Kota, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Ahmad Halimi, menegaskan bahwa urusan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Hal itu tercermin dalam sejarah perjuangan ulama dan santri melalui Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan KH Ahmad Halimi dalam acara Istighotsah dan Refleksi Hari Santri 2026 yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Sumenep di Masjid Nila Al Rasyid, PRNU Bangkal, Rabu (21/10/2026).
Kiai Halimi menceritakan, bahwa Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Kala itu, Indonesia tengah menghadapi ancaman kembalinya penjajahan, menjadi seruan bagi umat Islam, termasuk para santri, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
” Menanggapi ancaman penjajahan kembali, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumpulkan para ulama se-Jawa dan Madura. Pada 22 Oktober 1945,” terangnya.
Menurutnya, KH Hasyim Asy’ari merupakan deklarator Resolusi Jihad yang menyatakan bahwa berjuang membela tanah air melawan penjajah adalah fardhu ain atau wajib bagi setiap individu.
“Momentum tersebut kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober,” ujar Kepala Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Sumenep tersebut.
Fatwa Resolusi Jihad, lanjutnya, menyebar dengan cepat dan memicu mobilisasi massa santri serta milisi rakyat, seperti Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Semangat perjuangan ini turut mewarnai pertempuran sengit melawan pasukan Inggris dari Brigade Infanteri 49 Mahratta yang dipimpin Jenderal Mallaby di berbagai sudut Kota Surabaya.
Akibat desakan para pejuang, posisi tentara Inggris tersudut. Puncaknya terjadi pada sore hari 30 Oktober 1945, ketika Jenderal Mallaby terjebak dalam baku tembak di sekitar Gedung Internatio, dekat Jembatan Merah.
“Sejarah Resolusi Jihad menunjukkan bahwa perjuangan membela tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Karena itu, urusan kenegaraan dan keagamaan tidak bisa dipisahkan,” pesannya.
Kiai Halimi menjelaskan, semangat perjuangan tersebut turut mewarnai Pertempuran Surabaya pada November 1945, yang kemudian dikenang setiap 10 November sebagai Hari Pahlawan. Keterlibatan ulama, santri, dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa sekaligus warisan nilai yang perlu dijaga generasi berikutnya.
” Refleksi Hari Santri, tidak cukup berhenti pada mengenang perjuangan masa lalu. Nilai pengabdian para ulama dan santri perlu diteruskan melalui upaya menjaga persatuan, memperkuat kehidupan beragama, serta menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara,” pungkasnya.
Perlu diketahui, sebelum refleksi disampaikan, kegiatan diawali dengan istighotsah yang dipimpin Katib MWCNU Kota Sumenep, KH Ahmad Sa’id Samsuri. Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan Lailatul Ijtima dan santunan anak yatim serta dhuafa.
Acara ini diikuti pengurus harian dan lembaga MWCNU Kota, PRNU se-Kecamatan Kota Sumenep, unsur badan otonom NU, dan Nahdliyin setempat. Selain itu, unsur badan otonom yang hadir antara lain GP Ansor, MDS Rijalul Ansor, Banser, Fatayat NU, Pergunu, Pagar Nusa, IPNU-IPPNU Kota.

