spot_img

Vaksin dan Bahaya Teori Konspirasi

Meski sudah lebih satu tahun sejak awal masuk Corona 2 Maret 2020 masih ada yang menganggap virus ini hanya bualan pakar, gorengan media atau kebohongan dan konspirasi elit global. Tak hanya di Indonesia, perdebatan Covid-19 dan vaksinasi menjadi subyek kontroversi yang menjelajahi cara pandang banyak ahli dan warga dunia.

Pada saat banyak orang berdebat soal virus dan vaksin, virus Corona sendiri terus merenggut korban dan bermutasi pada induk inangnya dengan berbagai varian yang menakutkan. Terakhir kita tahu ada varian delta yang dapat menular dalam hitungan detik hanya dengan berpapasan tanpa masker. Bahkan kata ilmuan virus terus akan bermutasi selama penularan masih menemukan obyeknya, seperti api yang menemukan kayu bakar. Sejumlah ilmuan bahkan menghawatirkan mutasi paling buruk dari virus ini.

Sibuk berdebat kita lupa untuk menerima realitas virus sebagai kenyataan didepan mata yang harus dihadapi dan ditangani, bukan diperdebatkan dan dikontroversikan dengan rasionalitas tak bersumber data ilmiah. Perdebatan kosong hanya akan mematikan kualifikasi kepakaran. Bahkan jumhur pakar kesehatan dunia pun diabaikan. Era kita saat ini benar-benar sampai telah memasuku era Post Truth yang meyakini kebenaran bersumber pada keyakinan semata, bukan pada fakta dan data otentik ilmiah para ahli.

Tapi namanya negara demokrasi, memang tak ada larangan berdebat, berbeda pendapat, karena berbagai ragam pemikiran dilindungi undang- undang. Tapi tegakah disaat banyak nyawa saudara kita sekarat dalam hitungan menit, kita habiskan energi kita berdebat untuk sesuatu yang tidak produktif.

Vaksin menjadi kebijakan banyak negara termasuk Amerika dan Inggris karena telah bisa menghambat laju penularan virus, dan menurunkan dengan siginifikan kasus Covid, kini negara itu telah menuju ke keadaan normal.

Israel juga contoh riil negara yang bisa mengendalikan wabah Covid berkat tingginya vaksinasi. Sebelum ditemukan vaksin Covid-19, angka kasus harian di Israel bisa mencapai 8.000 di masa puncaknya. Seiring dengan gerakan vaksinasi yang gencar, Israel mulai beranjak ke situasi normal, angka harian sudah di bawah 25 kasus.

Macam-macam sikap orang menghadapi Corona. Setidaknya yang dapat kita baca dari group WhatsApp, Twitter, Instagram, Facebook dan media sosial lainnya. Ada yang menggantungkan sama sekali kepada takdir Allah mengabaikan prokes dan ketaatan pada negara. Ada yang mengandalkan usaha prokes sama sekali mengabaikan usaha spiritual doa. Sementara mereka yang memiliki pemahaman Aswaja dengan benar mengakomodir semuanya, usaha prokes, pakai masker, cuci tangan, batasi mobilitas, hindari kerumunan, taat negara, mau melakukan vaksinasi dan juga usaha spiritualitas doa lainnya, dan terutama percaya pada takdir khairihi wasyarrihi minallahi ta’ala.

Ada dokter yang seolah tidak percaya Corona mempercayai puluhan ribu positif Covid, dan ribuan orang yang berujung kematian terjadi di depan mata disebabkan bukan karena virus Corona tapi interaksi antar obat yang berlebihan. Kajian ilmiahnya bersifat tunggal. Ada juga tokoh panutan yang ikut prokesnya saja tapi vaksinasinya tidak. Bila yang merasa pakar saja silang pendapat tidak mengikuti Jumhur kedokteran, maka kalangan awam makin bingung, dan sebagian menemukan pembenaran atas keyakinannya bahwa Corona benar dibikin manusia untuk menguntungkan elit global konglomerat farmasi.

Pada saat itu, pemerintah untuk menyelamatkan rakyatnya akan makin menghadapi jalan terjal yang berliku.

Center For Digital Society (CfDS) UGM melakukan riset dan kajian pada persepsi masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19. Hasil risetnya lalu mengetengahkan 6 isu Teori Konspirasi yang paling dipercaya warga, yaitu Vaksin kepentingan perusahan farmasi untuk meraup keuntungan, Vaksin membuat mandul, Vaksin strategi elit global memasang microchip di tubuh penduduk, Covid disebabkan radiasi sinar 5G, Covid dapat dicegah dengan kalung anti Covid, dan terakhir Covid buatan manusia.

Berbagai pakar, ilmuan dan ahli kesehatan dunia membantah teori konspirasi, menyebutkan kenyataan banyak penyakit dapat diberantas dengan vaksin seperti cacar, rubella, difteri, titanus, TBC, hepatitis B, campak, batu rejan, polio dll.

Mereka mengungkap fakta sebab vaksin inilah kini banyak negara mampu menurunkan secara dramatis kasus covid, rawat inap makin turun, bahkan kematian makin berkurang.

Kehawatiran sebagian orang bahwa vaksin dapat menyebabkan kematian tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Vaksin sendiri berfungsi mengebalkan, sementara virus mematikan.

