Categories:

Kiai Zainur: Jangan Mencari Pangkat dan Dunia di NU

- Advertisement -

Manding, NU Online Sumenep

KH Muhammad Zainur Rahman Hammam Ali, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menegaskan, jangan mencari pangkat dan dunia di NU. Karena Allah sudah menjamin.

Penegasan ini disampaikan pada acara Penguatan Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah dan Pelantikan Pengurus Ranting NU Kasengsan, Ahad (02/10/2022) di Masjid Raudhatul Muttaqin Kasengan, Manding, Sumenep.

“Tujuan kita ada di NU adalah ingin menjadi bagian pelestarian dan penjagaan Islam Aswaja. Selain itu, menjaga anak-anak kita tidak keluar dari ajaran Aswaja. Jika bukan kita, siapa lagi?,” sergahnya.

Saat aktif NU, lanjutnya, anak akan melihat aktivitas orang tuanya yang aktif di jam’iyah tanpa digaji. Di sanalah anak akan memahami bahwa pengabdian orang tuanya diberikan pada NU dan kelak akan mengikuti perjuangan ayahnya. Secara psikologis, seorang anak akan bangga pada orang tuanya dan hidup tenteram di lingkungan NU.

“Yang kami khawatirkan, saat orang tuanya tiada, sang anak tidak mau mentahlili orang tuanya. Anak ini sudah menyimpang dari ajaran Aswaja. Oleh karenanya, mulailah sejak dini mendoktrin anak dengan ajaran Aswaja An-Nahdliyah,” pintanya.

Pembina PC Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep ini mengatakan, terbentuknya NU mirip dengan diutusnya para nabi, khususnya yang memiliki umat.

“Nabi Nuh as memiliki umat. Pasca bencana banjir besar, yang selamat hanya orang-orang yang beriman. Tahun berikutnya, terjadi pergesaran sehingga Allah mengutus Nabi Luth as untuk meluruskan umat ke jalan Allah. Berselang kemudian, umat salah arah lagi, maka diutuslah Nabi Shalih as, begitulah seterusnya,” ungkapnya.

Di masa Nabi Muhammad SAW dan sahabat, keemasan Islam muncul pada saat itu. Namun, pasca wafatnya nabi, muncul bibit-bibit perpecahan di kalangan umat Islam.

“Terpecahnya Islam menjadi beberapa golongan, melahirkan Ahlussunnah wal Jamaah yang mengembalikan kembali instabilitas dalam beragama dan bersosial,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh Prenduan itu.

Lahirnya Aswaja, sambungnya, pada dasarnya ingin memperkuat kembali dan meluruskan akidah yang sesuai dengan Islamnya Rasulullah dan sahabat

“Aswaja memang baru pada masa itu. Tetapi substansinya bukan sesuatu yang baru, melainkan sudah ada sejak masa nabi dan sahabat,” curahnya.

Menurutnya, perbedaan ijtihad sudah ada sejak dulu. Hanya saja ikhtilaf itu masih dalam konteks furuiyah. Seperti kisah Umar bin Khattab ra yang mengabarkan pada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra bahwa banyak kalangan huffazh gugur di medan peperangan. Sementara yang ada, tidak semuanya huffazh.

“Muncullah usulan dari sahabat Umar agar Al-Qur’an dijadikan sebuah buku. Namun khalifah tidak berkenan, karena tidak pernah dilakukan oleh nabi,” ucapnya sembari melemparkan senyuman.

Lebih lanjut, ia mengutarakan bahwa ketika problem masuk dalam level teologi ketuhanan, Aswaja hadir sebagai antisipasi dari firqah yang melenceng dari akidah.

“Saat Turki Utsmani runtuh, Arab Saudi yang awalnya Aswaja berubah menjadi Wahabi. Kala itu, penanda kuburan di Ma’la dan Baqi diberanguskan, termasuk makan nabi menjadi program penggusuran,” kenangnya.

Menyikapi hal itu, lahirlah Komite Hijaz yang dimotori oleh ulama Aswaja Indonesia yang berangkat ke Arab Saudi untuk bernegosiasi agar situs-situs bersejarah tidak digusur.

Terbentuknya Komite Hijaz, menjadi cikal-bakal lahirnya NU sebagai jam’iyah diniyah ijtimaiyah yang mengantisipasi kekacauan dalam bidang agama.

“Banyak umat Islam di Indonesia bermanhaj Aswaja, tetapi belum tentu NU. NU fleksibel sehingga bisa diterima oleh alam yang majemuk, baik di bidang agama, sosial dan sebagainya,” katanya.

“Kita hadir dalam kegiatan ini, untuk menjadi bagian dalam menjaga dan melestarikan ajaran Islam Aswaja An-Nahdliyah. Kita ber-NU karena mengikuti jejak para pini sepuh dan guru. Wajar, yang kita lakukan bersama bermanfaat dalam ikatan kuat,” terangnya.

Anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur ini menceritakan dawuh Gus Mus di acara silaturahim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.

“Kita berada dalam jam’iyah merupakan tugas ilahi sebagaimana dipraktikkan oleh muassis. Di masa lalu, kiai menjadi segala-galanya, salah satunya jadi thabib. Wajar, saat santri kembali ke masyarakat, banyak orang menaruh harapan besar untuk mengkondusifkan kondisi masyarakat di bidang religiusitas,” tandasnya.

Diketahui, acara tersebut bagian dari program Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep.

- Advertisement -
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi

TerkaitBaca Juga

TrendingSepekan!

TerbaruUpdate!