Oleh: Imam Sutaji *)
Di setiap kelahiran, doa yang sama berulang: semoga anak ini menjadi hamba Allah yang saleh-salehah, taat kepada-Nya, dan berbakti kepada orang tua. Doa itu terdengar sederhana—nyaris klise. Namun di tengah zaman yang gaduh oleh ambisi, kompetisi, dan kecemasan sosial, doa tersebut justru terasa radikal.
Seorang sufi abad kedelepan, Ibrahim bin Adham, dikisahkan meninggalkan istana dan kemewahan demi menempuh jalan zuhud. Dalam beberapa riwayat, ia bahkan berpisah dari keluarga untuk meneguhkan cinta kepada Allah. Bertahun-tahun kemudian, ia bertemu kembali dengan anaknya di Makkah—sebuah pertemuan yang lebih menyerupai pelajaran spiritual ketimbang drama emosional.
Kisah itu kerap disalahpahami sebagai glorifikasi menjauh dari tanggung jawab domestik. Padahal, pesan substansialnya justru sebaliknya: anak bukan milik, melainkan amanah. Ia tidak hadir untuk memenuhi ambisi dan ego orang tua, melainkan untuk dituntun menuju kesadaran ilahiah. Di titik inilah pendidikan menemukan makna terdalamnya.
Tiga Kelangkaan
Ibrahim bin Adham pernah menyebut tiga hal yang akan menjadi langka di akhir zaman: saudara yang menenangkan jiwa, satu dirham harta yang halal, dan sunnah yang benar-benar diamalkan. Jika direnungkan hari ini, daftar itu terasa seperti editorial tentang masyarakat modern. Relasi sosial sering kali bersifat utilitarian—kedekatan dibangun atas dasar kepentingan, bukan ketulusan. Ekonomi tumbuh cepat, tetapi integritas tertatih. Agama ramai dalam simbol dan seremoni, namun kerap sunyi dalam praktik keseharian.
Kelangkaan tersebut bukan sekadar ramalan moral, melainkan diagnosis sosial. Ia menyentuh akar pendidikan keluarga. Bagaimana mungkin anak tumbuh jujur jika kompromi etis dinormalisasi di rumah? Bagaimana mungkin anak mencintai sunnah jika agama hanya hadir sebagai ritual tanpa makna?
Tiga Penyakit Batin
Sang sufi juga mengingatkan tiga perkara yang membinasakan: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa bangga diri (ujub). Tiga hal lainnya menutup hati dari manisnya ibadah: cinta dunia, takut miskin, dan ketergantungan berlebihan kepada manusia.
Daftar ini terasa seperti ringkasan psikologi modern dalam bahasa spiritual. Kekikiran bukan sekadar soal harta, melainkan mentalitas kekurangan. Ujub bukan hanya kesombongan, melainkan ilusi kemandirian absolut—merasa cukup tanpa Tuhan. Cinta dunia bukan larangan bekerja keras, melainkan peringatan agar dunia tidak menjadi pusat orbit kehidupan.
Anak-anak hari ini tumbuh dalam kultur pencapaian. Nilai rapor, peringkat, sertifikat, dan prestise sosial menjadi ukuran keberhasilan. Namun jarang ada “rapor” tentang kejujuran, empati, atau ketulusan. Pendidikan formal membentuk kompetensi; keluarga seharusnya membentuk nurani.
Investasi yang Tak Terputus
Dalam tradisi Islam dikenal konsep tiga amal yang tidak terputus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh. Anak, dengan demikian, bukan sekadar generasi penerus, melainkan cermin kualitas pendidikan orang tua.
Batas minimal anak saleh adalah tetap teguh dalam iman. Pernyataan ini terdengar sederhana. Namun di tengah arus relativisme nilai dan krisis identitas, menjaga iman saja sudah menjadi perjuangan yang tidak ringan. Ikhtiar itu dimulai sejak awal kehidupan: adzan di telinga bayi sebagai bisikan tauhid pertama, pemberian nama yang baik sebagai doa sepanjang hayat, hingga aqiqah sebagai ekspresi syukur. Namun ritual hanyalah pintu masuk.
Pendidikan sejatinya berlangsung dalam percakapan sehari-hari, dalam teladan yang konsisten, dalam cara orang tua menyikapi marah, gagal, dan berhasil. Anak belajar bukan terutama dari nasihat panjang, melainkan dari contoh yang diam-diam.
Mendidik di Tengah Kegelisahan
Zaman ini gelisah. Orang tua cemas anaknya tertinggal. Anak cemas tak mampu memenuhi ekspektasi. Sekolah berlomba mencetak keunggulan. Media sosial memamerkan keberhasilan instan. Dalam tekanan seperti itu, doa agar anak menjadi hamba Allah yang taat terasa seperti jeda sunyi—penegasan bahwa hidup bukan sekadar kompetisi.
Di situlah relevansi Ibrahim bin Adham hari ini. Ia mengingatkan bahwa orientasi hidup menentukan arah pendidikan. Jika dunia menjadi tujuan akhir, anak akan dibentuk sebagai alat pencapai ambisi. Jika Allah menjadi pusat, anak akan dididik sebagai subjek yang merdeka secara spiritual.
Pada akhirnya, mendidik anak adalah proyek jangka panjang yang melampaui usia orang tua. Ia adalah investasi nilai yang hasilnya mungkin tidak segera tampak. Namun dari sanalah peradaban bermula: dari rumah yang menjadikan cinta kepada Allah sebagai poros, dan memandang anak bukan sebagai beban ekspektasi, melainkan amanah yang dirawat dengan kesadaran dan kasih sayang.
*) Imam Sutaji, Instruktur PD-PKPNU Wilayah Jawa Timur sekaligus pengurus Lembaga Dakwah PCNU Sumenep
Editor: A Habiburrahman

