Bluto, NU Online Sumenep
Zaynollah, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sumenep menjelaskan tema Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXII PC IPNU Sumenep, yakni ‘IPNU Juara: Laboratorium Pelajar Nusantara’.
“Sebagaimana laboratorium, kita berharap menjadi bahan uji coba sekaligus bahan percontohan untuk IPNU lainnya. Tentu hal ini menjadi impian yang tak mudah kita lakukan. Ini bisa terwujud, jika kader mau dan siap satu komando pada pimpinan dan kiai. Kita sudah memulainya dan harus disempurnakan pada momentum ini,” ujarnya di hadapan pelajar NU yang berkumpul di Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka, Bluto, Sumenep, Ahad (13/03/2022).
Menurutnya, momen ini tidak akan berbicara kepentingan. Namun kader harus membuktikan bahwa kepentingan yang utama adalah menempatkan IPNU di atas segala-galanya. Baginya proses demokrasi menjadi hak semua individu. Tetapi demokrasi NU menjunjung tinggi musyawarah mufakat dan hasil istikharah. Sebagaimana hasil istikharah dari beberap kiai adalah kader harus berada fi shaffin wahid.
“Perjuangan yang kami pertaruhkan selama dua tahun, tidak mudah dibayarnya dengan murah. Suatu saat nanti kami merindukannya. Tolong IPNU dijaga. Karena apa yang kami bangun dan perjuangkan bukan hanya menjadi prestasi di masa kepemimpinan ini, tetapi dijaga ke depannya,” pintanya.
Koordinator Gusdurian Sumenep itu menceritakan, sebelum ia menutup mata untuk beristirahat dan di saat terbangun dari tidurnya, yang ada dipikirannya adalah IPNU. Ia tak nyenyak tidur ketika ada satu hal yang belum diselesaikan.
“Selama dua tahun, kami wakafkan untuk IPNU agar menjadi laboratorium yang sebenar-benarnya. Kami merasa bangga dengan gegap gempita para kader muda yang bertumbuh pesat. Namun ada rasa sedih saat melepas pengabdian ini dengan ikhlas. Kebersamaan, kenangan, air mata yang dibangun oleh pengurus,” kenang Zaynollah.
Alumni Pondok Pesantren Nurud Dhalam Ganding itu memohon izin dan meminta maaf kepada segenap kiai. Kemungkinan pengabdiannya kurang maksimal dan membuat hati para masyaikh sakit hati akibat tingkah laku adik-adiknya.
“Kepada para donatur, terima kasih telah mendukungnya. Kami tidak bisa membalasnya dengan banyak. Semoga Allah melipatgandakannya. Alhamdulillah, kami bisa menyelesaikan amanah ini yang diarungi sejak tanggal 22 Februari 2020 hingga sekarang. Kami titip IPNU,” tandasnya.

