Image Slider

Jatuh Cinta ala Patriarkisme

Oleh: Lukmanul Hakim

Kenapa perempuan hanya ditugaskan untuk berdandan dan menunggu untuk dideketin duluan? Kenapa perempuan tidak boleh make a move duluan kalau mau deketin laki-laki? Jatuh cinta saja kok repot, masak perempuan tidak boleh menyatakan suka duluan.

Sebenarnya, penulis pun bertanya-tanya bagaimana konstruksi sosial seperti ini terbentuk. Nah, yang menentukan perempuan tidak boleh suka duluan itu siapa? Tuhan tidak pernah menitahkan hal tersebut. Inilah yang penulis sebut sebagai jatuh cinta ala patriarkisme, maksudnya dalam perihal jatuh cinta, aktivitas ini terpengaruh bias gender untuk menentukan siapa yang boleh menyatakan perasaannya lebih dulu.

Bukan hanya persoalan siapa yang deketin duluan, tapi persoalan tentang siapa yang bayarin makan, siapa yang harus dimengerti, siapa yang harus minta maaf lebih dulu, dan masih banyak hal sepele lainnya yang terpapar pengaruh patriarki.

Pandangan seperti inilah yang akhirnya melanggengkan budaya patriarkisme hingga ke tingkat lembaga keluarga dan kehidupan sosial politik. Bayangkan saat masa pra percumbuan (masa PDKT) saja sudah ditentukan bahwa yang boleh melakukan pendekatan terlebih dahulu itu laki-laki. Perempuan dianggap tabu melakukan hal itu karena sudah tugasnya hanyalah untuk mempercantik diri dan menunggu seseorang melihat pesonanya.

Bukankah setiap insan memiliki hak untuk membuktikan kualitas dirinya tanpa memandang gender dan latar belakang lain? Pandangan ini memiliki pola yang sama bahwa perempuan tidak seharusnya untuk bekerja dan membuktikan kualitas dirinya dan hanya menunggu di rumah mengurus pekerjaan rumah tangga. Bukan hanya itu, ketimpangan dalam kesempatan dunia politik, pendidikan, dan juga adanya kasus kekerasan domestik dalam keluarga menjadi akibat dari sistem patriarki.

Mari kita tilik terlebih dahulu bagaimana sistem patriarki dapat mengakar dalam kehidupan masyarakat sekarang. Menurut Harari (2014) berawal dari nenek moyang kita pada masa pemburu, pengumpul, dan pendikotomian tugas secara tegas antara lelaki dan perempuan. Lelaki bertanggungjawab untuk berburu dan mengumpulkan makanan serta melindungi keluarga atau kelompok, sedang perempuan bertugas untuk melahirkan serta mengurus urusan domestik lainnya. Mengapa nenek moyang kita membagi tugas seperti ini?

Karena, secara biologis memang fisik perempuan tidak digunakan untuk melakukan pekerjaan kasar, sedangkan lelaki cenderung memiliki otot yang lebih besar. Atas dasar pertimbangan fisik dan efektifitas kerja inilah, maka nenek moyang kita membagi tugas seperti yang saya jelaskan sebelumnya di atas. Pada masa tersebut memang perlu diakui bahwa sistem kepemimpinan patriarki berjalan cukup relevan pada zaman tersebut.

Sayangnya, setelah masa pemburu dan pengumpul ini telah usai, budaya pembagian tugas ini masih terekam pada gen-gen yang diturunkan ke generasi selanjutnya (disebut juga sebagai memori genetis) dan justru berkembang menjadi budaya patriarkisme yang kita kenal sekarang. Sedangkan peradaban manusia modern masih seperti janin dalam periode sejarah kehidupan umat manusia, jadi wajar apabila memori genetis tentang kesetaraan gender dan emansipasi bagi wanita masih memiliki porsi yang begitu kecil.

Pertanyaannya mengapa sekarang ini sistem patriarkisme tidak lagi relevan dalam kehidupan manusia modern? Setelah melewati masa revolusi kognitif (yang ditandai dengan berubahnya pola kehidupan pemburu dan pengumpul menjadi pemukim) sampailah kita ke peradaban manusia modern. Zaman dimana manusia sudah menciptakan alat-alat untuk membantu bertahan hidup. Teknologi berkembang begitu pesat, manusia semakin mudah untuk mengakses kebutuhan penunjang hidupnya.

Sehingga segala aktivitas demi menyambung hidup seperti makan, berburu, bercocok tanam yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh laki-laki karena kemampuan fisiknya sekarang sudah bisa dipenuhi oleh setiap gender. Apabila diskriminasi kepada perempuan yang muncul karena alasan yang sama seperti nenek moyang kita terdahulu sesungguhnya argumentasi tersebut tidak lagi relevan.

Setelah berabad-abad patriarki dalam masyarakat ini mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat akhirnya pada abad ke-18 munculah gerakan feminisme dimulai dan berkembang pesat sepanjang abad ke-20 yang dimulai dengan penyuaraan dan persamaan hak politik bagi perempuan. Dalam tulisannya Suwastini (2019) menulis bahwa tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal yang berisi kritik terhadap revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan.

Satu abad setelahnya di Indonesia, Raden Ajeng Kartini ikut membuahkan pemikirannya mengenai kritik keadaan perempuan Jawa yang tidak diberikan kesempatan mengecap pendidikan yang setara dengan laki-laki, selain dari kritik terhadap kolonialisme Belanda. Walaupun pendapat feminis bersifat pluralistik, namun satu hal yang menyatukan mereka adalah keyakinan mereka bahwa masyarakat dan tatanan hukum bersifat patriaki.

Aturan hukum yang dikatakan netral dan objektif sering kali hanya merupakan kedok terhadap pertimbangan politis dan sosial yang dikemudikan oleh ideologi pembuat keputusan, dan ideologi tersebut tidak untuk kepentingan wanita. Sehingga secara garis besar tujuan besar feminisme adalah tuntutan terhadap kesederajatan gender.

Pola kehidupan bercorak patriarki sangat sulit digulingkan. Faktanya, yang menyebabkan patriarkisme masih nyaman berkembang di masyarakat terkadang adalah kaum perempuan sendiri. Beberapa dari mereka terkadang menerima begitu saja subordinasi kaum wanita dan hegemoni kaum lelaki. Salah satu cirinya adalah pada fenomena jatuh cinta di masa remaja.

Seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya di atas, dengan budaya patriarki yang tidak kita sadari, kebiasaan-kebiasaan menempatkan wanita sebagai pihak yang pasif dengan legitimasi “kodrat” menjadikan wanita seolah-olah menerima subordinasi tersebut. Hal ini mereka lakukan secara tidak sadar, mereka hanya mengikuti kebiasan-kebiasan yang memang sudah ada dari dulu. Bahkan generasi sebelumnya biasa disebut sebagai orang tua kita, ikut menyirami akar patriarki hingga tumbuh subur seperti sekarang.

Sebagai contoh masih banyak diantar generasi orang tua kita yang berkata seperti ini “kamu itu yang penting cantik biar nanti ada banyak cowok yang mau deketin kamu” atau “kamu itu tidak perlu pintar-pintar, nanti cowok malah pada minder.” Kalimat yang keluar dari orang tua kita ini justru menjadi pupuk yang penuh zat hara untuk menyuburkan tanaman-tanaman patriarki.

Maka generasi muda sekarang ndak perlu muluk-muluk membaca ratusan literatur terkait feminisme kalau perempuan zaman sekarang belum berani menyatakan cintanya duluan hanya karena streotipe seperti diatas. Dan bagi para lelaki tidak perlu berpikir macam-macam tentang kesetaraan gender kalau pikiranmu masih setiap jalan sama dia harus kamu yang bayarin. Hubungan itu tentang dua insan yang saling mencintai dan memahami, bukan tentang cewek yang selalu benar dan cowok yang selalu minta maaf duluan.

*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga