spot_img

Pendidikan Islam dan Komunikasi Rasulullah SAW

Oleh: Lukmanul Hakim

Pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits, memiliki tujuan untuk membentuk manusia seutuhnya, yakni manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan seluruh kehidupannya sebagaimana yang telah ditentukan Allah swt dan Rasul-Nya demi mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Untuk memahami hakikat pendidikan Islam, maka harus memahami unsur historis pendidikan Islam itu sendiri.

Mempelajari sejarah pendidikan Islam sangatlah penting terutama bagi para pelajar Islam dan pemimpin Islam di era globalisasi ini. Dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam akan dapat mengetahui sebab kemajuan maupun kemunduran Islam. Mempelajari sejarah pendidikan Islam harus bermula dari generasi pertama, yaitu pendidikan di masa Nabi Muhammad SAW dan masa khulafaurrasyidin.

Pendidikan di masa Rasulullah (610-632 M) ketika di Makkah, bertempat di rumah Rasul sendiri, rumah al-Arqam bin Abi Arqam, dan Kuttab (rumah guru, halaman/pekarangan masjid). Inti materi yang diajarkan yaitu tentang keimanan, ibadah, akhlak, baca-tulis, dan berhitung. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah ialah memperkuat persatuan kaum muslimin dan mengikis sisa-sisa permusuhan antar beberapa suku. Hingga akhirnya beliau mempersatukannya. Mula-mula di antara sesama Muhajirin, kemudian di antara Muhajirin dan Anshar. Dengan lahirnya persatuan itulah persaudaraan kaum muslimin bertambah kokoh.

Rasulullah SAW adalah seorang komunikator yang handal. Seorang teladan luar biasa yang sepantasnya dijadikan panutan oleh umat. Ada beberapa tips yang diangkat dari teladan beliau dalam berkomunikasi. Pertama, Rasulullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara. Sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara. Kedua, Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka hukumlah dengan adil tanpa harus menghinakannya. Ketiga, memberi motivasi perbaikan diri kepada orang yang dihukum dan sudah menysali kesalahannya, bukan malah menghina atau mencemoohnya. Keempat, berkata baik ketika mendapat musibah. Dari sini, setidaknya umat Nabi harus berintrospeksi dan tidak menyalahkan siapa pun apalagi menghujat. Kelima, berkata baik atas orang yang sudah meninggal, kecuali untuk penulisan sejarah, boleh ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada. Keenam, Rasulullah berpesan kepada perempuan untuk berbicara dengan cara yang baik dan tidak mempermainkan suaranya. Ketujuh, berdakwah dengan cara yang terbaik yaitu dengan lemah lembut. Kalaupun harus berdebat, lakukan dengan cara yang paling baik.

Saat berkomunikasi, beliau berhati-hati dalam mengeluarkan tiap patah kata. Kepada orang yang lebih tua, Rasulullah sangat menghormati dan kepada yang lebih muda, Rasulullah menyayanginya. Apalagi kepada anak kecil, beliau sangat menyukai mereka. Bahkan ketika beliau bersama anak-anak kecil, beliau ikut bermain dengan mereka. Begitu sangat rendah hati Rasulullah SAW dalam hal mendidik orang-orang disekitarnya.

Ada bermacam-macam komunikasi yang dilakukan Rasulullah dalam menyampaikan dakwah dan mendidik lingkungan. Keberhasilan Rasulullah SAW mendidik para sahabat menjadi generasi terbaik, tak terlepas dari sistem dan metode mendidik yang digunakannya. Ada enam pilar yang menjadi tumpuan Rasulullah SAW saat mendidik para sahabatnya, yaitu lemah lembut, memberi pujian, memperhatikan waktu, bertahap, argumentasi yang jelas, dan mengurangi kesenjangan antara guru dan murid.

Dalam kajian Islam, motode pembelajaran sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW, mulai dari yang klasik hingga saat ini dikembangkan oleh para ilmuwan Barat. Bagaimana pun secara tidak langsung mereka terinspirasi dari agama Islam yang telah dicantumkan oleh Rasulullah SAW, seperti metode ceramah, metode dialog, metode tanya jawab, metode qishah (cerita), metode tamtsil (pemisahan), metode targhib (motivasi), metode tarhib (menakut-nakuti), metode qasam (sumpah), metode keteladanan, dan yang lain-lain.

Proses penyampaian materi yang dilakukan Rasulullah SAW dapat menjadi menarik dengan menggunakan metode yang tepat sesuai kadar materi yang sedang dibahas. Namun beliau juga tidak jarang dalam menggunakan metode bermain untuk menghilangkan suasana tegang. Sehingga setiap pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah SAW dapat diterima dengan baik serta menjadi amalan bagi peserta didik.

Dalam dewasa ini, yang dibutuhkan oleh peserta didik dan pendidik harus melengkapi satu sama lain. Saling memahami antara satu dengan yang lainnya. Komunikasi yang salah di antara anak didik dan pendidik akan mengakibatkan kesenjangan sosial, kelirunya pemahaman pada ilmu, dan berimbas pada buruknya pempraktikkan. Wallahu A’lam.

*) Mahasiswa Semester I Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pascasarjana (S-2) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, Guru Ngaji di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2016-Sekarang, dan Staf Biro Informasi dan Dokumentasi (Infoku) Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x