Tujuan diciptakannya manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi untuk mengabdikan diri dengan beribadah kepada Allah SWT. Bahkan al-Qur’an sendiri menyatakan dengan tegas, bahwa tidaklah diciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana tersebut dalam Q.S. al-Dzariyat [51]: 56, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Amal perbuatan seseorang tidak dikategorikan baik manakala tidak didasari pada keimanan yang baik serta ibadah yang kokoh. Keimanan bisa sempurna apabila disertai dengan pelaksanaan ibadah, amal saleh, dan akhlak mulia. Pemahaman seperti ini merupakan pendekatan sufistik.
Dalam buku ini, kita akan dituntun untuk bisa memahami antara ibadah yang sifatnya lahiriah (syariat) dan ibadah yang sifatnya batiniah (tasawuf). Keduanya ini memiliki hubungan simbiosis yang integratif dan harus dipadukan.
Dalam surat ar-Rahman [55]: 19-20 dijelaskan, Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing (ar-Rahman [55]: 19-20).
Pesan dalam surat tersebut menyiratkan akan pentingnya kontekstualisasi antara ilmu syariat dan tasawuf secara terpadu. Seorang hamba yang memadukan antara keduanya akan tampak pada dirinya karakter yang baik: memiliki kesalehan spiritual, sosial dan individual. Tidak sedikit orang yang sampai memiliki kesalehan, spiritual, sosial dan individual secara integratif. Sebaliknya, kebanyakan dari sikap mereka adalah jauh dari kearifan dan kebijaksanaan dan memanusiakan manusia.
Bagaimana cara agar seseorang bisa sampai pada derajat kesalehan individual, sosial dan spiritual tersebut? Setidaknya Syekh Abdul Qadir Jailani menawarkan konseptual yang harus dipraktekkan oleh hamba dapat memiliki serta mengamalkan empat element ilmu sebagaimana akan penulis berikut ini.
Pertama, syariat lahiriah seperti perintah dan larangan Allah SWT serta hukum-hukum lainnya; kedua, syariat batiniah yang disebut ilmu tarekat; ketiga, tarekat batiniah yang disebut ilmu ma’rifat; keempat, batiniah batin yang disebut ilmu hakikat. Di level hakikat ini, syetan dan nafsu sama sekali tidak memiliki akses masuk ke situ.
Keempat ilmu ini harus dikuasi dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan keseharian hamba agar maksimal dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta nafsu di setiap tingkat ilmu tersebut.
Menjalankan perintah Allah tetapi hanya pokus pada satu ilmu saja, sebut saja ilmu syariat misalnya, maka sulit bagi hamba bisa beribadah secara maksimal tersebut. Ilmu syariat saja tidak cukup jika ilmu batin (tasawuf) dikesampingkan. Bukankah Syaitan dulu termasuk makhluk yang paling rajin beribadah, tetapi karena kesombongannya sehingga menyebabkan ia diusir dari Surga?
Ketika seseorang hanya mempelajari cukup satu ilmu saja yang berhubungan dengan syariat lahir, dalam hal ini belajar fikih misalnya, maka yang terjadi nanti ia mudah menyalahkan orang lain. Sementara menguasai ilmu lahir saja (syariat), tidak akan menghasilkan ilmu hakikat dan tidak akan mencapai tujuan ibadah. Karena, hawa nafsu akan menggoda di ruang lingkup syariat ini, tidak pada level hakikat karena nafsu dan syetan tidak ada akses di situ, untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan syariat. Sebab, ruang lingkup iman dan fiqih Islam hanya membicarakan aspek hukum dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia.
Oleh sebab itulah hamba menurut pengarang kitab ini harus sampai pada derajat hakikat, agar menjadi hamba yang terpilih dan terselamatkan. Sebagaimana firman-Nya, Demi kemuliaan-Mu, pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka” (Q.S. Shad [38]: 82-83). Inilah inti ajaran tasawuf yang diajarkan dalam kitab ini. Tasawuf intinya mengajarkan kepada kita untuk melakukan hubungan yang baik dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia khususunya, dan alam pada umumnya.
Buku ini menarik sekali untuk dibaca dan dipelajari. Bagi anda yang ingin sampai pada derajat ma’rifatullah (mengenal Allah SWT), buku ini bisa dijadikan sebagai rujukan. Seseorang yang telah mengenal Allah dan mengamalkan empat komponen ilmu: syari’at, tarekat, ma’rifat, dan hakekat, maka mereka akan merasakan ke-Maha Asyik-an Tuhan melalui keimanan yang kokoh–dalam istilah Syekh Abdul Qodir Jaelani rusukh, yaitu keimanan yang kuat karena akarnya menancap kuat di alam tanah dan cabangnya menjulang ke langit. Wallahu a’lam. (*)
Buku: Sirrul Asrar
Penulis: Syekh Abdul Qodir Jailani
Penerjemah: Moh. Yusni Amru Ghozaly
Penerbit: Qaf Jakarta
Tebal: 309 halaman
ISBN: 978-602-5547-36-2
Peresensi: Ashimuddin Musa, Alumni PP. Annuqayah dan INSTIKA Guluk-Guluk


