spot_img

Pemetik Kelapa Buat Sang Nabi

Cerpen: Romi Afriadi

Hampir setengah dekade tinggal dengan tuanmu, kau sudah paham luar dalam kebiasaannya. Jika tuanmu bersenandung gembira dengan melantunkan lagu-lagu dangdut lama, itu pertanda akan banyak buah kelapa yang mesti kau petik hari itu. Sebuah pertanda kebahagiaan bagi tuanmu, sekaligus akan menghindarkannya dari omelan sepanjang hari. Namun pagi ini, tuanmu turun dari pintu belakang dengan muka masam, serupa limau purut yang berbuah di samping kandangmu. Tuanmu meletakkan sekenanya saja jatah makan pagimu dalam tempurung, nasi putih dengan sedikit sisa teri goreng yang sudah dikasih air.

“Sehari saja aku tidak mendengar mulutmu yang lebar itu tanpa gerutukan, mungkin aku akan bernazar seekor kambing. Berjasa sekali Tuhan memberimu mulut untuk bicara, karena sering kali kau gunakan. Tapi sayang sekali tak pernah kau pakai untuk mengucapkan yang baik-baik,” tuanmu muntab.

Kau sudah tak lagi heran dengan kondisi yang terjadi, bertahun-tahun hidup bersama tuanmu dan istrinya, membuat kau mafhum kehidupan apa yang dijalani keluarga ini. Istri tuanmu mustahil melewatkan hari tanpa menggerutu, tanpa makian, dan tanpa umpatan. Pagi itu hanyalah pengulangan-pengulangan yang semestinya, dan penyebab menggerutunya pagi itu kau pun tahu. Itu bermula ketika jamaah Subuh baru saja pulang menyeret langkah dari masjid. Seiring itu, corong masjid mengumandangkan pengumuman. “Diberitahukan kepada seluruh warga kampung Gempang, bahwa Sabtu depan akan diadakan peringatan Maulid Nabi di balai desa. Harap semua warga membawa jambau dari rumah masing-masing.”

Istri tuanmu yang baru saja berkisar dari kasur, sontak memulai parade menggerutunya. Dari celah pintu kayu di belakang rumah, kau bisa melihat gerak-geriknya yang menunjukkan ketidaknyamanan. Gerutunya beradu ribut dengan dentingan piring, sendok, dan gelas yang sedang dicuci. Dan masih berlanjut saat ia buang hajat pada kakus dekat kandangmu, seketika aroma menyengat lalu menusuk hidungmu. Tapi gerutunya tetap lebih nyaring dan khidmat untuk disimak.

Tuanmu baru saja pulang seusai istrinya selesai buang hajat. Dengan terompah putus dan tali berbeda warna, istri tuanmu lalu beringsut ke dalam rumah, seperti biasa menumpahkan ceramahnya pada tuanmu, menuntut agar lebih banyak uang dihasilkan. “Tak dengarkah kau barusan.” Istri tuanmu berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. “Aku tak mau tahu, minggu ini kau harus dapat uang lebih banyak, aku ingin menghidangkan jambau paling enak dibandingkan siapa pun di kampung ini.”

“Masak saja apa yang ada, tak ada penilaian untuk jambau terbaik dalam acara itu.”

“Aku sudah muak dikatai-katai orang hanya bisa masak makanan receh. Sesekali aku juga mau masak rendang daging.”

“Memperingati Maulid Nabi itu tidak harus dengan seremoni,” jawab tuanmu.

Istri tuanmu lalu mengucapkan sumpah serapah, “Dasar lelaki sesat. Jangan kau menyamakan adat di sini dengan ajaran yang dulu kauanut. Jangan-jangan kau masih meyakini ajaran yang dulu kau agungkan itu.”

“Tak usah kau bawa-bawa masa lalu, tahu apa kau dengan itu semua,” tuanmu jadi naik pitam.

“Memang,” istrinya tak mau mengalah. “Ajaran sesat yang suka sekali mengkafir-kafirkan orang.”

Seperti yang sudah-sudah, pertempuran akan terjadi. Apa yang bisa dijangkau seketika akan jadi korban emosi yang tersulut. Periuk nasi berhamburan ke belakang rumah, piring kaca pun akan berderai menghantam tembok.

***

Kau sudah duduk di atas setang sepeda yang disandarkan tuanmu di tiang depan rumah. Kau siap-siap berangkat memetik buah kelapa, ada dua batang kelapa di kampung lama, kata tuanmu. Sembari menunggu, kau memperhatikan istri tuanmu yang sibuk dengan batu seukuran telapak tangan di tangannya. Saat ini musim kerupuk jengkol, tiap rumah seperti berlomba untuk membuat kerupuk jengkol. Musim yang kata istri tuanmu berhubungan dengan bau kakus yang menyengat dahsyat, sebagaimana yang kau hidu pagi tadi.

