Image Slider

Tragedi Kan’an Abad 21: Ketika Gunung Pelarian Anak Berwujud Gawai

Oleh: M. Deni Hidayatullah

Bayangan tentang bencana dahsyat dalam lembaran sejarah umat manusia sering kali terpaku pada gemuruh air bah yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh AS. Air yang meluap dari perut bumi dan tumpah dari langit memisahkan dengan tegas antara mereka yang selamat di atas bahtera dan mereka yang binasa dalam kekufuran. 

Kehancuran tersebut menjadi simbol betapa dahsyatnya hukuman bagi kebebalan teologis. Namun, mari kita tarik garis waktu ke abad ke-21 yang sarat dengan lompatan teknologi. 

Hari ini, air bah itu tidak lagi berwujud materi cair yang membasahi pakaian, melainkan menjelma menjadi banjir informasi, candu linimasa, dan luapan algoritma digital. Kita sedang hidup di era di mana setiap orang terancam tenggelam dalam arus informasi tanpa batas (Alfudholli & Nurjanah, 2026).

Celakanya, korban paling rentan dari banjir bandang tak kasatmata ini adalah generasi muda, anak-anak kita. Tanpa disadari, dinding-dinding rumah kita mulai rekat dan rapuh, menyisakan anak-anak yang hanyut dalam arus ekonomi perhatian (attention economy) yang disediakan oleh jagat siber. Keberadaan gawai menggeser pola interaksi yang semula hangat menjadi mekanis dan berjarak.

Dampak dari derasnya arus informasi ini tidak hanya menyasar aspek kognitif, melainkan juga menggerus fondasi spiritualitas dasar sang anak. Ketika anak-anak dibiarkan tanpa kendali mengarungi samudra digital, mereka rentan kehilangan kompas moral. Arus kebudayaan luar yang tidak tersaring dengan baik perlahan masuk dan menggantikan nilai-nilai lokal serta keagamaan yang telah lama diajarkan.

Jika kita membuka kembali lembaran suci Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Hud ayat 42 hingga 46, ada sebuah fragmen psikologis yang sangat menyayat hati antara seorang ayah dan anaknya. Di tengah amukan badai yang dahsyat, Nabi Nuh melihat putranya, Kan’an, berada di tempat yang terpencil dan terpisah dari rombongan orang-orang beriman.

Dengan segenap cinta dan kecemasan seorang ayah yang mendalam, Nabi Nuh berseru, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Sebuah ajakan terakhir yang penuh kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang di tengah situasi kosmologis yang mencekam dan penuh ancaman maut (Shihab, 2010).

Sayangnya, Kan’an menolak uluran tangan ayahnya dengan penuh keangkuhan psikologis. Ia menjawab dengan penuh percaya diri bahwa ia akan segera mencari perlindungan ke gunung yang tinggi, yang ia yakini mampu menyelamatkannya dari kepungan air bah. Kan’an memilih rasionalitas egonya sendiri, menolak otoritas kenabian ayahnya, dan berakhir tragis di dasar lautan.

Secara sosiologis, watak Kan’an dalam teks keagamaan tersebut merefleksikan karakter manusia yang keras kepala saat menghadapi krisis moral. Ia merasa memiliki instrumen pertahanan mandiri yang lebih kokoh daripada sekadar mengikuti arahan berbasis wahyu. Di sinilah letak titik tenggelamnya: bukan karena tiadanya tempat bersandar, melainkan salah memilih tempat bersandar.

Di era modern ini, Tragedi Kan’an berulang secara masif dan sunyi di dalam kamar-kamar anak kita. Ketika orang tua mulai memberikan teguran, menasihati tentang batasan moral, atau sekadar mengajak berbincang di meja makan, anak-anak modern kerap merasa asing dan tersudutkan. Ruang domestik nyata dianggap memenjarakan kebebasan berekspresi mereka.

Bagi generasi alfa dan zed, rumah tidak lagi menjadi lanskap yang ramah bagi ego mereka yang berkembang. Nasihat orang tua sering kali dianggap sebagai badai otoritarianisme yang mengusik kenyamanan eksistensial. Alih-alih mendengarkan dan naik ke atas bahtera aturan keluarga, mereka memilih untuk melarikan diri, mencari ruang eksternal untuk katarsis.

Di sinilah gawai (gadget) mengambil alih peran sebagai gunung pelarian abad ke-21. Smartphone di genggaman adalah puncak tertinggi tempat mereka bersembunyi dari realitas hidup yang menjemukan. Di atas gunung virtual itulah, anak-anak kita mendaki setiap hari melalui aplikasi media sosial demi mencari kebahagiaan artifisial (Luthfi dkk., 2024).

Di puncak gunung gawai tersebut, mereka memanjat ego lewat pemenuhan hasrat narsistik melalui tombol like. Mereka meraba kehangatan semu dari komentar para pengikut digital, serta mengonsumsi hiburan instan yang memicu dopamin secara berlebihan. Gawai menyediakan segalanya yang gagal atau belum sempat dihadirkan oleh orang tua di dunia nyata.

Sifat adiktif dari platform digital ini dirancang sedemikian rupa untuk menahan perhatian anak selama mungkin. Akibatnya, gunung virtual ini menawarkan kepalsuan yang melenakan, membuat anak-anak merasa memiliki dunia mandiri yang tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Kedekatan semu dengan orang asing di internet perlahan menggantikan keintiman hubungan bersama keluarga kandung.

Anak-anak modern merasa gawai bisa menyelamatkan mereka dari rasa bosan dan alienasi sosial, persis seperti Kan’an yang mengira gunung batu bisa menahan laju air azab. Padahal, di balik layar kaca yang berkilau tersebut, sebuah gelombang algoritma yang jauh lebih besar sedang bersiap menenggelamkan stabilitas kesehatan mental dan spiritual mereka.

Ketika anak tenggelam dalam ruang digital tanpa batas, mereka mengalami degradasi moral siber, kehilangan kepekaan empati, dan terpapar virus individualisme ekstrem (Nurchasanah dkk., 2026). 

Mereka hadir secara fisik di tengah keluarga, namun pikiran dan jiwanya berada di belahan dunia virtual yang tidak diketahui jalurnya oleh orang tua.

Krisis ini semakin diperparah oleh fenomena cyberbullying dan standar pencapaian hidup yang tidak realistis di media sosial. Anak-anak yang belum matang secara emosional dipaksa menelan mentah-mentah realitas semu internet, sehingga memicu kecemasan akut. Gunung gawai yang semula mereka daki sebagai tempat perlindungan, justru menjadi tempat yang meremukkan mental mereka sendiri.

Lantas, bagaimana orang tua siber hari ini harus bersikap menghadapi air bah digital ini? 

Menyelamatkan anak tentu tidak bisa dilakukan dengan cara ekstrem seperti membuang teknologinya secara total. Langkah mencabut gawai secara paksa justru akan melahirkan resistensi psikologis dan menjauhkan anak dari tuntutan zaman modern yang serbadigital.

Tugas utama orang tua hari ini adalah membangun Bahtera Digital yang kokoh di dalam institusi keluarga. 

Bahtera ini tidak dirakit dari papan kayu jati, melainkan dari anyaman ruang dialog yang interaktif, keterbukaan emosional, serta keteladanan konkret orang tua dalam memegang gawai di depan anak-anak mereka sendiri.

Membangun bahtera domestik ini membutuhkan ketelatenan tinggi dan manajemen waktu yang adil. 

Orang tua harus mampu menahan diri untuk tidak sibuk dengan gawainya sendiri saat berada di samping anak. Kesediaan meluangkan waktu berkualitas tanpa gangguan layar (screen-free time) menjadi fondasi awal terbangunnya rasa aman dan rasa saling percaya.

Orang tua juga harus bertindak sebagai arsitek literasi digital yang berbasis pada nilai-nilai spiritualitas Al-Qur’an. Anak-anak perlu dibekali kemampuan kurasi mental dan kedewasaan etika penyerapan informasi (Silvina Waroh dkk., 2025). Melalui pendekatan ini, anak akan memiliki imunitas siber (digital resilience) untuk menyaring mana kebaikan dan mana buih hoaks.

Kurasi spiritual ini mencakup penanaman konsep kesadaran bertuhan (muraqabah) saat berselancar di dunia maya. Anak-anak dibimbing untuk memahami bahwa ruang digital bukanlah ruang kosong tanpa hukum, melainkan panggung horizontal tempat setiap ketikan jemari dicatat secara vertikal. Dengan begitu, mereka dapat mengendalikan diri secara mandiri dari dalam jiwa.

Rumah harus bertransformasi kembali menjadi tempat pulang yang paling dirindukan dan menenangkan jiwa. Ketika jalinan komunikasi di dalam rumah berjalan dengan penuh empati dan apresiasi, anak tidak akan lagi merasa perlu mendaki gunung gawai yang dingin hanya untuk mencari pengakuan sosial atau ketenangan ego yang rapuh.

Pada akhirnya, kisah pilu antara Nabi Nuh dan Kan’an dalam Surat Hud memberikan sebuah tamparan teologis yang menenangkan sekaligus tegas bagi kita semua. Ayat ini mengingatkan dengan sangat lugas bahwa ikatan biologis atau darah sekalipun tidak akan mampu menjamin keselamatan seseorang di hari pembalasan tanpa dibarengi keimanan pribadi.

Tugas historis kita sebagai orang tua di era siber hanyalah berikhtiar semaksimal mungkin sesuai batas kemampuan insani. Kita berkewajiban merakit kapal nilai-nilai moral terbaik di ruang keluarga dan tiada lelah memanggil anak-anak kita dengan seruan penuh kasih sayang. Kita harus mengetuk kesadaran mereka sebelum gelombang digital memisahkan kita sepenuhnya.

Selebihnya, biarkan jemari doa dan kepasrahan kita mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Sebab, di tengah hiruk-pikuk dan bisingnya dunia algoritma hari ini, ketetapan hidayah, keselamatan akhir, dan ketenangan sejati (thuma’ninah) bagi anak-anak kita sepenuhnya berada di dalam genggaman dan rahmat Allah SWT.

Daftar Pustaka

  • Alfudholli, M. H., & Nurjanah, N. (2026). Etika Digital dan Moderasi Beragama: Analisis Konten terhadap Polarisasi Paham Keagamaan di Ruang Siber Indonesia. DIRASAT: Jurnal Studi Islam Multidisipliner, 1(01), 23–34.

Luthfi, D. A., Hanifurrohman, H., Jahrudin, J., Jannah, S. R., & Asy’arie, B. F. (2024). Analisis Degradasi Moral Remaja Era Digital dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(7), 6616–6624. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i7.4743

Nurchasanah, A., Arif Zainudin, & Akhmad Habibullah. (2026). Analisis Etika Komunikasi Pejabat Publik Berdasarkan Model Komunikasi Harold D. Lasswell. ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin, 4(5), 832–843. https://doi.org/10.55681/armada.v4i5.2204

Shihab, M. Q. (2010). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an Volume 7.

Silvina Waroh, Amelia Putri, & Gusmaneli. (2025). Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Penguatan Literasi Digital pada Generasi Milenial. Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(2), 323–332. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1012

*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah yang aktif menaruh perhatian pada isu-isu sosial, pendidikan, dan keagamaan.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga