Image Slider

Menyibak Tabir Kosmologi dalam Kalimat Hamdalah

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Kosmologi berasal dari bahasa Yunani yaitu cosmos dan logos. Cosmos dapat berarti keteraturan atau susunan yang teratur disebut juga dengan alam semeseta. Sementara logos adalah ilmu.

Jadi kosmologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keteraturan alam semesta. Belajar tentang kosmologi juga tidak terlepas dari mempelajari tentang asal usul alam semesta.

Dengan ini, paling tidak ada dua teori yang perlu kita jelaskan yaitu materialisme dan teori big bang. Materialisme berpandangan bahwa menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan juga tidak berakhir.

Sementara teori big bang berpandangan bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran kepadatan tak terhingga atau dari volume nol yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya secara dinamis tidak statis.

Menggambarkan kosmologi dalam Islam akan menarik ketika dikaitkan dengan ayat kedua dalam surat Al-Fatihah yaitu:

الحمد لله ر ب العا لمين

Secara umum ayat ini diartikan: “Segala puji bagi Allah (sebagai) Tuhan pengatur alam semesta.”

Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi menyebutkan bahwa akar kata العالم ‘Al-Alam’ (alam semesta/dunia) berasal dari العلامة ‘Al-Alamah’ (tanda/petunjuk), karena keberadaan alam semesta ini adalah tanda yang sudah tidak diragukan lagi atas keberadaan Penciptanya yang disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan. (Muhammad Al-Amin as-Syinqithi, Adhwaau al-Bayaani Fii Iidhahi Al-Qur’ani bi Al-Qur’ani Jilid 1, Daar al-‘Alim al-Fawaid, hal.47).

Akan tetapi, kalimat adanya alam semesta ini menunjukkan adanya Allah adalah sebagai isyarat jauhnya seorang hamba dari Tuhannya karena jelas berbeda adanya alam ini dengan Allah dan Allah ليس كمثله شيء tidak ada yang serupa sedikitpun baik sebagian maupun seluruhnya.

Jadi, tidak bisa menyebutkan adanya alam ini menunjukkan adanya Allah. Namun, kita bisa mengatakan bahwa adanya Allah lah yang menunjukkan adanya alam ini.

Menarik kalau kita coba mencari tahu penggunaan kata رب dalam kamus Al-Munawir. Di mana رب dapat diartikan “memimpin, memiliki, mengumpulkan, memperbaiki, memelihara, mengasuh, mendidik dan lain-lain”. (KH. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-IndonesiaTerlengkap, Surabaya, Pustaka Progresif, hal. 462).

Jadi, dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah sebagai pemilik alam semesta ini tidak dibiarkan begitu saja adanya tapi Allah juga telah mendesain sedemikian rupa agar alam semesta berada dalam sebuah keteraturan yang nyata sampai pada waktu yang telah ditentukan (hari kiamat).

Di dalam ayat ini (رب العالمين) menurut Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi tidak disebutkan apa “alam itu” (العالمون), tapi dijelaskan di tempat (ayat) yang lain. Seperti dalam firman-Nya:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (٢٣) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

Artinnya: “Fir’aun bertanya, ‘Siapakah Tuhan semesta alam itu?’ (Musa) menjawab, ‘Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya’.” (QS. As-Syu’ara’ 23-24). (Muhammad Al-Amin as-Syinqithi, Adhwaau al-Bayaani Fii Iidhahi Al-Qur’ani bi Al-Qur’ani Jilid 1, Daar al-‘Alim al-Fawaid, hal. 47).

Kemudian untuk mempertegas teori kosmologi dalam ayat ini (hamdalah) tentang keteraturan alam semesta, kita korelasikan dengan ayat yang lain, seperti dalam surah Al-Anbiya’ 30 disebutkan:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak memperhatikan bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu kesatuan yang sangat padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30).

Mengomentari ayat ini menarik apa yang disebutkan oleh Muhammad al-Amien as-Syinqithi tentang beberapa pendapat ulama yang kalau kita tarik benang merahnya adalah bahwa makna dari كانتا رتقا (keduanya dahulu menyatu/kepadatan tak terhingga) adalah langit dan bumi dahulu saling melekat satu sama lain, lalu Allah memisahkan keduanya, mengangkat langit ke tempatnya, menetapkan bumi di tempatnya, dan memisahkan antara keduanya dengan udara (ruang hampa) yang ada di antara keduanya.

