spot_img
Categories:

Belajar dari Ranting Ansor di Kencong yang Berdayakan Masyarakat

- Advertisement -

Kota, NU Online Sumenep

Gus Rijal Mumazziq Z menyatakan, zakat, infaq dan shadaqah harus menjadi sarana pendobrak. Oleh karenanya, ia menjadikan Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Kecamatan Jombang, Kencong, Jember, Jawa Timur sebagai laboratorium NU guna mensejahterakan masyarakat.

Dalam penyampaian materinya di acara Halal Bihalal dan Nyoon Pamangghi yang dihelat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, ia mengatakan bahwa gerakannya bersama Barisan Ansor Serbaguna (Banser) terinspirasi dari KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudh yang tertuang dalam buku Nuansa Fiqih Sosial terbitan Elkis 2004. Dikisahkan, beliau pernah menjumpai tukang becak yang mangkal di pasar, namun becak tersebut milik orang China dan per harinya setoran 15 ribu, penghasilannya 3 ribu.

“Saat takbiran berkumandang di malam lebaran, Kiai Sahal Mahfudz datang ke rumah tukang becak dengan membawa zakat dan sedekah. Beliau berkata, mohon zakat dan sedekah dari saya diterima. Jangan dipakai buat beli beras tapi dipakai untuk beli becak agar tidak setoran setiap hari pada juragan. Inilah yang dinamakan zakat produktif,” ucapnya kepada jamaah yang berkumpul di aula lantai 2 PCNU setempat.

Tak hanya itu, Gus Rijal menyitir pedapat Konfucius seorang filosof asal China yang berbunyi, andai kata memberi nasi atau beras untuk orang miskin niscaya seseorang akan memberi makan 1-2 hari saja. Jikalau memberi bibit padi, mereka akan merawat selama-lamanya.

Kemudian ia menggambarkan sebuah fenomena, di mana seorang muzakki memanggil mustahiq untuk datang ke rumahnya. Lalu antre rapi dari pagi sampai siang guna mendapatkan uang 50 ribu. Menurutnya, model ini kurang tepat dipakai di dalam tubuh ranting Ansor. Ia memilih gagasanya Kiai Sahal Mahfudh sehingga bisa menggerakkan setiap sudut yang selama ini tidak terjangkau oleh PBNU, PWNU dan PCNU.

“Banyak guru ngaji yang hafidz dan aktif di NU, namun tiba-tiba stroke. Mau berobat menghabiskan biaya yang banyak, tidak punya BPJS dan kursi roda. Sejak itulah zakat titipan kami gunakan untuk mengurus hal-hal yang penting,” ujarnya.

Jika direfleksikan, selama ini sebagian pengurus sibuk mengurus organisasi tapi kadang kala lupa merawat Nahdliyin yang butuh sekolah, tidak bisa mondok, istri pejuang NU yang ditinggal wafat suaminya, anak dari pejuang NU yang ditinggal wafat ayahnya, muharrik NU yang sakit stroke, dan lainnya.

“Berangkat dari kejadian ini, kami jadikan Ranting Ansor sebagai laboratorium yang bisa membantu Nahdliyin. Ada 16 program yang fokus pada pemberdayaan sosial. Bayangkan, sekelas ranting bisa memiliki 2 ambulance, 15 aset kursi roda, memberikan modal usaha bagi janda dan yatim Banser, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Bersih Langgar dan Mushala (Bela) karena selama ini hoby dari kita membangun masjid dan mushala tapi lupa merawatnya,” curahnya.

Selain itu, membuat Pengajian Tukang Becak Masjid Al-Huda (Pencak Masda) yang mangkal di depan masjid. Selama 15 menit tukang becak mengikuti pengajian, kemudian makan-makan dan pulang membawa sarung (1 bulan pertama), baju agar terlihat gagah saat shalat (2 bulan kemudian), kopiah (3 bulan kemudian), mendapat bingkisan saat Ramadhan.

“Pengajian itu sengaja kami buat karena sebelunya tukang becak yang mangkal di perempatan dekat masjid, teryata tidak shalat. Seluruh bantuan yang kami salurkan tidak memakai uang masjid sepeser pun,” ungkap Rektor Universitas Al-Falah As-Sunniyyah Kencong, Jember.

Ia menceritakan, saat shalat jamaah berlangsung, Banser melihat 2 tukang becak tidak ikut jamaah. Saat ditanya, mereka tidak tahu caranya shalat. Berangkat dari fenomena itu, Gus Rijal membentuk Kord Dai-daiyah Mabdaul Ma’arif (Kodama) yang mengajari ngaji secara privat kepada warga NU yang tidak tahu caranya shalat.

“Kalau kita mampu mengelola hal kecil seefektif mungkin, kita bisa membeli ambulance secara urunan. Caranya mudah, jangan mengesankan sebagi pengemis tapi sebagai kolaborator. Berawal memposting di media sosial bahwa ranting ingin membeli ambulance. Saat ada donatur, maka akadnya adalah uang yang mereka transfer dijadikan sedekah mayit yang pahalanya akan mengalir pada almarhumin. Berhubung ambulance bekas rumah sakit Katolik yang kami beli, ada proses memualaafkan ambulance dan diberi nama ambulance Multiguna Banser,” curahnya.

Penulis asal Jember itu menegaskan, memasuki abad kedua, bendera NU tidak hanya tertancap di pinggir jalan dan kantor, yang diinginakan adalah bendera nu terpampang di mobil pelayanan umat. Yang dirawat bukan hanya orang NU, Islam, tapi non muslim. Lewat mobil tersebut, aghniya akan terenyuh, bahkan masuk Banser.

“Selama mengelola ambulance, keluarga pasien tidak dikenakan tarif, karena keluarga banyak mengeluarkan biaya pengobatan. Untuk perawatan mobil dan bisyarah sopir, Allah memberikan jalan keluar. Ingat Allah tidak pernah tidur,” tuturnya.

Dalam sudut pandangnya, urunan atas nama orang yang wafat, akan bermanfaat pada siapapun yang masih hidup. Sebaliknya, dana yang dihabiskan untuk sebuah perhelatan besar, menghabiskan puluhan juta rupiah. Baginya, puluhan juta itu semestinya dialokasikan pada hal-hal yang memiliki manfaat besar.

“Mari kita tunjukkan solidaritas anggota, manajemen yang baik, ideologi, sistem yang terus berjalan. Ayo kita buktikan bahwa NU bukan organisasi jago kandang. Siapapun yang mengabdikan diri di NU, anak-anaknya akan mendapatkan barakah. Khidmah, harakah dan barakah,” tandasnya.

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!
Tetap Terhubung
16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Rekomendasi

TerkaitBaca Juga

TrendingSepekan!

TerbaruUpdate!

Urutan Wali Nikah Dalam Islam

4
Rubrik Lensa Fikih diasuh oleh Kiai Muhammad Bahrul Widad. Beliau adalah Katib Syuriyah PCNU Sumenep, sekaligus Pengasuh PP. Al-Bustan II, Longos, Gapura, Sumenep.   Assalamualaikum warahmatullahi...

Keputusan Bahtsul Masail NU Sumenep: Hukum Capit Boneka Haram

0
Mengingat bahwa permainan sebagaimana deskripsi di atas sudah memenuhi unsur perjudian (yaitu adanya faktor untung-rugi bagi salah satu pihak yang terlibat), sehingga dihukumi haram, maka apapun jenis transaksi antara konsumen dengan pemilik koin adalah haram karena ada pensyaratan judi.
Sumber gambar: Tribunnews.com

Khutbah Idul Adha Bahasa Madura: Sajhârâ Tellasan Reajâ

0
# Khutbah Pertama اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ أَكْبَرُ - اللهُ...

Khutbah Idul Fitri Bahasa Madura: Hakekat Tellasan

0
# Khutbah I اَللهُ أَكْبَرُ (٩×) لَآ إِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، اَللهُ أَكْبَرُ مَا...