Bila ada sebagian kasus yang berujung kematian bukan karena vaksinnya tapi lebih banyak karena screening pada penyakit kronis yang diderita orang yang hendak divaksin kurang ketat, atau memang didalam dirinya sudah ada virus corona yang tak terpantau karena belum diswab. Begitu penjelasan ilmiah para pakar kesehatan pada efek samping vaksin yang tidak sampai mematikan. Tapi semua dipadamkan seolah vaksinlah penyebab kematian.

Tuduhan bahwa vaksin menyebabkan kemandulan juga salah karena vaksin tidak mendekati DNA dalam sel.

Sementara terhadap teori konspirasi menanamkan microchip lewat vaksin, secara fisik chip tidak cukup kecil sehingga bisa disuntik dengan jarum. Selain itu vaksin Covid-19 adalah upaya kesehatan masyarakat sederhana kuno yang sudah berjalan sejak dahulu kala.

Tuduhan konspirasi ini bermula dari pemaknaan pada pernyataan Bill Gates dalam sebuah sesi diskusi awal pandemi yang memprediksi bahwa suatu hari nanti, kita semua akan membawa paspor digital untuk catatan kesehatan kita. Yang dimaksud beliau adalah kartu E-Vaksin, bukan microchif yang ditanam di vaksin, tapi kemudian digoreng oleh berbagai pelaku media dunia, sehingga
berkembang teori konspirasi Bill gates implan vaksin microchip magnetik untuk melawan virus corona tujuannya untuk pembantaian massal dan lainnya. Kebohongan terus menyebar ke seluruh dunia tanpa henti.

Apa Konspirasi itu?, Kata Ibu Siti Fadilah Supari Mantan Menteri Kesehatan adalah persekongkolan pihak kekuasaan dengan elit global pemilik kepentingan bisnis. Dalam arti sederhana Konspirasi adalah sesuatu yang tak alami tapi bikinan. Namun demikian konspirasi dalam konteks vaksin Covid lebih dekat dimaknai teori cocokologi yang tidak didasarkan pada observasi untuk menguji hipotesa. Tak ada bukti data kongkrit yang dapat menggambarkan Covid ini buatan manusia semisal dari bocornya senjata biologi China.

Terhadap tuduhan Vaksin konspirasi elit global untuk jualan bisnis farmasi, saya lebih setuju pandangan Pengurus PBNU KH. As’ad Said Ali yang menyebut bahwa kelompok anti vaksin itu adalah gerakan politik luar negeri yang disebutnya sebagai kelompok ultra liberal. Kelompok ini muncul tidak dari luar tapi justru dari internal kaum neo-liberalisme yang gagal mengendalikan globalisasi ekonomi, lalu menuduh konglomerat negara timur (China) bersekongkol dengan WHO sebagai biang kerok Covid untuk keuntungan farmasi saja. Tuduhan yang absurt dan tidak menemukan argumentasi ilmiahnya.

Ultra liberal ini juga menuduh konglomerat global (iluminaty) sengaja membuat virus untuk menjual vaksin. Tuduhan itu jauh panggang dari api argumentasi ilmiah, kecuali bahwa terjadinya virus alamiah ini mendorong negara timur pemilik sains dan modal seperti China membuat vaksin untuk menyelamatkan bangsa di dunia.

Bahwa ada yang menolak penjelasan ini itu sah saja, karena manusia memang selalu butuh penjelasan atas apa yang tidak atau diketahuinya. Karena itu maka dalam pemikiran Islam lalu muncul ilmu tauhid, fiqih dan akhlaq tashawuf, untuk menjawab kuriositas rasa ingin tahu manusia atas universalitas Islam itu sendiri.

Meski gegap gempita kontroversi tak dapat dihindari, tapi kepakaran tak boleh hilang. Ingat sejak awal munculnya virus, para peneliti internasional hati-hati menyimpulkan penyebab Virus ini, baru setahun kemudian awal 2021 Corona ditetapkan berasal dari kelelawar bukan dari kebocoran labolatotium Wuhan, bukan juga dari konspirasi elit global. Karena pakar harus punya ikhtiyat (hati-hati) dalam memberi kesimpulan.

Masalahnya adalah bagi awam yang tidak rajin baca literasi, tumpul nalar, tak punya daya kritis, akan mudah menerima teori konspirasi sebagai sebuah kebenaran sejati. Ingat kompetensi sains siswa Indonesia diantara siswa siswa di dunia berada pada peringkat 71. Jauh dari cerdas. Itu yang pelajar apalagi warga umum lainnya.

Ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj juga merasa kebingungan menjelaskan kepada warga yang tidak percaya Corona dan menolak vaksinasi. Beliau sebut nanti Nahdlatul ulama disebut tidak realistis, tidak rasional, bahkan Islam pun bisa dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan.

Karena itu maka kita harus sabar dan rajin mendidik warga akar rumput, karena provokasi medsos begitu menghantam bertubi-tubi tak pernah henti. Apa bahayanya Teori konspirasi ini?. Warga menjadi tidak percaya Corona, prokes tak akan ditaati, penyekatan akan dilabrak, negara dilawan, kekebalan tubuh tak akan dijaga. Ia akan bertindak menuruti keyakinan dan perasaannya sendiri. Bahkan akan mudah dipengaruhi untuk melakukan gerakan massa, atau bahkan subversif pada negara. Tak ada lagi rasionalitas, pada akhirnya rasa kebenaran perasaannya sendiri akan membunuh diri mereka sendiri. Semoga kita semua dilindungi.

Penulis :
Zubairi El-Karim
Wakil Ketua PCNU Sumenep, Dosen Stidar dan Pegawai Kantor Kecamatan Pragaan.

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x