, sejak itulah KH. Zainul Arifin menurun kesehatannya. Panglima pasukan Hizbullah pada masa Revolusi Fisik itu berulang kali masuk rumah sakit dan wafat sepuluh bulan kemudian pada 2 Maret 1963 setelah mengalami koma selama beberapa hari.

- ADVERTISEMENT -
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x