Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Sumenep mulai mematangkan arah gerak kepengurusan masa khidmat 2026–2031 dengan membentuk 12 lembaga sebagai ujung tombak pelaksanaan program organisasi. Langkah tersebut dibahas dalam rapat konsolidasi yang digelar di Kantor MWCNU Kota Sumenep, Jumat (17/7/2026), sekaligus menjadi forum sosialisasi program kerja dan penyelarasan visi seluruh pengurus.
Ketua MWCNU Kota Sumenep, K. M. Hantok Sudarto, menegaskan bahwa seluruh lembaga yang dibentuk harus bergerak dalam satu arah sesuai visi kepengurusan, yakni mewujudkan MWCNU Kota Sumenep sebagai penggerak utama pelestarian ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus memberdayakan umat melalui penguatan ekonomi dan pendidikan.
“Visi kita adalah menjadikan MWCNU Kota Sumenep sebagai penggerak utama dalam melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, sekaligus memberdayakan umat yang bermartabat dengan ekonomi yang kuat dan pendidikan yang unggul,” ujarnya.
Menurutnya, visi tersebut harus diterjemahkan secara konkret dalam setiap program kerja lembaga. Karena itu, seluruh pengurus diminta menyusun agenda yang selaras dengan arah kebijakan organisasi.
“Jangan sampai ada program yang keluar dari visi dan misi MWCNU. Semua kegiatan harus mendukung tujuan besar organisasi,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, MWCNU Kota Sumenep menetapkan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi sebagai dua program unggulan yang akan menjadi fokus gerakan selama lima tahun ke depan. Kedua sektor itu diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi warga Nahdliyin di wilayah Kota Sumenep.
Untuk memperkuat koordinasi dan pembinaan, setiap lembaga akan didampingi oleh dua orang pengurus harian yang bertugas sebagai pembina. Penetapan pembina dilakukan dengan mempertimbangkan proporsionalitas serta kebutuhan masing-masing lembaga agar pelaksanaan program berjalan lebih efektif.
Selain menetapkan struktur kelembagaan, MWCNU Kota Sumenep juga meminta ketua dan sekretaris dari 12 lembaga yang telah dibentuk agar segera melengkapi susunan kepengurusan dengan melibatkan kader-kader yang memiliki komitmen untuk berkhidmat.
“Kami tidak ingin struktur lembaga terlalu gemuk. Yang kami butuhkan adalah kader yang ikhlas berkhidmat, memiliki semangat mengabdi, dan mampu menyediakan waktu untuk menjalankan amanah organisasi,” pesan K. M. Hantok Sudarto.
Rapat konsolidasi tersebut juga dimanfaatkan sebagai forum koordinasi awal bagi para ketua dan sekretaris lembaga untuk menyusun langkah kerja serta mempercepat proses pembentukan kepengurusan sebelum memasuki tahapan pelaksanaan program kerja.

