spot_img

Tradisi ‘Ter-Ater’ di Bulan Safar

Oleh: Lukmanul Hakim

Dikala memasuki bulan Safar, selain memperingati peristiwa bersejarah dalam Islam antara lain yaitu pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah, pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, perang Abwa, penaklukan Khaibar, dan Rasulullah mengutus Usamah bin Zaid kepada pimpinan prajurit Rum tahun 11 Hijriah. Bulan kedua setelah Muharram pada kalender Hijriah ini diperingati oleh sebagian masyarakat muslim di Nusantara dengan sejumlah tradisi.

Di Jawa Timur, ada Rebo Wekasan yang biasanya terjadi tiap Rabu terakhir bulan Safar. Rangkaian upacara adat Safaran nantinya akan berakhir di Jum’at Kliwon bulan Maulid.

Sementara itu, di Madura, ada sebagian masyarakat yang merayakan Safar dengan mengundang warga untuk doa serta makan bubur bersama dan ada pula ter-ater (mengantarkan) bubur ke rumah tetangga.

Tradisi ter-ater (dalam bahasa Madura) bubur Safar juga dilakukan warga Madura yang berada di luar Pulau Jawa Timur. Seperti di Singkawang dan Kalimantan Barat, ter-ater mulai dilakukan sejak hari pertama bulan Safar.

Warga setempat juga kerap menyebut bubur Safar itu dengan sebutan bubur merah putih. Hal ini terjadi lantaran bubur memiliki dua warna yakni coklat atau merah dan putih. Tradisi ter-ater, tidak hanya sekadar membagikan bubur, justru lebih menekankan pada mengikat silaturahim layaknya di hari raya. Hanya saja, bila di bulan Safar silaturahim menjadi kekhasan. Karena diembeli dengan membawa buah tangan berupa bubur merah putih.

Berkenaan asal-usul tradisi tersebut, memang belum ada referensi yang akurat. Kendati demikian banyak sebagian masyarakat utamanya di Jawa Timur telah mengadopsi cerita bubur Safar ini yang bermula dari ciptaan Raden Sahid atau Sunan Kalijaga.

Bubur Safar merupakan olahan dengan bahan utama tepung beras, gula merah, dan santan. Rasanya yang manis dan gurih, bubur ini merupakan kuliner hasil kebudayaan masyarakat Indonesia yang mengakar sejak Islam masuk di tanah Nusantara. Hingga kini, bubur Safar hadir sebagai simbol ungkapan rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Dalam suatu riwayat, jenis bubur ini dihadirkan dalam bentuk napak tilas terhadap peristiwa syuhadanya Sayyidina Husein (cucu nabi Muhammad) di padang Karabala oleh pasukan Yazid. Bubur merah ini menyimbolkan keberanian darah syuhada dari Sayyidina Husein dan pasukannya yang melakukan perang terakhir sekalipun dengan kekuatan tak berimbang. Sedangkan putih menyimbolkan kesucian atau kebenaran yang dibela oleh Sayyidina Husein.

Teksturnya yang kenyal dan lengket dapat diartikan sebagai sarana yang mampu membangun hubungan kebersamaan antar sesama. Meski terlihat sederhana, tetapi penuh sarat makna. Di dalam kehidupan, bubur ini sebagai simbol untuk persatuan.

Selanjutnya, makna dari tradisi bubur Safar juga memupuk umat Islam untuk bersedekah, saling berbagi dari rizki yang lebih. Selain itu mengajarkan kesederhanaan dalam bersedekah, tidak harus dengan uang dalam jumlah besar. Cukup dengan biaya murah (seperti bubur Safar) pun bisa bersedekah kepada orang lain.

Dengan adanya tradisi ini, masyarakat bisa berkumpul bersama dan berbagi sehingga kebersamaan antara elemen masyarakat tetap terjaga dengan baik. Hal yang paling penting lagi, harus diambil inti sari dari tradisi ini, yaitu kesadaran bersama untuk menyongsong kerukunan antar sesama.

*) Mahasiswa Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, Guru Ngaji di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2016-Sekarang, dan Staf Biro Informasi dan Dokumentasi (Infoku) Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x