spot_img

Wakil Ketua NU Sumenep Maknai Filosofi Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan

Pragaan, NU Online Sumenep

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kaduara Timur, peringati hari Asyura dengan menghadirkan Kiai Ach Subairi Karim, Jum’at (20/8/2021) di Dusun Pesisir, Desa Kaduara Timur tepatnya di perbatasan Sumenep.

Sebelum menyantuni 13 anak yatim oleh NU Care -Lembaga Amil Zakar, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Pragaan, Kiai Subairi sapaannya menceritakan proses berdirinya NU kepada nahdliyin dan nahdliyat.

“NU didirikan lewat tirakat yang dilakukan oleh waliyullah. Kita mengenal dengan sebutan Syaikhona Muhammad Kholil bin Abd Latif. Jika warga NU ingin melakukan ziarah wali, kurang sempurna jika tidak nyekar terlebih dahulu ke maqbarahnya beliau di Kademangan Bangkalan. Jadi NU berdiri atas restu mbah Kholil yang kemudian dideklarasikan oleh Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari pada tahun 1926,” ujar Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep saat mengawali tausiyahnya.

Tak sampai di situ, tahun 1920 KH R As’ad Syamsul Arifin nyantri ke Kiai Kholil. kamudian beliau diminta untuk mengantarkan tongkat ke muridnya di Jombang, yakni muassis NU KH M Hasyim Asy’ari.

“Bukan sembarang tongkat, sebab tongkat yang diberikan pada muridnya adalah tongkatnya Nabi Musa AS yang dibawa oleh Nabi Khidir AS ke Kiai Kholil,” ungkapnya sambil menyitir cerita Ny Hj Makkiyah As’ad, putri mendiang KH R As’ad Syamsul Arifin.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut melanjutkan ceritanya, setiap malam Jum’at pesantren Kademangan memiliki ritual keagamaan. Tiba-tiba Kiai Kholil meminta kepada santrinya untuk mempersilahkan siapa pun yang ingin bertamu padanya.

“Siapa saja tamunya di malam Jum’at, persilahkan saja masuk dan menghadap Kiai Kholil,” imbuhnya sambil bercerita.

Ternyata, di malam Jum’at pertama, sang tamu berparas pengemis. Malam kedua, berpenampilan serdadu Belanda. Malam ketiga, Kiai As’ad melihatnya dengan berwajah tampan dan harum.

“Tamu tersebut adalah Nabi Khidir AS yang saat itu memberikan tongkat kepada Kiai Kholil. Banyak sekali santri saat itu terkecoh dengan penampilannya. Bahkan santri tidak sempat bersalaman,” terangnya.

Mantan Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan itu menegaskan, sebelum Kiai As’ad membawa tongkat tersebut ke Jombang, Kiai Kholil membaca surat Thaha ayat 17-23.

“Apakah itu yang ada di tanganmu, hai Musa? Musa berkata, ini adalah tongkatku, aku letakkan padanya dan aku pukul dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan padanya. Allah berfirman, lemparkanlah itu, hai Musa. Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman, peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya pada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain, untuk kami perlihatkan kepadamu dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar,” dawuhnya saat membaca potongan surat Thaha tersebut.

Tak hanya itu, simbol tongkat adalah simbol kewalian dan keulamaan. Sama dengan khatib memegang tongkat saat menaiki mimbar sebelum menyampaikan khutbah Jum’at.

“Tongkat menjadi simbol kultural keagamaan yang kuat dan tegak berdiri. Dengan demikian, jika PBNU menginstruksikan pada Ranting NU untuk menyantuni anak yatim di bulan Mauharram, maka kita selaku pengurus harus melaksanakannya agar shaf kita lurus dan satu komando,” pintanya.

Berselang kemudian, Kiai Kholil meminta lagi pada Kiai As’ad untuk mengantarkan tasbih kepada Kiai Hasyim di Jombang. Sebelum dikalungkan ke lehernya, Syaikhona Muhammad Kholil membaca Ya Jabbar Ya Qahhar sebanyak 3 kali.

“Saat Kiai Hasyim mengetahui pesan gurunya yang berbentuk dua kalimat Asmaul Husna, beliau mengatakan, barang siapa yang mengganggu dan memusuhi NU, maka ia akan hancur sendiri,” tegasnya saat menyitir dawuh Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Pria yang mengabdi di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding tersebut menyampaikan pesan Almaghfurlah KH Ahmad Fauzi Sirran bahwa, jika ingin mendapatkan kemuliaan dan barakahnya muassis NU, maka dianjurkan membaca Ya Jabbar Ya Qahhar sebanyak 313 kali.

“Saat ada surganya Kiai Fauzi, beliau pernah memberikan amalan ini kepada KH A Pandji Taufiq. Kali ini Kiai Pandji memberikannya kepada seluruh pengurus di tingkat cabang,” tuturnya sambil memberikan pesan masyaikh.

Kemudian ia menjelaskan, jumlah 313 tersebut untuk tabarukan kepada umat Islam yang pertama kali memenangkan peperangannya dengan jumlah prajurit sedikit dibandingkan denganmusah yang pasukannya ribuan.

“Jangan kaget jika warga NU tidak menentang ke organisasi. Karena yang mentirakati adalah waliyullah, yang mana telah melahirkan kiai-kiai besar di Nusantara,” tambahnya.

Dapat ditarik kesimpulan, tongkat simbol gerakan duniawi, sedangkan tasbih simbol gerakan ukhrawi.

“Secara simbolik tongkat adalah ideologi atau ajaran agar umat manusia tidak mengalami kesesatan. Berbeda dengan tasbih yang mengarah pada penyucian diri pada Allah SWT dan menyatukan potensi-potensi keulamaan menjadi satu kesatuan demi menegakkan moralitas sosial keumatan. Saat itulah Kiai Hasyim memantapkan keyakinan untuk mendirikan dan mengembangkan NU,” pungkasnya.

Editor: Firdausi

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x