spot_img
Categories:

Permintaan Terakhir Khadijah Al-Kubra Sebelum Wafat

- Advertisement -

Disebutkan dalam kitab Al-Busyra fi Manaqib Sayyidah Khadijah karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, istri pertama Nabi Muhammad Saw, Khadijah binti Khuwailid wafat di hari kesepuluh di bulan Ramadhan pada tahun ke-10 kenabian. Tepatnya sebelum nabi hijrah ke Madinah.

Wafatnya Sayyidah Khadijah Al-Kubra meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi nabi, karena almarhumah memiliki jasa yang begitu besar terhadap dakwah nabi di Makkah.

Sebagaimana diceritakan dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, ketika nabi hendak masuk ke rumahnya pasca berdakwah, Khadijah menyambut nabi di depan pintu. Ketika hendak berdiri, ia diminta tetap di tempatnya, karena posisinya sedang menyusui Sayyidah Siti Fatimah Az-Zahra.

Dulunya Khadijah seorang bangsawan, kini kekayaannya habis untuk keperluan dakwah nabi. Sering kali tidak punya makanan, bahkan saat menyusui Fatimah, yang keluar bukan asi, tetapi darah.

Berhubung nabi lelah usai berdakwah, nabi memindahkan Fatimah ke tempat tidur. Seketika nabi berbaring dipangkuan Khadijah. Di saat tertidur, Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan kelembutan dan kasih sayang. Tak terasa air matanya jatuh di pipi nabi, sehingga nabi terjaga dari tidurnya.

“Dahulu engkau wanita mulia dan bangsawan. Kini engkau dihina oleh orang lain. Semua orang menjauhimu. Kekayaanmu habis. Apakah engkau menyesal bersuamikan Muhammad?,” tanya nabi pada Khadijah.

“Wahai suamiku dan nabi Allah. Bukan itu yang kami tangisi. Kemuliaan dan kekayaan yang kami miliki, diserahkan pada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang kami tak punya apa-apa, tetapi engkau terus memperjuangkan agama ini. Seandainya aku mati, namun perjuangan ini belum selesai. Maka galilah lubang kuburku. Ambillah tulang belulangku untuk dijadikan jembatan menyeberangi sungai atau lautan,” jawab Khadijah.

Tulang-tulang itulah yang menjadi jembatan agar nabi bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahnya, serta mengingatkan pada manusia tentang kebesaran Allah.

Di saat Khadijah terbaring sakit (menjelang ajal kematian). Sebagai istri, ia meminta maaf pada nabi, dikhawatirkan kurang berbakti pada Rasulullah.

Mendengar permohonan maaf itu, sontak nabi mengatakan bahwa Khadijah telah mendukung dakwah Islam secara penuh dan benar-benar berbakti pada suami.

Di saat yang berbeda, Khadijah memanggil putrinya Fatimah sambil berbisik bahwa ajalnya akan tiba. Yang ia takutkan adalah siksa kubur. Oleh karenanya, ia meminta tolong kepada Fatimah untuk memintakan sorban yang biasa dipakai saat menerima wahyu dari Allah.

Dirinya merasa malu dan takut untuk mengatakan hal itu pada nabi. Sehingga ia meminta tolong pada anaknya. Diketahui, sorban itu akan dijadikan kain kafan.

Mendengar hal itu, nabi mengatakan, Allah telah menyiapkan surga untuk istrinya. Di saat yang sama, Khadijah menghembuskan nafas terakhir di pangkuan suami tercinta. Dekapan nabi menumpahkan air matanya serta orang-orang yang ada di sekitar itu.

Malaikat Jibril Beri Kain Kafan

Kewafatan Khadijah, malaikat Jibril turun dari langit sambil mengucapkan salam dan membawa lima kain kafan.

“Untuk siapa kain kafan ini,” tanya Rasulullah sembari menjawab salam Jibril.

“Kain kafan ini untuk Khadijah, Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali. Namun cucumu yang satu, yakni Husein bin Ali tidak memiliki kain kafan. Dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kain kafan dan dimandikan,” jawab Jibril sambil menangis.

Nabi menyadari bahwa tidak akan pernah mendapatkan istri sebaik Khadijah. Pengabdiannya pada Islam dan dirinya sebagai istri, sangat luar biasa. Semua hartanya dihibahkan untuk Islam. Semua pakaian muslimin yang dipakai, termasuk pakaian nabi, didapatkan dari Khadijah.

“Lalu kenapa permohonan terakhirmu hanya selembar sorban,” ucap nabi di hadapan jasad Khadijah.

Sejarah mencatat, ⅔ kekayaan Kota Makkah adalah milik Khadijah. Tetapi saat hendak menjelang kewafatannya, tidak ada kain kafan yang bisa menutupi jasadnya. Bahkan pakaian yang digunakannya sudah kumuh dengan 83 tambalan, di antaranya ditambal menggunakan kulit kayu.

“Ya Allah ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmatMu pada Khadijah yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku ketika ada orang lain menentang dan menentramkanku di saat orang lain membuatku gelisah. Kau meninggalku sendirian dalam perjuanganku, siapa lagi yang akan membantuku,” doa nabi pada Allah.

“Aku ya Rasulullah yang akan membantumu,” jawab Ali bin Abi Thalib saat merespon kesedihan nabi.

Dengan demikian, Amul Huzni atau tahun kesedihan atau duka cita yang mendalam, menjadi latar belakang terjadinya fenomena Isra’ Mi’raj. Kerena, selain istrinya wafat, paman nabi Abu Thalib ikut berpulang ke rahmatullah.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi

TerkaitBaca Juga

TrendingSepekan!

TerbaruUpdate!

Urutan Wali Nikah Dalam Islam

4
Rubrik Lensa Fikih diasuh oleh Kiai Muhammad Bahrul Widad. Beliau adalah Katib Syuriyah PCNU Sumenep, sekaligus Pengasuh PP. Al-Bustan II, Longos, Gapura, Sumenep.   Assalamualaikum warahmatullahi...

Keputusan Bahtsul Masail NU Sumenep: Hukum Capit Boneka Haram

0
Mengingat bahwa permainan sebagaimana deskripsi di atas sudah memenuhi unsur perjudian (yaitu adanya faktor untung-rugi bagi salah satu pihak yang terlibat), sehingga dihukumi haram, maka apapun jenis transaksi antara konsumen dengan pemilik koin adalah haram karena ada pensyaratan judi.
Sumber gambar: Tribunnews.com

Khutbah Idul Adha Bahasa Madura: Sajhârâ Tellasan Reajâ

0
# Khutbah Pertama اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ...

Khutbah Idul Fitri Bahasa Madura: Hakekat Tellasan

0
# Khutbah I اَللهُ أَكْبَرُ (٩×) لَآ إِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا...