Image Slider

Strategi Nabi Musa dalam Membasmi Perbudakan dan Tirani Firaun

Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*

Tidak perlu dengan menghardik atau mencaci maki, tidak juga dengan strategi kekuatan militer yang canggih untuk mengalahkan penguasa yang zalim. Ini yang dicontohkan Nabi Musa AS.

Belajar tentang strategi dakwah, perang antara Nabi Musa dan Firaun akan mengantarkan pada pemahaman kebertuhanan kita dengan sempurna.

Strategi Nabi Musa bukan hanya berlandaskan kekuatan militer konvensional semata, bukan pula dengan teriakan nyaring, melainkan pertarungan antara ajaran wahyu yang merupakan sebuah kebenaran (mukjizat), dengan metode diplomasi lembut untuk melawan kekuasaan tirani Firaun dengan kezalimannya.

Strategi Nabi Musa ini mirip dengan strategi ulama dan pemuda NU dalam mengalahkan penjajah di bumi pertiwi ini.

Diplomasi Lembut
Diplomasi yang diajarkan oleh Nabi Musa adalah diplomasi yang lemah lembut atau biasanya dikenal dengan soft diplomacy (diplomasi lunak).

Dilakukan biasanya dengan pendekatan persuasif untuk mempengaruhi lawan bicara. Membicarakan penawaran yang baik dengan konsep soft power bukan dengan paksaan atau kekerasan (hard power). Nabi Musa memang tidak menggunakan hard power karena hitung-hitungan kekuatan, juga kalah telak dengan Firaun.

Nabi Musa hanya mengandalkan keberanian, itupun karena menunaikan perintah Tuhan. Bahkan Allah terkesan memaksa karena melihat Firaun telah melampaui batas. Sistem perbudakan dan kesewenang-wenangan telah menjadi tradisi pemerintahan Firaun.

Namun, sebelum menghadapi penguasa yang zalim itu, Nabi Musa tidak lupa berdoa pada Allah agar rasa kekhawatiran dalam dadanya dapat hilang. Maklum yang dihadapi adalah penguasa kejam.

Doa Nabi Musa dalam menghadapi Firaun:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْۖ

Artinya: “Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Taha: 25-28).

Doa dan ikhtiar adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Itulah sekilas yang dapat kita petik dari kisah di atas. Setingkat nabi saja masih berdoa dalam menghadapi kesukaran. Apalagi kita yang bukan siapa-siapa.

Doa jangan hanya dimaknai meminta saja, tapi yakinlah bahwa itu energi nyata sebagai tameng kekuatan. Lihatlah bagaimana para nabi mengajarkan ini semua, tinggal kita pandai-pandai mengambil hikmahnya. Yakinlah karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Dalam kisah Nabi Musa ini kita akan paham bahwa untuk melakukan diplomasi pada penguasa harus dilakukan dengan metode soft power . Ini juga mengajarkan pada kita bahwa hinaan, celaan, makian tidak pernah diajarkan dalam Islam sekalipun berhadapan dengan pemimpin yang zalim (kejam).

Kita justru diperintahkan menghadapinya dengan lemah lembut. Seperti perintah Allah pada Nabi Musa dan Nabi Harun dalam menghadapi Firaun:

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua (maksudnya Nabi Musa dan Nabi Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia (Firaun) ingat atau takut.” (QS. Taha: 44).

Jadi, tidak perlu dengan konsep hard power karena itu buang energi dan tidak perlu dengan jingkrak-jingkrak karena tidak menyelesaikan masalah. Asal kita tahu strategi yang diajarkan Nabi Musa, maka kita akan dapat mengalahkan musuh kita. Insyaallah.

Tantangan Debat Konsep Ketuhanan
Kita tahu bagaimana kekejaman dan kezaliman Raja Firaun. Diplomasi Nabi Musa ditolak mentah-mentah bahkan ditantang untuk membuktikan padanya dan pada kaumnya bahwa ia berdua (Musa dan Harun) adalah benar-benar seorang utusan (Rasul).

Tidak tanggung-tanggung Firaun mengajak berdebat tentang konsep ketuhanan. Ingin membuktikan bahwa Nabi Musa benar dan Allah sebagai Tuhannya layak disembah.

Nah, ketika Nabi Musa ditanya tentang siapa Tuhannya? Maka ia menjawab:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى

Artinya: Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 52).

Sebenarnya dalam ayat ini sudah sangat jelas untuk mematahkan kebertuhanan Firaun karena mana mungkin manusia dapat menciptakan makhluk dengan keunikan atau kekhasan bentuknya yang berbeda-beda.

Jangankan menciptakan makhluk lain, menciptakan dirinya sendiri tak akan mampu. Manusia moderen hanya mampu buat robot, tapi tak akan mampu menyerupai makhluk yang Allah ciptakan.

Allah menciptakan manusia yang tidak sama dengan hewan, ada langit yang bentuk dan kegunaannya tidak sama dengan bumi. Ada organ-organ dalam tubuh yang menjalankan fungsinya masing-masing dan kegunaan yang lain

Ini realitas kehidupan yang tidak ada yang dapat mengingkarinya termasuk Firaun. Namun sayang Firaun angkuh dan sombong. Dengan kekuasaan yang dimilikinya ia tidak mau kalah dan tidak boleh kalah.

Nabi Musa berusaha menyadarkan, tapi tidak berhasil. Diplomasi lembut yang digunakan Nabi Musa gagal, tapi tidak mengurangi keberanian dalam menghadapi penguasa tirani. Tidak membiarkan kesesatan raja dan rakyatnya. Tidak membiarkan sistem perbudakan yang merajalela.

Firaun tetap mendustakan kerasulan Nabi Musa dan Nabi Harun bahkan menantangnya dengan menunjukkan bukti-bukti yang lain. Termasuk bukti tongkat yang dipegang Nabi Musa berubah menjadi ular yang memangsa ular-ular penyihir yang didatangkan Firaun.

Sampai membuat para penyihir tersebut sadar dan mengakui kerasulan dan Tuhan Nabi Musa. Akan tetapi, tidak dengan Firaun yang masih sombong. Ia masih merasa diinjak-injak harga dirinya karena dipermalukan di depan rakyatnya.

Firaun dengan sombongnya mengaku dirinya sebagai Tuhan dengan bahasa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ

Artinya: (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. An-Nazi’at: 24).

Atau dalam ayat yang lain perkataan Firaun:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلأ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي

Artinya: “Dan berkata Firaun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashas: 38).

Firaun mengaku bahwa yang paling berhak untuk ditaati adalah ia bukan Tuhannya Nabi Musa. Kisah ini mengajarkan pada kita bahwa kebenaran pasti mengalahkan kebatilan.

Sehebat apapun rancangan kebatilan tetap akan kalah dengan kebenaran. Kita tidak boleh takut selama yang kita perjuangkan adalah Kalimat-kalimat Allah untuk menegakkan kebenaran di bumi ini.

Saat bukti berupa mukjizat sudah diperlihatkan oleh Nabi Musa, namun masih membuat Firaun tidak percaya dan mendustakannya.

Nabi Musa dianggap tukang sihir bukan seorang utusan. Ia tetap bersikukuh untuk membuktikan dirinya sebagai Tuhan dengan mengancam dan ingin membunuh Nabi Musa dan kelompoknya sampai kemudian dikejar ke Laut Merah.

Tongkat Nabi Musa lagi-lagi membawa berkah menunjukkan mukjizat dengan membelah laut, menyelamatkan Musa dan pengikutnya dan menenggelamkan Firaun dengan bala tentaranya.

Tongkat dan kebenaran Wahyu mengalahkan strategi dan kekuatan militer Firaun. Ini mirip juga dengan perjuangan kaum santri dan NU saat bambu runcing dan kekuatan kebenaran wahyu dapat mengalahkan dan mengusir penjajah hengkang di bumi pertiwi ini.

Instrospeksi Gerakan Kita
Menghadapi Firaun saja diperintahkan dengan perkataan dan perbuatan yang lemah lembut. Apalagi menghadapi pemerintah atau penguasa yang belum terbukti kezalimannya atau paling tidak dia tidak sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Paling banter ia melakukan korupsi dan memperkaya diri serta keluarganya. Bukan bermaksud mentolerir perbuatan KKN yang dilakukan penguasa, tapi kita menghadapinya dengan perkataan yang lemah lembut.

Berperang dengan memegang teguh kebenaran wahyu dan keyakinan bahwa kebenaran pasti mengalahkan kebatilan. Selama bukti-bukti nyata atau data kita pegang, maka tidak perlu takut dalam mengeluarkan pendapat.

Cara yang paling elegan dalam menghadapi pemerintah ya dengan audensi misalnya bukan dengan aksi demonstrasi. Demonstrasi bisa menjadi pilihan terakhir dan ketika itu dipilih, maka harus sukses.

Kita tidak boleh asal nuduh tanpa bukti yang utuh. Kalau terbukti pemerintah zalim atau korupsi dengan merampok uang negara misalkan atau menjual aset negara misalkan, mari kita ingatkan dengan cara-cara sopan santun atau dengan cara lemah lembut. Pilihlah soft diplomacy atau gunakan soft power seperti yang diajarkan Nabi Musa dalam menghadapi Firaun.

Tidak boleh menghina, mencela apalagi memfitnah. Jangan hasut dan provokasi rakyat dengan tindakan yang sarkastik dan ujaran-ujaran kebencian karena itu tidak diajarkan dalam Islam.

Khawatir nanti ada yang menyindir, katanya beragama Islam tapi kenapa kata-kata dan tindakannya jauh dari nilai-nilai Islam?

Ataukah mungkin mereka salah dalam memaknai sebuah hadits Rasulullah Saw:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya: “Jihad yang paling utama adalah perkataan yang hak kepada pemimpin yang zalim.” (HR. An-Nasai)

Bahasa كَلِمَةُ حَقٍّ ini jangan dimaknai dengan diperbolehkannya caci maki, hinaan, perkataan kasar, dan juga provokasi karena itu menandakan pemahamannya yang dangkal. Lihatlah bagaimana Syeikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi memaknai hadits ini:

بَلِ الحَدِيْثِ فِي مُجْمَلِهِ يَبْرُزُ أَهَمِّيَةَ الصُمُوْدِ بِالكَلِمَةِ اللَّيِّنَةِ أَمَامَ جَوْرِ السُّلْطَانِ وَزَجْرِهِ

Artinya: “Secara keseluruhan hadits tersebut menekankan keharusan tabah dengan perkataan yang lemah-lembut di hadapan pemimpin yang kejam.”

Jadi, tidak ada ajaran untuk caci maki dalam Islam walaupun berhadapan dengan pemimpin yang zalim sekalipun apalagi pemimpin yang jauh dari kezaliman.

Kalau tidak diajarkan dalam Islam, terus mereka yang suka berteriak-teriak menggunakan ajaran yang mana? Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga