spot_img

Dinas Kesehatan Sebut Kasus Covid-19 di Sumenep Menurun

Batuan, NU Online Sumenep

Corona virus disease merupakan wabah dan penyakit yang bisa menularkan pada manusia, serta skalanya tinggi. Covid-19 ini mendapat perhatian khusus dari World Health Organization (WHO).

Penegasan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sumenep saat acara Pondcast Covid-19 dengan tajuk ‘PPKM dan Vaksinasi di Sumenep’.
Acara ditayangkan di kanal YouTube TVNU Sumenep, Kamis (29/7/2021) di studio 1 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, Agus Mulyono menyampaikan, penularan wabah ini sampai ke Indonesia. Kini menyebar di 27 Kecamatan dan di 30 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Baik di daratan atau pun di kepulauan.

“Ada 169 RT yang skalnya menjadi merah. Sebab yang terkonfirmasi lebih 10 orang. Kasus ini mulai dimulai dari bulan Maret lalu hingga saat ini. Kurang lebih ada 1.900 kasus, yang sembuh 1.700-an, dan yang wafat 160-an,” katanya saat melaporkan berita terkini pada pemirsa.

Berangkat dari permasalahan ini, pihaknya merasa tidak mampu mengatasinya di sektor kesehatan saja. Sebab polemik semakin meluas, seperti muncul permasalahan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

“Untuk mengatasi permasalagan ini, kami memeranginya bersama-sama dengan Dandim dan Polres. 4 hal yang kami tekankan. Pertama, pencegahan lewat 5 M dan ditaati oleh masyarakat. Kedua, bagi yang dinyatakan positif, kami berupaya agar virus tersebut tidak tertular pada orang lain. Ketiga, menggalakkan vaksinasi massal,” terangnya.

Berdasarkan assessment survey kecil di 10 Puskesmas, kasus yang meninggal dunia dikarenakan tidak divaksinasi. Sedangkan berdasarkan hasil random sampling, setelah warga divaksinasi, rapid test, swab Polymerase Chain Reaction (PCR), dan swab antigen, sangat efektif menurunkan kasus tersebut. Hal ini didukung oleh para kiai dan stakeholder lainnya.

“Penyakit menular bukan hanya terjadi pada tahun ini. Secara faktual, imunisasi BCG, DPT 1, DPT 2, DPT 3, IPV, Campak dan Polio yang selama ini dilakukan pada balita tidak segaduh saat ini. Bahkan vaksin influenza dan meningitis yang disuntikkan pada jamaah haji juga tidak menyebabkan kematian. Fakta ini menunjukkan bahwa vaksinasi yang sejak lama berjalan puluhan tahun tidak membunuh manusia,” sergahnya.

Dirinya menegaskan bahwa, vaksinasi tidak akan membunuh manusia, tetapi mencegah virus dan memberikan kekebalan. Sebab data menunjukkan, mayoritas yang wafat tidak mendapatkan vaksinasi.

“Kekebalan ada 2, yaitu kekebalan alami yang diberikan Allah SWT dan kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi. Hanya 1 vaksin yang sampai detik belum ditemukan, yakni vaksin HIV AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome),” ungkapnya.

Dirinya mengajak pada warga agar tidak takut dirapid test antigen. Sebab tahap awal ini bisa mengetahui seseorang terkonfirmasi atau tidak. Seluruh alat memiliki sensitivitas dan kespesifikan dalam melacak virus.

“Baik varian lama atau pun baru, penularannya melalui kontak langsung dan erat. Semuanya tergantung pada daya tahan tubuhnya. Bahkan WHO mengeaskan bahwa Covid-19 saat ini sudah ada di udara. Oleh karenanya kami mengimbau untuk memakai masker. Jika tidak, maka virus tersebut akan masuk lewat hidung dan virus itu akan menempel di paru-paru. Ada pula yang mengatakan bahwa virus kali ini menempel di makanan,” imbaunya.

Di akhir acara, ia mengajak pada warga untuk tidak mempercayai berita hoks. Sebab negara tidak mungkin mengcoronakan warganya sebelum ada hasil yang akurat. Jika memang takut, pemerintah memberikan alat lain, seperti PCR.

“Ingat, setiap infeksi pasti panas. Agar tidak terinfeksi, mari kita sukseskan vaksinasi massal. Agar Sumenep tidak dikategorikan level 4. Alhamdulillah, kali ini di RSUD dan Puskesmas mulai menurun kasus ini. Jangan lupa, jaga kewaspadaan dan lindungi keluarga kita,” tandasnya.

Pewarta: Firdausi
Editor: Abdul Warits

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x