Image Slider

Merawat Jiwa Santri, Menyiapkan Generasi Emas

Oleh: Zamzami Sabiq *)

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pesantren dalam membentuk generasi masa depan. Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, menjaga akhlak, dan mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga perlu memiliki ketangguhan psikologis untuk menghadapi tantangan zaman.

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, kesederhanaan, dan spiritualitas. Kehidupan berasrama melatih santri mengatur diri, menghormati orang lain, serta menyelesaikan persoalan bersama. Semua itu merupakan modal penting bagi perkembangan karakter dan kesehatan mental.

Namun, santri juga manusia yang sedang bertumbuh. Mereka dapat mengalami kerinduan kepada keluarga, kesulitan beradaptasi, tekanan belajar, konflik pertemanan, hingga kecemasan tentang masa depan. Sebagian mampu mengatasinya dengan baik, tetapi sebagian lainnya membutuhkan pendampingan. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental perlu menjadi bagian dari penguatan pendidikan pesantren.

Hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang dipublikasikan pada 2022 menunjukkan bahwa 34,9 persen remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan mental. Data tersebut menggambarkan remaja Indonesia secara umum, bukan santri secara khusus. Meski demikian, temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa remaja merupakan periode pembentukan identitas, pengelolaan emosi, dan kemampuan menjalin hubungan sosial. Pada fase ini, santri belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, memahami dirinya, serta membangun kemandirian. Kehidupan pesantren dapat membantu proses tersebut. Akan tetapi, tantangan bisa muncul ketika santri kesulitan menyesuaikan diri, mengalami perundungan, merasa tertekan oleh tuntutan belajar, atau tidak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan persoalan.

Perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi, perbandingan sosial, dan perubahan pola komunikasi dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya dan lingkungannya. Hal ini bukan berarti pesantren merupakan lingkungan yang bermasalah. Sebaliknya, pesantren perlu terus memperkuat kemampuannya dalam memahami kebutuhan santri agar proses pendidikan berlangsung secara lebih utuh.

Dalam tradisi pesantren, kesabaran, keikhlasan, dan kedisiplinan merupakan nilai penting. Namun, nilai-nilai tersebut perlu dipahami secara tepat. Menjadi santri yang tangguh bukan berarti harus selalu diam ketika menghadapi kesulitan atau menyembunyikan perasaan agar tidak dianggap lemah.

Dalam psikologi, ketangguhan berkaitan dengan resiliensi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit ketika menghadapi tekanan atau kesulitan. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui pengalaman, keterampilan mengelola emosi, dan dukungan lingkungan.

Santri yang merasa rindu kepada orang tua, misalnya, tidak selalu berarti tidak betah di pesantren. Santri yang mengalami kesulitan belajar juga tidak otomatis berarti malas. Mereka mungkin membutuhkan pendampingan, metode belajar yang sesuai, atau kesempatan untuk menyampaikan kesulitan. Di sinilah pentingnya membedakan antara perilaku yang perlu diperbaiki dan pribadi yang tetap harus dihargai.

Pesantren perlu mempertahankan kedisiplinan, tetapi pelaksanaannya harus menghindari kekerasan, penghinaan, dan tindakan yang merendahkan martabat santri. Pembinaan seharusnya membantu santri memahami kesalahan, bertanggung jawab, dan belajar memperbaiki diri.

Nilai agama dan psikologi juga dapat berjalan beriringan. Allah Swt. berfirman dalam Surah ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan dan makna bagi santri. Namun, persoalan psikologis tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda lemahnya iman. Ketika santri mengalami kecemasan berkepanjangan atau kesulitan yang mengganggu aktivitasnya, ia membutuhkan perhatian dan penanganan yang sesuai. Dukungan spiritual dapat berjalan bersama konseling maupun bantuan profesional apabila diperlukan. Mengajarkan kesabaran tidak berarti menutup ruang untuk bercerita. Menguatkan iman juga tidak berarti mengabaikan kebutuhan pertolongan.

Langkah Nyata Membangun Pesantren yang Sehat Mental

Kepedulian terhadap kesehatan mental tidak harus dimulai dengan program yang mahal atau rumit. Pesantren dapat melakukan sejumlah langkah sederhana yang berdampak nyata.

Pertama, membangun budaya mendengarkan. Pengasuh, ustaz, ustazah, dan wali asuh perlu menyediakan ruang bagi santri untuk menyampaikan persoalan tanpa takut dipermalukan atau langsung dihakimi. Kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan santri merupakan bagian penting dari pengasuhan.

Kedua, memperkuat literasi kesehatan mental. Santri perlu dibekali pengetahuan dasar tentang pengelolaan emosi, stres, hubungan sosial yang sehat, pencegahan perundungan, dan penggunaan teknologi secara bijak. Materi ini dapat diintegrasikan dalam kegiatan pengasuhan, pembinaan akhlak, dan pendidikan sehari-hari.

Ketiga, membangun sistem deteksi dini dan rujukan. Pesantren perlu mengenali perubahan perilaku yang berlangsung lama, seperti menarik diri, kehilangan minat terhadap aktivitas, atau mengalami kesulitan belajar yang signifikan. Jika diperlukan, pesantren dapat bekerja sama dengan puskesmas, psikolog, HIMPSI, dan perguruan tinggi untuk menyediakan pendampingan profesional.

Keempat, memperkuat perlindungan santri. Lingkungan pesantren harus bebas dari kekerasan dan perundungan. Disiplin tetap ditegakkan, tetapi melalui cara yang mendidik dan menghormati martabat manusia. Upaya ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama mengenai pengembangan Pesantren Ramah Anak.

Kelima, melibatkan orang tua. Komunikasi antara keluarga dan pesantren perlu dibangun secara terbuka. Ketika santri menghadapi kesulitan, keduanya harus bekerja sama mencari penyelesaian, bukan saling menyalahkan.

Langkah-langkah tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap pesantren. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk mengetahui apakah santri merasa aman, apakah pengaduan ditangani dengan baik, dan apakah pendampingan benar-benar berjalan.

Psikologi sebagai Mitra Pesantren

Pesantren memiliki kekuatan dalam tradisi keilmuan, spiritualitas, dan pembentukan akhlak. Psikologi dapat memperkaya kekuatan tersebut melalui pengetahuan tentang perkembangan manusia, perilaku, emosi, dan hubungan sosial. Kolaborasi antara pesantren, ilmuwan psikologi, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat membantu membangun sistem pengasuhan yang lebih responsif terhadap kebutuhan santri. Kolaborasi ini tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas pesantren. Justru, tujuannya adalah memperkuat nilai-nilai terbaik pesantren agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman.

Kita juga perlu mendorong penelitian khusus mengenai kesehatan mental santri. Karakteristik pesantren yang beragam membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing, bukan sekadar menyalin program dari lingkungan pendidikan lain. Keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya seminar atau pelatihan. Yang lebih penting adalah perubahan nyata: santri merasa aman untuk bercerita, pengasuh semakin terampil mendampingi, perundungan ditangani dengan tepat, dan bantuan profesional lebih mudah diakses.

Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa santri merupakan bagian penting dari masa depan Indonesia. Untuk berkontribusi menuju Indonesia Emas, santri membutuhkan ilmu, akhlak, spiritualitas, keterampilan sosial, dan kematangan psikologis. Kita membutuhkan santri yang tidak hanya cakap memahami ilmu agama, tetapi juga mampu mengelola emosi, menghargai sesama, menghadapi kegagalan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Karena itu, kesehatan mental perlu dipandang sebagai bagian dari pendidikan manusia seutuhnya. Pesantren tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjawab tantangan ini. Sebaliknya, tradisi yang kuat dapat menjadi fondasi untuk membangun pengasuhan yang semakin baik.

Santri yang tangguh bukanlah santri yang tidak pernah mengalami kesulitan. Mereka adalah santri yang terus belajar menghadapi kehidupan, mampu mencari pertolongan ketika diperlukan, dan bangkit kembali dengan dukungan lingkungan yang sehat. Pada akhirnya, menguatkan negeri juga berarti merawat manusia yang akan membangun negeri tersebut. Pesantren yang kuat bukan hanya melahirkan santri yang berilmu dan berakhlak, tetapi juga menyediakan ruang bagi mereka untuk tumbuh, didengar, dan berkembang secara sehat.

Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri tangguh, jiwa sehat, Indonesia bermartabat.

*) Wakil Ketua PCNU Sumenep, Ketua HIMPSI Cabang Sumenep, dan Penulis Buku Konseling Pesantren.

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga