Image Slider

Filosofi FIFA World Cup dalam Membangun Fikrah dan Harakah Nahdlatul Ulama

Oleh: Ahmad Hosaini*)

Setiap empat tahun sekali, perhatian dunia tertuju kepada FIFA World Cup.
Pada periode 2026 ini, saat artikel ini ditulis sudah masuk babak final yang mempertemukan antara Spanyol vs Argentina. Kita tahu bahwa sepak bola adalah sebuah ajang olahraga yang bukan hanya mempertandingkan keterampilan mengolah bola, tetapi juga bisa dijadikan sebagai pelajaran bagaimana sebuah organisasi atau lebih luas sebuah bangsa membangun visi, karakter, disiplin, strategi, kepemimpinan, serta kerja kolektif untuk mencapai kemenangan.

Dalam Qanun Asasi sudah ditegaskan bahwa:

فَإِنَّ الِاجْتِمَاعَ وَالتَّعَارُفَ وَالِاتِّحَادَ وَالتَّآلُفَ هُوَ الْأَمْرُ الَّذِي لَا يَجْهَلُ أَحَدٌ مَنْفَعَتَهُ

“Sesungguhnya berkumpul, saling mengenal, bersatu, dan saling menguatkan merupakan perkara yang manfaatnya tidak diragukan oleh siapa pun.”

Pentingnya sebuah organisasi sebagai tempat berkumpulnya beberapa kepala yang mempunyai cara pandang dan karakter yang berbeda untuk saling memahami satu sama lain, menyamakan persepsi, bekerja secara kolektif dalam satu visi yang sama merupakan sebuah kekuatan menuju kemenangan. Begitu juga dalam sepak bola.

Di balik gemerlap kompetisi tersebut, tersimpan nilai-nilai universal yang dapat dijadikan refleksi dalam membangun kehidupan berorganisasi.

Bagi Nahdlatul Ulama, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan semangat yang terkandung dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Jika Piala Dunia menjadi arena mempertontonkan bangunan tim terbaik dunia, maka NU adalah arena membangun peradaban umat melalui kekuatan fikrah (cara pandang) dan harakah (gerakan).

Membangun Fikrah NU: Memiliki Cara Berpikir yang Sama

Keberhasilan sebuah tim nasional tidak hanya ditentukan oleh pemain-pemain hebat atau bertaburnya pemain bintang. Banyak negara memiliki pemain berbakat seperti Deniz Undav Jerman, Ronaldo di Portugal, Neymar Brasil tetapi babak belur karena indikasi kurangnya kesatuan visi bermain. Sebaliknya, tim yang mampu menyatukan pola pikir, disiplin taktik, dan loyalitas terhadap sistem justru mampu melampaui tim yang bertabur bintang.

Demikian pula dalam Nahdlatul Ulama. Kekuatan NU bukan semata-mata terletak pada besarnya jumlah warga nahdliyin atau pada kebesaran nama tokoh tertentu melainkan pada kesamaan cara berpikir yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah sebagaimana dirumuskan dalam Qanun Asasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia tidak boleh tidak harus berkumpul di tengah-tengah masyarakat karena tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Berkumpul dalam cara pandang yang sama dalam satu visi akan menjadi kekuatan menuju kemenangan bersama. Hal ini penting kata K.H. Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi karena

فَالِاتِّحَادُ وَارْتِبَاطُ الْقُلُوبِ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، وَتَظَافُرُهَا عَلَى أَمْرٍ وَاحِدٍ، وَاجْتِمَاعُهَا عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ أَهَمِّ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ،

Artinya “…persatuan, keterikatan hati satu sama lain, saling mendukung dalam satu tujuan, dan bersatu di atas satu kata merupakan sebab terpenting untuk memperoleh kebahagiaan (kemenangan)…”

Sementara kata beliau perpecahan itu adalah kekalahan.

فَالتَّفَرُّقُ سَبَبُ الضَّعْفِ وَالْخِذْلَانِ، وَالْفَشَلُ فِي جَمِيعِ الْأَزْمَانِ،

Artinya: “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman…”

Nah, dalam NU itu sudah sangat jelas bahwa pertama-tama harus membentuk cara pandang (fikrah) yang sama terhadap dunia, agama, masyarakat, kebangsaan, dan kemanusiaan sesuai dengan prinsip-prinsip NU agar tidak timbul perpecahan yang menyebabkan kegagalan.

Tanpa kesamaan fikrah, organisasi akan mudah terpecah oleh kepentingan sesaat. Sebaliknya, ketika seluruh warga NU memiliki pijakan berpikir yang sama, perbedaan pendapat akan menjadi kekayaan intelektual, bukan sumber perpecahan.

Sebagaimana sebuah tim sepak bola memiliki satu filosofi permainan, NU pun memiliki satu pijakan ideologis yang menjadi arah seluruh gerakan organisasi.

Harakah NU: Bergerak dengan Sistem, Bukan Individualisme

Dalam Piala Dunia tidak ada pemain yang mampu memenangkan pertandingan seorang diri. Bahkan pemain terbaik dunia sekalipun tetap membutuhkan rekan setim, pelatih, staf medis, analis pertandingan, hingga dukungan suporter. Kemenangan lahir dari kerja sistem, bukan dari kehebatan individu.

Demikian pula harakah Nahdlatul Ulama. Dalam Qanun Asasi sudah sangat gamblang dijelaskan dengan mengutip sebuah syair bahwa:

إِنَّمَا الْأُمَّةُ الْوَاحِدَةُ كَالْجِسْمِ، وَأَفْرَادُهَا كَالْأَعْضَاءِ.

“Sesungguhnya umat yang satu itu bagaikan satu tubuh, sedangkan setiap individunya bagaikan anggota-anggota tubuh.”

كُلُّ عُضْوٍ لَهُ وَظِيفَةُ صَنْعٍ، لَا تَرَى الْجِسْمَ عَنْهُ فِي اسْتِغْنَاءٍ.

“Setiap anggota tubuh memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Tidak ada satu pun anggota tubuh yang dapat dianggap tidak diperlukan oleh keseluruhan tubuh.”

Perjuangan NU tidak dibangun atas kultus individu, tetapi melalui jamaah dan jam’iyah yang bergerak secara kolektif. Kiai, pengurus syuriyah, tanfidziyah, badan otonom, lembaga, hingga ranting memiliki fungsi yang berbeda namun saling menguatkan.

Inilah makna penting yang diajarkan Qanun Asasi bahwa perjuangan harus dilakukan melalui persatuan, musyawarah, dan kerja sama. Organisasi hanya akan kuat apabila setiap unsur menjalankan amanah sesuai bidangnya.

Sayyidina Ali menegaskan sebagaimana dalam Qanun Asasi bahwa:

إِنَّ الْحَقَّ يَضْعُفُ بِالِاخْتِلَافِ وَالِافْتِرَاقِ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَقْوَى بِالِاتِّحَادِ وَالِاتِّفَاقِ

“Sesungguhnya kebenaran menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan. Sebaliknya, kebatilan terkadang menjadi kuat karena persatuan dan kesepakatan.”

Harakah NU bukan gerakan yang reaktif, melainkan gerakan yang terarah, sistematis, dan berkesinambungan demi terwujudnya kemaslahatan umat.

Begitu juga kalau kita pelajari dalam permainan sepak bola. Kerjasama tim atau tim yang solid akan membantu menuju kemenangan.

Disiplin Organisasi Sebagai Kunci Kemenangan

Dalam FIFA World Cup, tidak ada pemain yang bebas bertindak sesuka hati. Semua tunduk kepada aturan permainan, strategi pelatih, dan keputusan wasit. Pelanggaran terhadap disiplin dapat merugikan seluruh tim.

Begitu pula dalam NU. Berkhidmat menuntut kepatuhan terhadap mekanisme organisasi, hasil musyawarah, serta keputusan jam’iyah. Kebebasan berpikir tetap dihargai, tetapi harus berada dalam koridor adab, etika, dan konstitusi organisasi. Jangan sampai bercerai berai karena cara pandang yang berbeda. Disiplin pada peraturan organisasi sebagai kesolidan menuju kemenangan. Sayyidina Ali yang dikutip dalam Qanun Asasi menegaskan

لِأَنَّ الْقَوْمَ إِذَا تَفَرَّقَتْ قُلُوبُهُمْ، وَلَعِبَتْ بِهِمْ أَهْوَاؤُهُمْ، فَلَا يَرَوْنَ لِلْمَنْفَعَةِ الْعَامَّةِ مَحَلًّا وَلَا مَقَامًا، وَلَا يَكُونُونَ أُمَّةً مُتَّحِدَةً، بَلْ أَحَادًا مُتَجَمِّعِينَ، أَجْسَادًا مُفْتَرِقِينَ، قُلُوبًا وَأَهْوَاءً

“…Ketika hati sebuah masyarakat telah terpecah dan setiap orang dikuasai oleh kepentingan serta hawa nafsunya masing-masing, mereka tidak lagi mengutamakan kepentingan bersama. Mereka bukan lagi sebuah umat yang benar-benar bersatu, melainkan hanya sekumpulan orang yang berkumpul secara fisik. Tubuh mereka berada di tempat yang sama, tetapi hati, pikiran, dan orientasi mereka saling bertentangan.”

Maka dari itu, fikrah yang benar akan melahirkan harakah yang tertib. Sebaliknya, harakah tanpa disiplin hanya akan menghasilkan gerakan yang sporadis dan kehilangan arah.

Kepemimpinan Visioner: Belajar dari Seorang Pelatih

Pelatih sepak bola tidak ikut bermain di lapangan, tetapi seluruh permainan berjalan sesuai arah yang dirancangnya. Ia mampu membaca kekuatan lawan, mengembangkan potensi pemain, melakukan evaluasi, dan menentukan strategi terbaik.

Dalam NU, peran tersebut dijalankan oleh para ulama yang berhimpun di dalamnya. Mereka bukan sekadar administrator, melainkan penjaga arah perjuangan agar NU tetap berjalan sesuai cita-cita para muassis.

