spot_img

Puisi Fadhil Sekennies

Anatomi Palestine

/1/

Palestine, bertahun-tahun kau bertahan dengan kecemasan
Terombang-ambing dengan jutaan lengking dan bising mesiu serta peluru
Amsal virus-virus corona yang di catat dunia
Berjalanlah keresahan dan kecemasan mengembara, mengeja kata
Mengikis musim pancaroba saat rindu dan cinta hanya bayang fatamorgana
Iman dan amin kau peluk sepanjang hikayat
Seperti risalah nabi: wasiat paling abadi

/2/

Dari ujung mata pena, malam-malam purnama
Aku melihat wajahmu bercerah-cerah kentara
Kau lepas segala cemas, ketika hari lalu yang ganas
Angin riuh, siang-malam begitu rusuh
Dari kisah yang mensejarah, aroma darah yang lungkrah
Mata pena terus menulis manis anatomi wajahmu
Meramal masa depan, di selembar malam yang terang

/3/

Wajahmu terlalu sempurna di sepanjang kata-kata
Hingga berkali-kali aku ingin pula berteduh dan bersimpuh
Saat wangi keringat wasiat nabi memanggil dalam lembaran kitab
Biarlah kata-kata yang bernyanyi, dan aku bersembunyi dalam tubuh sepi
Malam menuju pagi, musuhmu telah abadi menjadi puisi
Kau tak peduli, dan puisiku terus bernyanyi

/4/

Lihatlah, aku berada diantara bait kata paling merdeka
Kemenangan yang kau nantikan sepanjang puluhan tahun
Bergerimis manis di tanah juniku, pagi berpendar begitu indah di matamu
Mengurai rahasia sedih yang pernah kau peram
Mungkin sebagai isarat surat cinta yang memikul deru rindu merdeka
Atas keriuhan gusar dan gemetar tiap kali mesiu menyentuh tanahmu
Jatuh ke tubuhmu, sebelum akhirnya menjadi puisi sekali lagi

/5/

Palestine, akhirnya kau datang mengetuk-ngetuk pintu kalbu
Jutaan rindu dan miliyaran aksara cinta bergema ke seluruh dunia
Malam-malam bergema takbir kemenangan
Pagi dengan matahari dan puisi yang menari-nari
Di tubuhmu: wasiat nabi semakin abadi

Mata Pena, 26-9 Juni-Juli 2021

Fragmen Pandemi

jalan menuju hatimu kurasa masih sunyi
orang-orang datang dan kembali pulang
membawa bunga, mengantungi airmata.

berpuluh-puluh waktu, kudengar kabar
jalan menuju hatimu selalu sunyi
mekar oleh airmata dan hujan duka.

pernah kucatat segala yang datang ke hatimu
untuk kujadikan map kecil dalam jalan ingatan
bila suatu waktu tangan ingin sekali menulis
dan duka negri telah bergerimis tipis
entah, kau ingin mengabarkan apa lagi padaku?
setelah mata pena menulisi banyak puisi.

mata pena, 24 Juli 2021

PPKM

Tak ada penyair hari ini
Tak ada puisi yang abadi
Orang-orang bermasker puisi
Dirahasiakannya segala bunyi

Bahasa ibu menjadi pelukanku
Lugu, lucu, menghibur sepanjang waktu
Kita tercipta dari duka yang sama
Namun berbeda dalam rasa

Dipaksa bertahan dengan kepura-puraan
Dibiarkan tersiksa oleh sejuta alasan
Tuhan, adakah jalan lain
Selain menjadi orang asing?

Mata Pena, 24 Juli 2021

Takbir Kesunyian

Takbir itu sengaja kurahasiakan
Sengaja bunyi suara tak kunyaringkan
Sebab di luar cuaca masih resah
Kembang maaf alam belum merekah

Mata Pena, 19 Juli 2021

*Fadhil Sekennies, nama pena dari Moh. Fadil Hasan. Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Mengabdi di LPI Al-Qodiri Pakondang Rubaru Sumenep. Bergiat di Majelis Sastra Mata Pena (MSMP), Komunitas Penulis Bekasi (KPB) dan Komunitas Penulis Al-Qodiri (KOPI). Puisi-puisinya tersiar di beberapa media dan antologi komunal. IG: @sekennies, FB: Fadhil Sekennies, no. WA: 082197010285, Email: mohfadilhasan321@gmail.com.

 

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x