spot_img

Mengenang Tragedi G30SPKI

Komunisme berkembang di Uni Soviet yang dipelopori oleh Karl Marx dan Vladmir Lenin. Faham ini masuk ke Indonesia sejak masa kebangkitan nasional menjelang pasca kemerdekaan. Bahkan bisa mendoktrin warga sehingga melakukan pemberontakan pada pemerintah kala itu. Secara historis, tidak ada satu pun perintis kemerdekaan yang terpengaruh dan terjebak pada kubangan ini. Sebab mempelajari Marxisme tidak harus menjadi seorang Marxis apalagi berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada tahun 1955 PKI menjadi konstentan politik dan menjadi pemenang ke-4 setelah Nahdlatul Ulama (NU), Masyumi, dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Ini adalah bukti bahwa secara politik PKI dari dulu hingga sekarang tidak mampu menandingi NU. Sebab NU lihai dalam berpolitik, sehingga bisa mencegah gerakan makar PKI terhadap pemerintahan yang sah, yakni Presiden Soekarno.

Mengapa demikian? Karena politik NU terpola pada kaidah fiqhiyah yang lentur, sehingga NU dengan lantang berani melawan PKI. Walau pun penerapan kabinet berkaki empat yang secara demokratis melibatkan PKI. Dalam pertimbangan agama dan politik, NU mampu menyulitkan PKI yang saat itu KH Idham Chalid dipercaya menyusun kabinet dan menolak keterlibatan PKI. Jalan tengah yang ditawarkan oleh NU adalah membentuk dewan penasehat untuk dewan menteri dan membentuk dewan perancangan nasional yang bertugas menggerakkan pembangunan. Wajar Bung Karno menyukai gerakan NU, karena banyak memberi nasihat politik pada presiden yang saat itu PKI menjadi pesaing utama di istana.

Kesigapan NU Melawan PKI
Fenomena berdarah G30SPKI membuat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan dengan tegas bahwa menolak dilibatkan dalam dewan revolusi. Sebagaimana dikatakan oleh KH Abd Mun’im DZ, untuk menjaga diri, maka PBNU membuat 2 front. Front pertama berpusat di Matraman yang dipimpin oleh KH Abd Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri. Beliau juga didampingi oleh kader muda NU seperti Chalid Mawardi, Mahbub Djunaidi, Hamid Wijaya, Baidlowi Adnan, dan kalangan muda lainnya seperi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sedangkan front kedua dipimpin oleh HM. Subchan yang didampingi oleh pemuda Muhammadiyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Kesatuan Aksi Penggayangan (KAP) PKI.

Sebagai seorang pemimpin, Kiai Wahab berani menghadapi resikonya. Untuk mengantisipasi gesekan tersebut, beliau mengijazahkan berbagai hizib dan wirid kepada santri, pengurus NU dan pimpinan Badan Otonom NU. Melalui hizib tersebut mereka berani menghadapi PKI yang selalu meneror Nahdliyin sepanjang tahun. Dengan ketajaman insting Kiai Wahab, beliau meninggalkan pesantren di Jombang untuk bergerak menuju Jakarta demi meredam situasi yang semakin gawat dan mulai meruncing.

Meletusnya pembantaian dan penculikan Jenderal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), saat itu TNI dan Polri kurang sigap, sehingga NU menjaga dirinya sendri, karena teror PKI terus mengancam masyarakat. Sejak itulah jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah setiap malam membaca berbagai doa dan hizib sambil mengamati perkembangan. Selesai membaca hizib, para kader bersalaman pada Kiai Wahab dan Kiai Bisri. Masing-masing kader diusap kepalanya sambil berkata “Selamat berjuang, jangan takut menghadapi PKI.” Dengan doa dan wejangan Rais Aam PBNU, para generasi muda NU percaya diri dan berani menhadapi situasi genting yang tidak menentu lawan selalu memberikan ancaman.

Pada tanggal 5 Oktober 1965 muncul pernyataan yang berisi tentang tuntutan pada pemerintah untuk membubarkan PKI. Karena telah membunuh Jenderal, membantai para kiai, santri, dan warga NU. Lewat bekal fisik dan rohani, para pejuang bisa mengambil inisiatif untuk menghadapi PKI, walau pun terjadi bentrok berdarah. Sedangkan TNI masih belum melakukan perlindungan pada rakyat.

Seluruh elemen lumpuh, hanya NU yang tetap bertahan, tak tembus dari infiltrasi dan provokasi PKI. Karena NU bisa menyangga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan pemerintahan Bung Karno yang sah menurut hukum.

Dibalik Film G30SPKI dan Isu Bangkitnya PKI
Film G30SPKI yang diputar setiap bulan akhir bulan September dan penerbitan buku yang berjudul ‘Palu Arit Diladang Tebu’ seakan-akan kejam. Karena menggambarkan kekejaman PKI saat membantai para Jenderal dan Kiai. Perlu digaris bawahi bahwa, tidak semua sejarah yang diceritakan itu benar 100 persen. Karena musibah besar atau perang antar saudara tersebut terdapat konflik militer di dalamnya. Jika Lekol Untung ditengarahi bersekutu dengan PKI dengan membantuk 3 kelompok gugus tugas, yakni pasukan Pasopati, Pringgondani, dan Bima Sakti. Ternyata disebelahnya ada Jederal Soeharto yang konotasinya TNI-AD dan tiba-tiba namanya melambung ke khalayak.

Isu kebangkitan PKI yang getol digembor-gemborkan oleh oknum, hakikatnya dibangun atas kepentingan politik. Jika warga NU terjebak pada spektrum yang dimainkan oleh politisi yang tidak sependapat dengan pemerintah sah, maka secara otomatis akan tertarik pada permainannya. Isu tersebut membangkitkan macan yang sedang tidur, yakni Ansor, Banser, PMII, IPNU yang kala itu ikut berjuang melawan PKI. Tuduhan kepada presiden dan NU sebenarnya wujud ketidaksukaan mereka. Karena sejak dulu NU selalu menjaga ideologi, ukhuwah, dan menyangga pemerintahan yang sah, tetapi tetap kritis terhadap kebijakannya.

Berdasarkan sejarah, ada beberapa tanda-tanda munculnya PKI. Pertama, mereka menghidupkan kegiatan melalui organisasi kepemudaan, kewanitaan, pertanian dan lainnya. Organisasi tersebut sering membuat kegaduhan, memberikan ancaman pada masyarakat, merusak fasilitas pemerintah, tempat ibadah, membunuh aparatur pemerintah, dan para kiai yang menentang gerakannya. Kedua, saat di Jawa, PKI melakukan aksi sepihak pada masyarakat. Mereka suka merampas hasil panen warga dan mengeklaim tanah yang tidak jelas kepemilikannya. Dengan demikian, ciri-ciri tersebut masih belum ada di Indonesia. Oleh karenanya, kepada segenap warga tidak usah takut dengan manajemen isu yang mereka mainkan di berbagai jejaring media online. Saring terlebih dahulu berbagai informasi yang tersebar di media sosial. Wallahu a’lam

Referensi: Fregmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x