spot_img

Kekuatan Nahwu Sharaf Dalam Memahami Islam

Oleh: Zubairi El-Karim

Banyak ustadz penceramah maupun pengisi kajian agama di Media Sosial (Medsos) adalah alumni sekolah dan perguruan tinggi umum, atau lulusan pesantren salaf yang berafiliasi pada faham wahabi. Memang tidak semua, namun mayoritas diragukan kematangan keilmuan agamanya. Hal itu dapat dilihat dari cara mereka membaca ayat, hadits atau potongan-potongan maqalah Arab yang salah harakat dilihat dari teori ilmu Nahwu atau Sharaf.

Dari kajian banyak video ada terunggah misalnya Ustaz Riyadh Bajri membaca hadits ‘wakullu bid’atin dhalalah‘ dibaca ‘wakullu bid’atun dhalalah‘ mendammahkan kata bid’atin. Padahal dalam terori ilmu Nahwu itu susunan idhafah. Lafaz wakullu disebut mudhaf, adapun lafaz bid’atin adalah mudhaf ilaih, sehingga dibaca jar berharkat kasrah bukan berharkat dammah. Kalau kata kulla atau kullu bisa ditoleransi karena ma’thufnya bisa pada kalimat yang dibuang.

Berikut juga penceramah lain Dahrul Falihin, LC. membaca ‘kunna Nauudul Ijtima’ wasun’ut tha’am’. Yang benar ‘kunna nauuddul ijtima’a wasun’at tha’ami‘. Kata Nauudu itu artinya kami kembali, kalau Nauddu artinya kami menganggap. Lafaz sun’at tha’am dibaca nasab tanda nasabnya fathah bukan dammah, karena athaf ke lafaz al-Ijtima’a. Lafaz al-ijtima’a itu maf’ul bihi dari fi’il muta’addi nauddu.

Atau Ustaz Firanda Andirja yang mengaku tahu Nahwu Sharaf belajar dua bulan, ternyata salah juga membaca kalimat ‘wa’addina lahu fittasharrufi bihi‘ dibaca ‘waaddina lahu fittasharrufu bihi’ dengan mendammahkan lafaz at-tasharrufi. Yang benar dibaca fittasharrufi karena kemasukan huruf Jar fi

Selain itu ada juga ustaz Harist Abu Nauval membaca kalimat ‘waman istaktsara minhu fahuwa faasiqun, taruddu syahadatuhu’. Yang benar ‘turaddu syahadatuhu’ mabni majhul bukan ma’lum, yang artinya persaksiannya ditolak, bukan persaksiannya menolak.

Nampak sepele memang kelihatannya, namun jika dikaji secara mendalam, salah harakat bisa berakibat salah makna dan salah pengertian. Pada lafaz yang umum ada terjemahannya mungkin masih bisa ditoleransi tetapi pada kajian masalah kontroversial mendalam dibutuhkan kematangan ilmu alat Nahwu Sharaf agar pesan-pesan agama yang disampaikan tidak salah difahami dan tidak menyesatkan banyak orang.

Kebanyakan ustadz para penceramah, khususnya diluar Nahdlatul Ulama (NU) banyak mendasarkan pandangan agamanya pada tekstualitas agama. Jargon mereka Kembali kepada Al-Qur’an dan hadits, kebanyakan mengabaikan mazhab ulama fiqih dari madzahibul arba’ah Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Karya kitab ulama mazhab sendiri banyak berserakan dalam bentuk kitab kuning atau kitab tak berharkat yang hanya bisa dibaca melalui keilmuan Nahwu, Sharaf dan bahasa Arab yang mendalam.

Jargon “Kembali kepada Al-Quran dan Hadis” bukan kalimat yang salah. Benar kalimatnya tapi penggunaannya bisa salah. Apa mungkin kita yang awam langsung memahami isi Al-Qur’an hadits tanpa bantuan imam Mazhab. Bukankah kita tak pernah bertemu langsung dengan Nabi. Imam Bukhari saja menyeleksi kitab hadits sahih saja belajar dari gaya mazhab Syafi’i, bahkan Imam Bukhari masih termasuk murid Imam Syafi’i. Kitab hadits Imam Bukhari banyak diambil dari kitab pertama hadits yaitu kitab Muwatta’-nya Imam Malik yang berisi 100.000 hadits, ditulis Imam Malik selama kurun waktu 40 tahun.

Kampanye “Kembali ke Al-Quran dan Hadits memiliki motif terselubung yaitu agar umat Islam meninggalkan ulama mazhab, dan kita digiring untuk mengikuti ulama Wahabi mereka.

Orang yang tidak memahami ilmu alat cenderung memahami Islam hanya kulit luarnya saja, tidak memahami secara mendalam melalui tafsir para mufassirin, atau tidak memahami fiqih dari para mujtahid fiqih. Mereka cenderung menafsiri sendiri sesuai ra’yunya sendiri. Padahal orang yang menafsiri sendiri Al-Qur’an dengan tafsiran awam terancam masuk neraka. Jika dibiarkan maka setiap orang akhirnya akan bisa menafsiri Al-Qur’an dan hadits sendiri sesuai pendapatnya sendiri, atau berdasarkan imam mazhabnya sendiri yang sudah mengalami distorsi dalam memahami pesan agama.

Kelompok anti mazhab ini sesungguhnya sedang membuat mazhab baru yang direkomendasi sendiri sesuai keyakinannya. Di sinilah orisinalitas pemaknaan Al-Qur’an dalam ujian dan pada titik tertentu bisa menyesatkan diri sendiri dan orang awam lainnya.

Itulah kenapa anak warga NU dimondokkan puluhan tahun agar bisa memahami penafsiran agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Agar santri bisa memahami kitab klasik melalui teori Nahwu Sharaf dan bahasa Arab. Anak-anak warga Nahdliyyin dimondokkan ke pesantren yang kuat literasi Nahwu Sharafnya seperti Pesantren Lirboyo, Ploso, Al-Anwar Sarang Jawa Tengah, Sidogiri, Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Annuqayah dan pesantren Nahdliyyin lainnya, bukan sekedar agar mampu membaca kitab kuning, tapi agar bisa memahami isi pesan agama secara matang. Kelak diharapkan menjadi generasi yang bisa menyampaikan pesan agama kepada umat dari generasi ke generasi, tetap orisinil, kental nilai dan pengamalan keilmuan.

Kita tahu, banyak kalangan radikal terlibat aksi terorisme, itu hanyalah akibat dari memahami agama yang terdistorsi, akibat salah menyikapi bentuk negara demokrasi yang bukan negara agama, menganggap pemerintahan sah sebagai thogut atau setan. Pandangannya yang rigid (kaku) tekstualis, skriptualis justru lahir dari pembacaan dan pemahaman Al-Qur’an yang tekstual. Imam Al-Qarafi misalnya mengungkapkan bahwa cara berpikir tekstual, yang disebut dengan Al-Jumud ‘alal Manqulat (statis pada teks-teks nash) yakni Al-Qur’an dan Hadits saja bisa mengarah kepada kesesatan dalam beragama.

Salah memahami makna Al-Qur’an, tidak hanya sekedar berpengaruh pada ibadah ritual saja tetapi memiliki implikasi besar pada sistem interaksi sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.

Salah memahami agama bisa menjadikan orang masuk lingkaran terorisme, membunuh atau terbunuh sia-sia, sedang dirinya menganggap bahwa cara itu adalah satu-satunya cara yang benar menurut agama. Mereka termakan oleh anggapan dan keyakinannya yang salah, mau menjadi martir bom bunuh diri atau mati di medan laga yang dianggapnya sebagai jihad fi sabilillah.

Kiai-kiai salaf utamanya dari kalangan Nahdliyin adalah alumni pondok salaf. Salaf yang saya maksud benar-benar salaf bukan munaslif (mengaku salaf). Ulama dari kalangan Nahdliyin bukan alumni kajian daurah, halaqah atau liqa’ yang hadir di kampus-kampus besar, umum dan diragukan kematangan keilmuan agamanya, sebab tidak mendalam belajar ilmu alat. Bolehlah secara retorika keilmuan mereka terlihat handal, tapi ketika bicara konten keilmuan yang standar ulama mazhab, diragukan keilmuannya.

Pada titik ini, maka Ilmu alat Nahwu Sharaf dan bahasa Arab adalah cara paling efektif untuk dapat memahami kitab klasik dengan benar sebagai sumber ajaran Islam dari masa ke masa. Hukum mempelajari ilmu alat ini fardu kifayah, akan tetapi bagi yang ingin menyampaikan dalil-dalil agama sebagai penceramah yang sering bertemu publik maka hukumnya bisa menjadi wajib. Dalilnya ‘ma la yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajibun’. Ilmu alat bisa menjadi wajib kalau keberadaanya sebagai upaya memahami ilmu wajib ilmu Al-Qur’an.

Oleh karena itulah, kiai dan santri NU selalu mau berpayah-payah mempelajari ilmu alat dan segenap ilmu lainnya, berproses dengan penuh air mata, mondok, ngaji, wiridan, hiziban, tirakatan, tawasulan agar ilmu yang sampai kepadanya benar-benar datang dan diridhoi oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, melalui sambungan sanad yang benar dari para guru yang mulia, untuk memakmurkan kehidupan, bukan menyesatkan.

*) Wakil Ketua PCNU Sumenep, Dosen Stidar Ganding

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x