spot_img

Rumah Sebagai Sekolah Terbaik Di Masa Pandemi

Judul Buku : Rumahku Sekolah Terbaikku
Penulis : Nur Sillaturohmah H.,
Penerbit : Qaf Kreasi Media
Tebal : 292
Cetakan : Pertama, Juli 2021
ISBN : 978-623-97151-0-6
Peresensi : Shafwan

Di masa pandemi Covid-19 banyak sekali pendidik, siswa, maupun mahasiswa yang tidak mendapatkan pendidikan secara efektif. Buku ini hadir untuk memberikan pemahaman-pemahaman terkait pendidikan khususnya pendidikan dalam Islam. Buku ini sangat memberikan pencerahan kepada peserta didik kedepannya, dan orangtua yang akan mendidik anak-anaknya di rumah sebagai ganti pendidikan dalam sekolah untuk sementara waktu.

Kita semua mengetahui bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah keimanan kepada Allah Swt. Mereka memikul amanah tersebut sejak ditiupkan roh di dalam Rahim sang ibunda. Adapun kedua orangtua, merekalah yang diharapkan akan terus menjaga dan mempertahankan fitrah tersebut hingga tutup usia dan bertemu dengan Rabbnya.

Islam memang Agama yang luar biasa sempurna menjelaskan dan memberikan bimbingan dalam segala hal kehidupan manusia. Apalagi terkait dengan mendidik anak yang akan menjadi penerus kehidupan dan perjuangan kita. Islam sangat memperhatikan segala sesuatu secara detail. Tidak hanya memberikan bimbingan dan tuntutan kepada kita saat anak tersebut telah lahir di dunia. Akan tetapi, Islam mengajarkan kepada kita untuk melakukan ikhtiar tersebut bahkan puluhan tahun sebelum kelahirannya, yaitu dengan mendidik diri kita sebagai pembawa benih-Benih mereka, terutama calon ibu yang akan mengandungnya [hlm 47].

Mendidik dalam Islam memiliki berbagai makna yang luas mencakup banyak hal, bukan hanya sekedar aktivitas mentransfer ilmu pengetahuan dan memberikan pengajaran. Dalam konteks Islam, pendidikan secara bahasa ada tiga kata yang digunakan, yaitu; at-tarbiyyah, at-ta’lim dan at-ta’dib. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang saling berkaitan, yang sesuai untuk pemaknaan pendidikan dalam Islam.

Kata at-tarbiyah; berakar dari tiga kata, yakni pertama berasal dari kata rabba-yarbu yang artinya bertambah dan bertumbuh. Kedua, berasal dari kata rabiya-yarbi yang artinya tumbuh dan berkembang. Ketiga, berasal dari kata rabba-yarubbu yang artinya memperbaiki, membimbing, memimpin, menjaga dan memelihara. (Hlm. 20)

Sedangkan kata at-ta’lim secara bahasa berasal dari kata ‘allama-yu’allimu artinya mengajar. Adapun secara istilah adalah sebuah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadi penyucian (tazkiyah) atau pembersihan diri anak dari kotoran dan keburukan.

Adapun kata at-ta’dib berasal dari kata ‘addaba yu’addibu artinya memberi adab. Secara istilah adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang dirinya sebagai makhluk, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Allah SWT. Ta’dib lebih lengkap sebagai term yang mendeskripsikan proses pendidikan Islam yang sesungguhnya.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sabda beliau: “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian (Muhammad) dan keluarganya serta membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, di waktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan Kekasihnya.” (HR. Tabrani dan Ad-Dailani).

Di Zaman kita ini hampir semua orang merinteraksi dengan media massa mulai dari bayi hingga orang tua. Disadari atau tidak, tentunya keberadaan media massa ini juga mempunyai pengaruh besar dalam pendidikan anak-anak. Bahkan, sempat ada yang mengatakan, bahwa guru pertama anak adalah TV dan gadget. Oleh karena itu, sebelum persepsi yang demikian menjadi umum dikalangan masyarakat Indonesia tentunya. Buku ini hadir dengan memberikan penjelasan terkait proses pendidikan mulai dari saat masih berwujud nutfah sampai usia baligh (9 Tahun ke Atas).

Pentingnya pendidikan berlangsung di rumah pada masa musim sekarang ini ialah pada usia 0-6 tahun, tentunya pada masa ini personal anak belum baligh atau tamyiz. Melatih anak untuk menyukai shalat adalah sebuah aset terbesar bagi orangtua sebab shalat merupakan amal pertama yang ditanyakan kelak di hadapan-Nya. Baik shalatnya maka baik juga seluruh amalnya begitu pula sebaliknya.

Perlu kita ketahui juga bahwa mengerjakan shalat ini ada dua jenis, yaitu mengerjakan gerakannya dan bacaannya. Karena yang kita hadapi usia sebelum tamyiz maka kebiasaan apapun akan menjadi program bawah sadar anak-anak kita. Pada usia tersebut cukup bagi kita untuk mengajarkan gerakan yang benar. Melihat bagaimana kita takbir, rukuk, I’tidal, sujud dan tahiyyat dengan benar, meskipun mereka baru bisa menirukan sekadarnya. (Hlm.78) Maka, semua hal yang terkait pendidikan anak bisa diajarkan oleh kita sebagai orangtua dari rumah dengan baik.

Buku ini memiliki kelebihan dari segi bahasa yang sederhana sehingga dibaca siapapun dapat dipahami dan tulisan yang tersusun rapi. Dari sekian kelebihan, buku ini juga ada kekurangan di dalamnya. Dalam buku ini, ada beberapa kekurangan diantaranya tidak tertulis ayat -ayat Al-Qur’an dan hadits kecuali hanya terjemahan  seperti pada halaman 73-80 sehingga pembaca masih kesulitan mencari teks arabnya. Akan tetapi, meskipun ada sebagian kekurangan dalam buku ini, buku ini sangat cocok bagi Mahasiswa khususnya Jurusan pendidikan Islam, orangtua yang mau mendidik anak-anaknya di rumah, dan guru atau dosen untuk membimbing peserta didiknya untuk masa depan gemilang.

Shafwan, Mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan (IDIA), Fakultas Tarbiyah Prodi PAI, Aktif diorganisasi Aliansi Jurnalis Muda IDIA (AJMI).

Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi
POST TERKAIT
x