Categories:

Prediksi Tahun Baru Islam 1444 Hijriah Menurut Kriteria MABIMS

- Advertisement -

Oleh: Fathurrozi

Sebentar lagi, kita akan menyambut tahun baru 1444 Hijriah. Umat Islam biasa menyambutnya dengan membaca doa akhir dan awal tahun pada saat sebelum magrib di tanggal 1 Muharram. Hal tersebut dikarenakan konsep pergantian penanggalan dalam putaran kalender hijriah dimulai sejak Matahari terbenam.

Penentuan awal bulan Muharram seringkali mengundang perdebatan di kalangan masyarakat, karena terdapat beberapa amaliah ibadah yang dikaitkan dengan waktu (penanggalan). Pada tanggal 9 Muharram umat Islam disunnahkan berpuasa yang dikenal dengan Puasa Tasua’, demikian juga pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan Puasa Asyura’.

Sebagaimana jamak diketahui, penentuan awal bulan hijriah secara Fiqih dapat ditempuh dengan cara rukyatul hilal dan menyempurnakan bulan sebelumnya 30 hari (istikmal). Jika hilal berhasil dirukyat pada tanggal 29 bulan hijriah, maka keesokan harinya adalah bulan baru. Namun jika tidak, maka harus disempurnakan menjadi 30 hari.

Seiring dengan perkembangan zaman, gerak, kondisi dan posisi benda langit dapat diprediksi secara akurat dengan perhitungan astronomi (hisab), termasuk posisi dan kondisi hilal. Perkembangan ini berdampak pula terhadap penentuan awal bulan hijriah, yaitu rukyatul hilal, istikmal dan hisab (dengan kriteria tertentu, seperti wujudul hilal dan imkan rukyat).

Awal bulan Muharram 1444 Hijriah dapat diprediksi dengan perhitungan astronomis. Elemen pertama yang harus diprediksi adalah terjadinya konjungsi, yaitu keadaan Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis bujur ekliptika. Secara perhitungan astronomis, konjungsi akhir bulan Dzulhijjah terjadi pada Jumat Legi, 29 Juli 2022, jam 00:54 WIB.

Elemen selanjutnya adalah kondisi Hilal pada saat Matahari terbenam tanggal 29 Juli 2022. Tinggil Hilal pada saat hari konjungsi di seluruh Indonesia berkisar 5,6 derajat – 7,8 derajat (jarak hilal dari ufuk mar’i), sedangkan elongasinya (jarak sudut Bulan-Matahari) berkisar 7,7 derajat – 8,8 derajat.

Secara sederhana, Hilal adalah bagian dari Bulan yang tersinari oleh Matahari. Cahaya Hilal yang baru lahir tentunya sangat tipis, sedangkan pada saat pengamatan (rukyat) cahaya syafaq (senja) cukup kuat. Hilal membutuhkan ketinggian dan jarak tertentu dari Matahari untuk dapat dilihat.

Semakin tinggi posisi Hilal, maka gangguan cahaya syafaq semakin redup. Semakin jauh posisi Hilal dari Matahari (elongasi), maka fisis Hilal semakin tebal. Dua faktor inilah yang dijadikan parameter kriteria imkan rukyat/visibilitas Hilal (Hilal mungkin dapat dirukyat).

Jika merujuk kepada kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh Menteri-Menteri Agama Brunai, Indonesia, Malaysia dan Singapura yang dikenal dengan kriteria MABIMS, maka kondisi Hilal awal bulan Muharam 1444 Hijriah sudah memenuhi kriteria, demikian pula dengan elongasinya.

MABIMS menyepakati bahwa Hilal mungkin dapat dilihat jika berada pada ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Berdasarkan kriteria MABIMS tersebut, maka awal bulan Muharam 1444 bertepatan dengan Sabtu Pahing, 30 Juli 2022.

*) Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur Sekaligus Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Pengurus Cabang (PC) LFNU Sumenep.

- Advertisement -
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
mm
Redaksihttps://pcnusumenep.or.id
Website resmi Nahdlatul Ulama Sumenep, menyajikan informasi tentang Nahdlatul Ulama dan keislaman di seluruh Sumenep.
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi

TerkaitBaca Juga

TrendingSepekan!

TerbaruUpdate!