Ulama mempunyai peran strategis dalam NU karena sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)

Kualifikasi ulama bukan karena mereka suka memakai surban, tapi paling tidak mereka memiliki kedalaman dan keluasan ilmu agama, memiliki akhlak seperti akhlaknya Rasulullah, dan terakhir sebagai pilar utamanya adalah mereka yang paling takut dijauhkan dari Allah.

Kata Khadratusyyeikh Hasyim Asy’ari dalam Majalah Berita Nahdhatoel Oelama, tujuan NU didirikan adalah

إِنَّ الْغَايَةَ الَّتِي تَرْمِي إِلَيْهَا الْجَمْعِيَّةُ هِيَ تَوْحِيدُ صُفُوفِ الْعُلَمَاءِ وَرَبْطُهُمْ بِرَابِطَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Sesungguhnya tujuan utama jam’iyyah ini adalah mempersatukan barisan para ulama dan mengikat mereka dalam satu ikatan yang kokoh.”

Oleh karena itu, kepemimpinan dalam NU yang digawangi para ulama bukan sekadar persoalan jabatan karena orang yang takut dijauhkan dari Allah mereka tidak meminta dan merebut jabatan, melainkan menunaikan amanah dalam menjaga fikrah dan menggerakkan harakah agar tetap berada pada rel perjuangan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk kemaslahatan umat.

Regenerasi: Membangun Tim untuk Masa Depan

Tidak ada negara yang mampu bertahan sebagai kekuatan dunia tanpa regenerasi pemain. Negara-negara besar selalu membangun akademi sepak bola, membina pemain muda, dan mempersiapkan generasi penerus jauh sebelum Piala Dunia dimulai.

Demikian pula Nahdlatul Ulama. Masa depan organisasi sangat bergantung pada keberhasilan kaderisasi. Pesantren, madrasah, perguruan tinggi, IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat, GP Ansor, serta seluruh badan otonom merupakan ruang pembentukan generasi penerus yang memahami fikrah dan siap menggerakkan harakah NU.

Kiai Hasyim sudah menegaskan bahwa kaderisasi itu penting sebagai penggerak Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Bahkan beliau mengatakan dalam Majalah Berita Nahdhatoel Oelama:

إِنَّ جَمْعِيَّتَنَا فِي حَاجَةٍ شَدِيدَةٍ إِلَى مُسَاعَدَةِ رِجَالِهَا الْعَامِلِينَ.

“Sesungguhnya organisasi kita sangat membutuhkan dukungan dan kontribusi nyata dari para kader yang aktif berkhidmah.”

Regenerasi bukan hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga memastikan kesinambungan nilai-nilai perjuangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kompetisi Global, Identitas Tetap Terjaga

FIFA World Cup mempertemukan berbagai bangsa dengan budaya yang berbeda. Namun setiap negara tetap tampil dengan identitas, karakter, dan filosofi permainannya masing-masing.

Demikian pula NU. Di tengah derasnya arus globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial, NU harus mampu berinteraksi dengan dunia modern tanpa kehilangan jati dirinya.

NU mempunyai empat pilar nilai dasar yang menjadi karakter utama sebagai identitas yang selalu melekat pada NU dan yang membedakannya dengan yang lain yaitu Tawassuth (Moderat) Tasamuh (Toleran) Tawazun (Seimbang) I’tidal (Tegak lurus/Adil) ditambah satu lagi ada amar makruf nahi mungkar.

Dengan nilai-nilai itulah kemudian fikrah Ahlussunnah wal Jama’ah akan menjadi fondasi moral dan intelektual, sedangkan harakah NU menjadi instrumen untuk menjawab tantangan zaman melalui pendidikan, dakwah, ekonomi, kesehatan, lingkungan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.

Menjadi Juara dalam Pengabdian

Trofi terbesar dalam FIFA World Cup adalah Piala Dunia. Namun trofi terbesar bagi warga Nahdlatul Ulama bukanlah popularitas, jabatan, ataupun kekuasaan, melainkan keberhasilan menghadirkan kemaslahatan bagi umat serta memperoleh ridha Allah Swt.

Ini termaktub dengan jelas dalam AD/ART NU bahwa tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.

Oleh karena itu, filosofi Piala Dunia mengajarkan bahwa kemenangan hanya dapat diraih melalui kesamaan visi, disiplin, kerja kolektif, strategi yang matang, regenerasi yang berkelanjutan, dan kepemimpinan yang visioner. Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama menjadi ruh NU yang termaktub dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.

Membangun NU pada akhirnya bukan sekadar memperbesar organisasi, melainkan memperkuat fikrah agar seluruh warga memiliki cara berpikir yang sama dalam memahami Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus memperkokoh harakah agar seluruh potensi organisasi bergerak secara terarah, kolektif, dan berkesinambungan.

Sebagaimana sebuah tim yang mengejar gelar juara dunia, Nahdlatul Ulama harus terus menjaga kesatuan visi, soliditas gerakan, dan kualitas kaderisasi. Dengan fikrah yang kokoh dan harakah yang kuat, NU akan senantiasa menjadi kekuatan peradaban yang menghadirkan rahmat bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga