spot_img

Innalillahi, Kiai Imron Mustasyar NU Pragaan Wafat

Pragaan, NU Online Sumenep
Kabar duka telah tersiar lagi di sejumlah group WhatsApp Nahdliyin Sumenep, pasalnya Kiai yang dikenal dengan kealiman dan kezuhudannya, KH Imron Syahruddin wafat, Rabu (22/9/2020) malam, jam 23.23 WIB. Jenazah dikebumikan pagi ini di sebelah barat pesantrennya, yakni Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Pakamban Laok, Pragaan, Sumenep, Kamis (23/9/2021) jam 08.00 WIB.

Secara silsilah, Kiai Ahmad Irfan AW menjelaskan, garis keturunan Kiai Imron terdapat 3 jalur. Pertama, jalur Arongan. K Imron Syahruddin bin K Syahruddin bin Ny Ma’iyah binti K Sama’uddin bin K Harun bin K Abd Akhir Arongan.

Sedangkan untuk jalur kedua adalah Gerrasem, yaitu K Imron Syahruddin bin K Syahruddin bin Ny Ma’iyah binti Ny Sanuri binti K Abd Kiya bin K Muhammad Rowi Gerassem.

“Jalur ketiga adalah keturunan Sumber Anyar. K Imron Syahruddin bin Ny Zahroh binti K Abd Lathif bin K Ruham Kembang Kuning bin Ny Nuri binti K Muhammad Zubair Sumber Anyar,” tutur Kiai Irfan selaku Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Furqon Sabajarin Annuqayah Guluk-Guluk.

Di tempat yang berbeda, Kiai Abd Warits Anwar selaku menantu membenarkan kabar duka tersebut.

“Almarhum di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan menjabat sebagai Mustasyar. Walau dalam keadaan sakit, ketika mendengar kata NU, beliau langsung kelihatan sehat dan segar bugar. Seakan-akan beliau langsung sembuh,” kata Wakil Rais MWCNU Pragaan saat dikonfirmasi NU Online Sumenep.

Begitupun pula, saat Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep sowan ke Kiai Imron. Tiba-tiba beliau langsung sehat. Namun ketika tamu sudah pulang, kembali pada semula atau sakit.

“Banyak warga NU yang menyaksikan bahwa walaupun beliau sedang sakit, beliau menyempatkan diri untuk hadir ke acara yang digelar oleh NU walaupun duduk di atas kursi roda, seperti Hari Santri Nasional (HSN), Pekan Rajabiyah, dan lainnya,” kenang Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Pragaan itu.

Tak hanya itu, Kiai Warits melanjutkan, setiap ada acara NU, almarhum senang bercerita tentang sejarah masa lalu pada kader. Tujuannya adalah untuk memberi pelajaran bagi kader masa kini

“Beliau pernah bilang, pengurus NU zaman dulu, surat undangan saja bukan langsung disebar. Tetapi ditirakati terlebih dahulu agar menggerakkan jamaah dan jam’iyah,” pungkasnya.

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x