Kau memperhatikan istri tuanmu memukul jengkol yang telah dibelah dan direbus semalaman. Awalnya jengkol itu diletakkan dua sampai tiga biji di atas karung goni yang dialas dengan plastik bening tipis. Lewat beberapa pukulan, jengkol itu akan ringsek untuk selanjutnya di satukan dan dibentuk menjadi pipih. Demi kesempurnaan, istri tuanmu menggelindingkan botol sirop ABC pada jengkol itu agar benar-benar lebar dan besar. Sebagai langkah akhir, kau lihat istri tuanmu meletakkan kerupuk yang masih lembab itu pada karung goni, lalu menjemurnya.

“Semua ini kulakukan berdasarkan cinta pada Baginda Nabi. Semoga saja kerupuk ini bisa aku jual dengan harga yang tinggi, agar aku bisa memasak makanan yang enak saat peringatan Maulid Nabi mendatang.” Istri tuanmu memulai kalimat itu saat tuanmu muncul di balik pintu dan berakhir saat kayuhan sepeda tuanmu menjauh.

Kau meninggalkan pemandangan ibu-ibu pembuat kerupuk jengkol saat mulai memasuki kampung lama, namun gema pukulan batu yang berbenturan dengan lantai masih terdengar samar. Memasuki kampung lama, kau melewati jembatan gantung yang banyak dikunjungi anak-anak muda. Tak jauh dari situ, terpampang pula sebuah surau usang yang di sampingnya terhampar kuburan orang-orang lama, serta rumah-rumah panggung yang sudah dimakan zaman. Di sekitar rumah panggung itulah, terdapat banyak tumbuh pohon kelapa.

Hampir setengah dekade ikut dengan tuanmu, kau banyak tahu seputar masa lalunya. Dalam kayuhan sepedanya, tuanmu sering bercerita dalam beragam kesempatan, seakan kau adalah pendengar baik yang paham segala masalahnya.

“Istriku itu boleh mengataiku apa saja. Tetapi jika dia sudah mengungkit masa laluku yang berkaitan dengan pemahaman agama, aku tidak pernah bisa terima.”

Kau mendengar lagi cerita itu, bahwa pada masanya, tuanmu merupakan pengikut salafi yang taat. Tuanmu bergabung atas ajakan salah seorang tetangganya saat ia tinggal di kota. Tuanmu sering ikut pengajian di masjid salaf. Sesekali tuanmu ikut pula berdakwah, menyeru orang-orang agar berbondong-bondong masuk golongan salaf. Semakin banyak penganut, kian banyak pula yang akan selamat, begitu katanya. Sebab ajaran itu langsung berlandaskan Al-Quran dan Hadis Nabi.

“Lagi pula, apa salahnya sebagai pengikut salaf. Kelompok itu tidak sesat. Walau akhirnya aku juga sadar, ajaran salaf itu tidak cocok diterapkan di kampung ini. Kau tahu kenapa? Karena orang di sini, lebih memandang adat istiadat.”

Tuanmu masih menggumam sepanjang jalan. Sepeda berbelok ke kiri, ada sebuah batang kuini yang kebetulan sedang berputik. Kau coba menyambar putiknya untuk dijadikan santapan, namun urung terjangkau.

Tuanmu lalu melanjutkan lagi ceritanya, bahwa ia masuk dalam kelompok salaf karena tingginya rasa persaudaraan. Itu ikut pula menolong ekonominya yang memang kekurangan. Bagi tuanmu, ajakan untuk bergabung dengan salaf semacam keajaiban Tuhan untuknya. Tuanmu mendapatkan kemudahan. Jika lapar, banyak sekali orang yang ingin membantunya. Kadang ia tinggal berkunjung ke masjid, di situ banyak makanan dari para dermawan. Sesekali tuanmu juga turut berpuasa sunnah lalu berbuka puasa saat salat Magrib. Meski tak jarang pula ia harus berpura-pura puasa pada kondisi tertentu, karena tak enak dengan kawan lainnya.

Walau tak sempurna, itulah salah satu fase kegemilangan dalam hidupnya. Tuanmu malah bersyukur diperkenalkan dengan salaf, sebab tuanmu berangkat dari masa lalu yang buruk. Salaf mengangkat derajat keimanannya meski dulu sering pula ia terpaksa berbohong. Tuanmu rajin mendirikan salat selama berada dalam lingkungan orang-orang salafi itu. Kini, setidaknya dua kali sehari, ia pun masih tetap menyeret langkahnya menuju masjid untuk saat berjamaah.

Tuanmu berkisah pula, betapa dulu ingin mendapat jodoh seorang perempuan salihah, perempuan yang begitu takut menampakkan auratnya. Namun Tuhan urung mengijabah doa itu, lalu memutuskan menikah dengan istri sekarang. Tuanmu pindah ke Gempang, lalu kau bertemu dengannya. Lalu bertualang dari batang kelapa ke batang kelapa lainnya.

***

“Kita sampai, turunlah dan mulailah memanjat!”

Kau segera beraksi. Batang kelapa yang sedikit bengkok itu cukup tinggi. Kau mengamati batang kelapa itu, melihat apa ada sesuatu yang bisa mencelakakanmu. Beberapa batang kelapa memang terdapat serangga atau sarang tempoa yang bisa menyerangmu. Namun, belum sempat kau mengamati dengan saksama, tuanmu lebih dulu membentak.

“Cepat!!! Tidak ada sesuatu di atas sana yang bisa membahayakanmu,” hardik tuanmu seakan bisa membaca pikiranmu. Kau pun serentak langsung tergopoh-gopoh memanjat.

Sesampai di puncak, kau melihat ada dua tandan kelapa yang harus kau jatuhkan. Tandan paling bawah, semua kelapanya telah menghitam semua, kulitnya sudah mengerut. Tandan satu lagi, masih ada sebagian buah kelapanya yang masih menguning. Tuanmu menyebut buah seperti itu dengan nama piawan, belum terlalu masak, tapi sudah terlewat tua. Kau praktis tak terlalu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan tandan pertama, setelah dipilin dan diakhiri dengan satu gigitan, kelapa itu akan terjun bebas dengan sendirinya. Namun saat beralih ke tandan kedua, kondisinya berbeda. Buah yang masih menguning, masih sukar untuk dipilin. Tak pelak itu membuat tuanmu murka dan hardikan pun menggema dari bawah. Dari ketinggian, kau melihat tuanmu memungut kerikil untuk dijadikan peluru katapel yang senantiasa tergantung di lehernya.

“Dasar beruk sialan.”

Batu yang melayang menujumu, memaksamu mengambil langkah untuk menghindar.

“Jatuhkan kelapanya, kita harus cepat mengumpulkan kelapa hari ini. Kau apa tidak dengar dari pagi tadi istriku terus menggerutu. Hasil jual kelapa ini akan dijadikan untuk biaya Maulidan. Kau saat ini sama saja memetik kelapa buat sang Nabi,” ungkap tuanmu.

Tuanmu memang berubah jadi beringas saat kau memanjat kelapa. Teriakan, hardikan, atau sentakan tali yang menjerat lehermu akan susul-menyusul saat kau dinilai main-main dalam melaksanakan tugas. Meski demikian, kau tetap menganggap tuanmu ini lelaki yang baik. Setidaknya dibandingkan tuanmu yang dulu, seorang lelaki paruh baya yang kerap menghajarmu dengan sekerat kayu jika kau berbuat ulah.

Selesai memanjat, tuanmu memberimu air kelapa yang langsung dibukanya dengan parang yang tersampir di pinggang. “Kau minumlah sepuasmu, masih ada satu batang lagi yang harus kau panjat. Kau harus memanjat dengan sigap. Ingat kataku, pekerjaanmu dalam minggu ini sungguh mulia. Seluruh kelapa yang kau ambil akan dipergunakan warga untuk membuat masakan pada saat Maulud Nabi. Kaulah pemetik kelapa buat sang Nabi.”

Pada hari-hari berikutnya, tuanmu mengajakmu berkeliling ke setiap rumah warga yang memiliki batang kelapa, singgah dan menanyai apakah ada buah kelapa yang bisa diambil. Karena peringatan Maulid Nabi semakin dekat, ada-ada saja warga yang minta kelapanya dipanjat. Tak jarang, dalam satu batang kau hanya mengambil empat hingga lima buah kelapa saja yang layak untuk dijatuhkan. Namun karena banyaknya batang kelapa yang mesti kau panjat, tak ayal, jumlah kelapa bagian tuanmu terkumpul cukup banyak.

Tuanmu akan mengupas sabut kelapa dan sedikit menyisakan di beberapa bagian untuk dicungkil sebagai tali pengikat yang menyatukan kelapa. Saban sore, sepeda tuanmu akan terisi penuh buah kelapa yang digantungnya di setang atau pelana bagian belakang. Sesampai di rumah, ia akan mengumpulkan dan menghitungnya di bawah meja dekat dapur. Disaat bersamaan, istri tuanmu tetap menggerutu, “Harga kelapa sedang jatuh, kau pikirkanlah bagaimana mencari uang berlebih. Maulid Nabi tinggal dua hari lagi.” (*)

Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Menamatkan studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Cerpennya pernah dimuat di media cetak dan Online, juga pernah termaktub dalam buku antologi Burung Gagak dan Isyarat Dari Sepotong Surat, (Poiesis Publisher, 2020), dan Balada Orang Pesisiran (Unsa Press, 2021).

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x