Image Slider

Gus Dur, Kereta Api dan Tawadhu

Oleh: Nuruddin Hidayat

Suatu hari, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melakukan rangkaian perjalanannya demi menghadiri undangan warga NU dalam acara Haul para Kiai dan acara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kala itu beliau didampingi oleh pengawal dan sopir pribadi serta beberapa orang yang menemaninya.

Dari beberapa saksi sejarah mengatakan bahwa Gus Dur lebih asyik melakukan perjalanannya lewat jalur darat. Sebab jika menaiki pesawat atau pun helikopter, terkesan suul adab atau cangkolang pada para wali dan ulama yang dikebumikan di Tanah Air Indonesia.

Usai menghadiri undangan, beliau ingin kembali ke Jakarta menggunakan Kareta Api (KA) dari stasiun Tegal. Semua pejabat berbondong-bondong mengantarkannya. Bahkan warga berebut salaman dengan beliau sambil dituntun pengawalnya.

Saat tiba waktunya, rombongan menuju gerbong eksekutif yang sudah dipesan. Beliau duduk bersama penumpang yang sudah naik terlebih dahulu. Sekitar 15 menit setelah KA berjalan, Gus Dur memanggil pengawal. Kemudian beliau berkata ingin tidur di bawah atau lantai kereta.

Saat itu sang pwngawal bertanya, “Gus mohon maaf, ini di kereta,” tanyanya sambil memberanikan diri. Gus Dur menjawab, “Emang kenapa kalau di kereta?,” tanya balik beliau pada pengawalnya. Kemudian beliau menegaskan, “Rakyat kecil itu kalau naik kereta pada tiduran di bawah.” Lalu beliau memerintahkan pada pengawalnya untuk digelari koran.

Dengan nikmatnya Gus Dur tidur tanpa mempedulikan statusnya sebagai mantan Presiden RI. Seluruh pengawal ikut duduk di bawah dan tanpa sungkan penumpang ikut duduk pula di bawah sambil menitikkan air mata. Karena mereka terharu melihat kerendahan hati Gus Dur.

*) Kisah ini dikutip dari Majalah Khidmah NU Sumenep tahun 2014 dan diedit ulang oleh Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga