Nahdliyin, Kenali Anosmia-Dysgeusia: Hilangnya Aroma dan Indra Perasa

Gapura, NU Online Sumenep

Belakangan ini, masyarakat diresahkan dengan gejala hilangnya aroma dan indra perasa. Dalam ilmu kedokteran, kehilangan indra penciuman yang menyebabkan tidak dapat mencium aroma itu disebut dengan Anosmia. Sedangkan hilangnya Indra perasa disebut dengan Dysgeusia.

Keluhan yang satu ini akan berpengaruh pada ketidakstabilan hidup seseorang. Karena sudah tidak bisa lagi mencium dan merasa. Seperti, selera makan menurun, karena sudah tidak bisa mencium aroma aneka masakan, apalagi cita rasanya. Bahkan tidak bisa mendeteksi adanya potensi bahaya di sekitar. Seperti, bau kecoran gas, nasi basi, dan asap kebakaran.

Di Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, tidak jarang ditemukan masyarakat yang mengalami hal demikian. Konon, beredar kabar bahwa Anosmia-Dysgeusia merupakan gejala dari suatu penyakit yang saat ini sedang melanda dunia, yaitu, Covid-19. Apakah itu benar? Mari kita simak kesaksian dari dr. H. Slamet Riadi, Pengurus Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

Anosmia-Dysgeusia: Pertanda Positif Covid-19, Benarkah?

Perlu diketahui, Anosmia-Dysgeusia bukanlah penyakit. Melainkan gejala dari suatu penyakit. Kendati demikian, beberapa studi dan laporan kasus menunjukkan bahwa gejala tersebut merupakan salah satu keluhan yang dialami oleh penderita Covid-19.

“Orang yang mengalami Anosmia dan Dysgeusia belum tentu terkonfirmasi Covid-19, dan sebaliknya orang yang terkonfirmasi Covid-19 tidak mesti muncul Anosmia dan Dysgeusia. Jadi penderita keluhan ini belum tentu positif Covid-19,” ungkapnya kepada NU Online Sumenep, Kamis (22/7/2021).

Menurut Dokter di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Gapura ini, yang perlu dipahami oleh masyarakat, termasuk dalam hal ini Nahdliyin, bahwa keluhan itu bisa saja menular bilamana karena infeksi Covid-19. Namun jika karena faktor lain, seperti polip hidung, deviasi septum, tentu tidak akan menular.

Penyebab Gejala Anosmia-Dysgeusia

Hilangnya rasa penciuman dan perasa tentu merupakan persoalan yang serius dalam hidup manusia. Karena itu, menurut dr. Slamet, harus diketahui terlebih dahulu apa saja yang menjadi penyebabnya.

Untuk gejala Anosmia, bisa disebabkan karena flu, sinutisis, rinitis (alergi), kelainan tulang hidung, polip hidung, kerusakan saraf, faktor usia.

Sedangkan penyebab Dysgeusia antara lain, infeksi, peradangan, mulut kering, efek samping obat, kerusakan saraf, gangguan neurologis, gangguan metabolisme, merokok, dan penuaan.

“Para penderita Anosmia dan Dysgeusia yang disebabkan oleh infeksi seperti infeksi Covid-19 biasanya penularannya lewat percikan ludah atau droplet penderita Covid-19,” imbuhnya.

Tips Mengatasi Gejala Anosmia-Dysgeusia

Pria yang juga merupakan Ketua LKNU MWCNU Gapura itu juga menyebutkan ada beberapa tips atau langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk mengobati gejala Anosmia dan Dysgeusia. Jika penyebab utamanya karena infeksi Covid-19, tentu penanganannya sesuai dengan tata pelaksanaan Covid-19.

Begitupun juga sebaliknya, bagi penderita Anosmia dan Dysgeusia karena ada penyebab lain selain Covid-19, bisa disesuaikan dengan tata pelaksanaan penyebab utama dari gejala tersebut.

“Tips Untuk Mengatasi anosmia harus disesuaikan dengan penyebab utamanya jika karena infeksi Covid-19 penanganannya sesuai tata laksana Covid-19. Jika karena rhinitis, atau penyebab lainnya disesuaikan dengan tatalaksana dari penyebab utama itu,” tuturnya.

Bagi pasien yang mengalami Anosmia, dr. Slamet menyarankan untuk tetap berupaya melakukan latihan atau terapi penciuman untuk merangsang indra penciuman.

“Misalnya, latihan penciuman dengan menggunakan aroma yang berbeda seperti aroma lemon, kopi, minyak kayu putih dan lain-lain. Segera periksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat,” imbaunya.

Sedangkan untuk Dysgeusia bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Bila penyebabnya karena kekurangan mineral atau vitamin, konsumsi vitamin atau multivitamin seperti vitamin B12, B kompleks, dan zink dapat membantu.

Langkah Preventif yang Perlu Dilakukan

Mengingat situasi saat ini gencar-gencarnya penyebaran Covid-19. Bahkan angka kematian terus meningkat. Oleh karenanya, dr. Slamet juga mengingatkan agar masyarakat utamanya Nahdliyin untuk menyeimbangkan ikhtiar lahir dan bathin.

“Ikhtiar lahir bisa kita lakukan dengan cara, turut mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi Pandemi Covid-19, 3T (Testing, Tracing dan Treatment) serta mendukung percepatan program Vaksinasi Covid-19,” jelasnya.

Selain itu juga disiplin protokol kesehatan, meningkatkan imunitas tubuh agar tidak mudah sakit. Seperti, mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, tidur cukup dan berkualitas, lakukan aktifitas fisik minimal 30 menit/hari, kelola stress, lakukan hal-hal yang disukai, berjemur di bawah matahari 5-15 menit dua sampai tiga kali seminggu, dan mengonsumsi vitamin.

Sedangkan untuk ikhtiar bathin, dr. Slamet juga mengimbau agar masyarakat lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Memperbanyak amalan-amalan seperti, membaca Shalawat Thibbil Qulub, Shalawat Burdah, Rotibul Haddad, dan amalan-amalan lainnya

“Seraya bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar pandemi covid-19 segera diangkat dari bumi tercinta ini, amin,” pungkasnya.

Editor: A. Habiburrahman

- ADVERTISEMENT -
Ibnu Abbas
Pemimpin Redaksi NU Online Sumenep
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x