Oleh: Ahmad Hosaini *)
Kata Imam Ghazali janganlah mengatakan “الله أكبر” selama dalam hatimu masih ada sesuatu yang lebih besar dari Allah.
Janganlah mengatakan وجهت وجهي kecuali hatimu benar-benar hanya ditujukan kepada Allah semata dan menghindari dari tujuan yang lain.
Janganlah mengucapkan الحمد لله kecuali hatimu penuh syukur akan nikmat-nikmat Allah dan bangga serta bersuka cita memperolehnya.
Janganlah katakan اياك نعبد واياك نستعين kecuali kamu merasa lemah dan hina di hadapan Allah.
Imam Ghazali mengingatkan ini dalam rangka menjaga ruhnya shalat yaitu ikhlas dan hadirnya hati (khusyuk) dalam keseluruhan shalat dan menghayati setiap gerakan shalat (yang dibaca) dengan maknanya.(Imam Al-Ghazali, al-Arba’in Fii Ushuluddin, (Beirut, ad-Daar al-Syaamyah: 2003), hal.43).
Shalat yang benar-benar khusuk dengan menghadirkan hati sepenuhnya ke hadirat Allah memang sulit kita dapatkan. Kalau dihitung-hitung mulai dari takbiratul ihram sampai salam mungkin hanya berapa persen saja yang kita ingat atau sadar kalau kita sedang shalat menghadap dan berkomunikasi langsung dengan Allah.
Paling banter mungkin hanya 10% kita khusyuk, selebihnya alpa. Bahkan mungkin ada yang 100% alpa.
Kita harus jujur pada diri sendiri bahwa kita shalat hanya badan atau fisik saja, sedangkan bathin dan hati tidak sepenuhnya ikut shalat. Ini yang jadi masalah dalam shalat yang kita kerjakan. Apalagi dalam shalat tarawih.
Fenomena yang terjadi di Indonesia, shalat tarawih dengan banyak variasi. Bukan hanya jumlah rakaatnya, tetapi kecepatan dalam melaksanakannya. Mulai dari bagaikan jalan kaki sampai mode ekspres
Kejadian unik terjadi pada shalat tarawih di Masjid Sumekar Sumenep pada malam ke-15. Di mana pada saat shalat tarawih, ada yang dugaannya kuat kurang 1 rakaat pada rakaat ke-17 atau urutan salam yang ke-9 hanya 1 rakaat yang biasanya 2 rakaat.
Anehnya, imam dan makmum sama-sama tidak menyadarinya walaupun diperhatikan ada yang mau berdiri menambah 1 rakaat, tapi kalah dengan yang mayoritas. Mungkin mereka berpikir termasuk saya, kita yang lupa rakaat bukan mereka.
Kesadaran muncul saat tarawih sudah selesai. Anak dan istri saya sama-sama bercerita bahwa shalat tadi kurang 1 rakaat. Aneh memang karena mayoritas tidak menyadarinya terutama shaf di belakang imam.
Kealpaan hitungan rakaat dalam shalat sebagai salah satu tanda bahwa kita tidak khusyuk dalam shalat. Begitu juga kita tidak pandai menghadirkan hati sepenuhnya ke hadirat Allah SWT.
Padahal Allah SWT sudah mewanti-wanti kita di dalam Al-Qur’an bahwa janganlah shalat kalau kita dalam keadaan mabuk sampai kita menyadari terhadap apa yang kita ucapkan. Seperti dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan…” (QS. An-Nisa’: 43).
Kesadaran terhadap apa yang kita baca dalam shalat, jujur kita belum dapat. Bahkan sering lupa hitungan jumlah rakaat dalam shalat termasuk saat shalat tarawih tersebut.
Kita shalat hanya sebatas fisik belum hati. Masih sebatas memenuhi rukun-rukun shalat, itu pun kalau sempurna terutama dalam hal tumakninah (diam sejenak dalam gerakan shalat). Hati kita belum mau sadar atau lalai bahwa kita sedang berkomunikasi dengan Allah.
Sehingga shalat kita tidak memiliki ruh dan tanpa nilai serta tidak akan berdampak apapun kecuali hanya sebatas gugurnya kewajiban. Ibnu ‘Ajibah menyindir dengan mengatakan:
فالصلاة من غير حضور خاوية، وعند الخصوص باطلة
Artinya: “Maka shalat tanpa kehadiran (hati) adalah hampa, sedangkan menurut golongan khusus (kaum arifin/ahli hakikat) adalah batal.” (Ibnu ‘Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid (Jami’u al-Kutub al-Islamiyah, ketabonline) jilid 1 hal. 507).
Kita harus akui bahwa kita shalat sering merasa berada dalam kehampaan. Kelalaian yang kita alami harus menjadi instrospeksi kita dalam melaksanakan shalat. Shalat bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban tapi kesadaran kita dalam menghamba. Ibnu ‘Athaillah menggambarkan bagaimana realitas ibadah yang kita lakukan:
كيف يشرق قلبٌ صورُ الأكوان منطبعة في مرآته؟ أم كيف يرحل إلى الله وهو مُكَبَّل بشهواته، أم كيف يطمع أن يدخل حضرة الله وهو لم يتطهر من جنابة غفلاته؟ أم كيف يرجو أن يفهم دقائق الأسرار وهو لم يتب من هفواته؟
Artinya: “Bagaimana hati manusia yang bagaikan kaca, bisa bersih bila gambaran-gambaran dari dunia masih melekat padanya? Bagaimana ia bisa pergi menuju kepada Allah? Sedangkan ia masih diikat oleh syahwatnya. Bagaimana ia berharap bisa masuk ke hadratullah? Padahal ia belum mensucikan dirinya dari lupa kepada Allah. Bagaimana ia bisa memahami rahasia-rahasia Allah sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahan-kesalahannya?.” (Abdul Majid As-Syarnubi, Syarah al-Hikam al-‘Athaiyah (Beirut, Daar Ibn Katsir: 1929), hal 26).
Shalat harus dijadikan sarana untuk berdialog langsung dengan Allah dengan menghadirkan hati sepenuhnya. Hal ini untuk mengurangi kealpaan kita dalam shalat.
Jangan sampai kita menggunakan jurus mabuk dalam shalat biar tidak terkesan menghina Allah SWT. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