Pendapat selanjutnya bahwa makna كانتا رتقا (keduanya dahulu menyatu) adalah langit dahulu tidak menurunkan hujan, dan bumi dahulu juga tidak menumbuhkan tanaman. Maka Allah membelah (memisahkan) langit dengan hujan, dan bumi dengan tumbuhan. Pendapat ini yang dipilih oleh Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi.

Alasannya adalah firman Allah: أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apakah orang-orang kafir tidak melihat…” (QS. Al-Anbiya: 30) menunjukkan bahwa mereka benar-benar melihat hal tersebut. Karena pendapat yang lebih kuat mengenai kata رأى (melihat) adalah penglihatan secara kasat mata (بصرية).

Sesuatu yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri adalah keadaan di mana langit sebelumnya tidak menurunkan hujan, dan bumi mati serta kering tidak ada tumbuh-tumbuhan, kemudian mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, Allah menurunkan hujan dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman. (Syeikh Muhammad al-Amien as-Syinqithi, Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’ani Min Adhwaai al-Bayaan, Mesir, Daar al-Hadi an-Nabawi, hal. 788-789).

Imam Ar-Razi memiliki pandangan lain dalam ayat …أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا “Apakah orang-orang yang kafir tidak melihat…” bisa berarti penglihatan mata secara langsung (الرؤية), atau bermakna ilmu pengetahuan (العلم).

Makna pertama (penglihatan langsung) susah diterima karena kaum (kafir) sama sekali tidak melihat penciptaan langit dan bumi. Kedua, karena firman Allah SWT: مَّا أَشْهَدتُّهُمْ خَلْق السَّمَاوَاتِ وَالاْرْض “Aku tidak menghadirkan mereka (untuk menyaksikan) penciptaan langit dan bumi” (QS. Al-Kahf: 51). (Fakhruddin Ar-Razi, Al-Tafsir al-Kabir aw Mafaatih Al-Gaib Jilid 11, Kairo, Darul Hadits, 2012 hal. 434).

Pendapat ini kalau dikorelasikan dengan kandungan makna basmalah yang bersumber dari titik huruf ba’ (ب) atau yang disebut titik ciptaan (النقطة), maka alam semesta ini bersumber darinya dan tentu bersumber dari ketiadaan menjadi ada. Allah lah sebagai Pencipta segala yang ada. Secara akal dan perkembangan ilmu pengetahuan telah menyebutkan tentang ini.

Ayat ini sebenarnya adalah singgungan pada orang non Islam (kalau harus tidak menyebutnya sebagai orang kafir) bahwa kebenaran hasil ilmu pengetahuan mereka telah disebutkan jauh-jauh hari sebelumnya di dalam Al-Qur’an.

Kemudian ketika sudah mengetahui kebenarannya, singgungan Allah dalam kalimat yang terakhir itu افلا يؤمنون ” masihkan mereka tidak mau beriman?”. Paling tidak beriman di sini adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan kebenaran Al-Quran sebagai mukjizatnya. Kalau Al-Qur’an itu kalamullah pastilah ajarannya sesuai dengan kebenaran ilmu pengetahuan modern.

Selain itu, kalau Al-Qur’an dicurigai sebagai ucapan Muhammad sebagai manusia biasa (bukan sebagai utusan) pastilah banyak kerancuan di dalamnya.

Namun, dalam Al-Qur’an tidak akan pernah ditemukan terdapat kekeluliruan di dalamnya karena Allah yang menjaganya.

Ayat itu jelas juga berbicara masalah kosmologi yang bagi saya mirip dengan teori big bang (mirip bukan berarti sama) yang juga didukung oleh ahli Astromi Edwin Hubble saat membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi.

Ketika ia mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang itu bergerak menjauh dari manusia.

Ini juga berarti bahwa alam semesta itu terus berkembang dengan perkembangan yang sangat teratur dari dulu sampai sekarang hingga sampai masa yang akan datang. Perkembangan alam semesta juga diperkuat dengan ayat yang lain Surat Az-Zariyat (51) Ayat 47:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Artinya: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa memperluasnya.” (QS. Az-Zariyat: 47).

Menarik lagi ketika kita coba mengartikan العا لمين dalam ayat di atas yang umum diartikan alam semesta. عالمين dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari عا لم yang dalam kamus Al Munawwir diartikan الخلق كله (semua ciptaan), maka ada yang disebut dengan عا لم الحيوان (alam hewani) dan عا لم النّبات (dunia tumbuh-tumbuhan). (Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, hal. 966).

Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa رب العالمين artinya adalah Allah sebagai Pemilik (yang menguasai) seluruh makhluk, mulai dari manusia, jin, malaikat, hewan melata, dan selainnya, di mana setiap jenisnya disebut sebagai ‘alam’ (alam tersendiri). Maka ada yang menyebutkan bahwa كل ما سوى الله هو عالم ‘selain Allah adalah ‘alam’ dan Allah lah yang mendidik dan mengatur semuanya karena Dia lah satunya yang berhak untuk disembah.

Manusia juga termasuk عا لم الحيوان yaitu حيوان نا طق (hewan yang dapat berpikir) untuk membedakannya dengan binatang. Nah, berarti merujuk pada pengertian Alam di atas berarti Allah mengatur, mengembangkan, dan mendidik alam semesta beserta isinya secara keseluruhan termasuk manusia, binatan dan tumbuh-tumbuhan.

Dengan pengertian seperti itu, maka berbicara kosmologi ada yang mengkaitkannya juga dengan sesuatu yang ada (terutama yang ada di alam ini) yang bersifat kosmis.

Kemudian untuk mendukung kebenaran Al-Quran tentang kosmologi menurut pandangan ahli astronomi bahwa matahari sebagai pusat dari tata surya.

Namun pandangan yang dikemukakan oleh Galileo Galilei yang dikenal sebagai filsuf sekaligus bapak sains modern yang membenarkan teorinya Copernicus tentang bumi itu bulat dan matahari sebagai pusat sistem tata surya ditentang oleh Kardinal Robertus Bellarminus karena dianggap menistakan agama dan ajaran yang menyesatkan bahkan dianggap telah mengacaukan seluruh ilmu astronomi.

Tidak berhenti sampai di situ Galileo Galilei dihukum seumur hidup dan sampai mati di penjara. Padahal teori bahwa matahari sebagai pusat sistem tata surya telah disebutkan di dalam Al-Qur’an Surat Yaasin Ayat 38:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Artinya: “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yaasin: 38).

Ketetapan matahari yang bergerak atau beredar teratur di garis edarnya (orbit) atas perintah Allah tanpa melenceng dari jalur tersebut menegaskan bahwa secara ilmiah matahari sebagai pusat tata surya (heliosentris) di mana bumi dan planet lain beredar mengelilingi matahari.

Inilah gambaran Al-Qur’an tentang penciptaan alam yang tidak akan melenceng sedikit pun dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Ayat yang menggambarkan bahwa bumi itu bulat bisa kita temukan dalam isyarah pergantian siang dan malam silih berganti.

Seperti misalkan di Indonesia siang dan di Inggris malam begitu juga sebaliknya. Artinya ini menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa bumi itu bulat karena kalau bumi itu datar, jika di Indonesia siang, maka seluruh dunia juga pasti siang. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Dalam menggambarkan ini dalam surat Az-Zumar ayat 5 Allah berfirman:

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

Artinya: “Dia menutupkan atau menggilirkan malam atas siang dan menggilirkan siang atas malam.”

Secara logis ayat ini yang menegaskan tentang perputaran siang dan malam silih berganti secara terus menerus menunjukkan bahwa bumi itu bulat tidak datar. Namun, Allah menjadikannya seolah-olah datar untuk kenyamanan hidup manusia.

Jika ahli astronomi memperkuat teori big bang sekitar tahun 1929 M, maka Al-Qur’an sudah berbicara tentang kosmologi pada 1409 tahun yang lalu atau 14 abad yang lalu.

Kemudian teori heliosentrik Galileo Galilei yang dicetuskan sekitar tahun 1609 M itu telah termuat dalam Al-Qur’an sekitar 998 tahun sebelumnya.

Ini sungguh hal yang luar biasa. Kebenaran Al-Quran sudah tidak terbantahkan karena memang itu adalah kalam Allah dan Allah adalah Maha Benar. Sesuatu yang bersumber dari-Nya adalah kebenaran itu sendiri.

Ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an sebagai mukjizat teragung sepanjang masa, maka itu pastilah sebuah kebenaran yang harus kita ikuti dan taati. Yakinlah bahwa Allah pasti menjaga kemurnian Al-Qur’an karena itu sesuai dengan janji-Nya dalam Al-Qur’an:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Demikianlah kalau kita menyibak tirai ilmu kosmologi Islam dalam ayat hamdalah. Membacanya kita mengerti tentang keteraturan alam semesta yang telah didesain sedemikian rupa oleh Allah, sehingga bersyukur dengan kalimat الحمد لله adalah sebuah keniscayaan. Shalat adalah bentuk rasa syukur yang paling nyata karena hamdalah dalam Al-Fatihah dibaca setiap rakaat dalam shalat dan meninggalkannya adalah pengingkaran atas nikmat yang Allah berikan. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga