Image Slider

Haul Muassis di Talaga, Kiai Sihab : Hilangnya Barokah Sebab Jauh dari Ulama

Nonggunong, NU Online Sumenep

Berpusat di Pendopo Agung Pakbima, Desa Talaga, Haul Muassis dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) ke-99 Nahdlatul Ulama digelar oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Talaga, Ahad (13/02/2022).

Acara yang diawali dengan pembacaan tahlil bersama untuk para Muassis NU ini dipimpin oleh Rais MWCNU Nonggunong, KH Abd Karim. Turut hadir dalam acara ini pengurus MWCNU Nonggunong, PR GP Ansor, perangkat desa, dan warga Nahdliyyin setempat.

K Mursidi Nur yang mewakili pengurus MWCNU Nonggunong dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk menyekolahkan anak cucu mereka ke lembaga pendidikan NU.

“Mari kita menitipkan atau menyekolahkan anak cucu kita ke lembaga atau pendidikan berbasis NU yang sanad keilmuannya jelas, karena sejarah membuktikan bahwa Indonesia merdeka berkat jasa dan pengorbanan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia, yang dibuktikan dengan adanya fatwa Resolusi Jihad dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari sehingga setiap tahunnya kita kenal dan diperingati sebagai Hari Santri dan Hari Pahlawan Nasional,” ungkapnya

Lebih lanjut, K Mursidi juga menyampaikan bahwa kegiatan puncak Harlah ke-99 NU sekaligus pelantikan pengurus lembaga NU di MWCNU Nonggunong akan dilaksanakan pada Rabu, (16/02/2022) yang bakal dihadiri Rais PCNU Sumenep.

“Kami mengharap agar warga Nahdliyyin Talaga hadir dengan kompak ke acara puncak di Kantor MWCNU pada malam Kamis, 16 Rajab 1443 H mendatang,” harapnya.

Sementara KH Sihabuddin Imam yang hadir sebagai penceramah menyampaikan bahwa Jam’iyah Nahdlatul Ulama didirikan oleh ulama-ulama pesantren pada 16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926 yang berasaskan Ahlussunnah wal jama’ah dengan dasar Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas.

“Ketika itu Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Rasulullah SAW karena menjadi tujuan ziarah, yang dianggap bid’ah. Tak hanya itu, bahkan Raja Saud juga menginginkan kebijakan untuk menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya. Penolakan praktik bermadzhab ini terjadi sejak Ibnu Saud yang beraliran Wahabi menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah). Maka para ulama mengutus Komite Hijaz,” dawuhnya.

Kiai Sihab yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sonok Nonggunong itu juga menyampaikan pentingnya bermadzhab dan mengikuti Ulama, sebab apabila seseorang jauh dari ulama maka akan kehilangan barokah.

“Memahami Al-Qur’an dan Hadits tidak bisa tanpa guru. Harus melalui guru atau ulama, melalui medsos silahkan baik, namun tetap melalui guru biar tidak salah paham dan sesuai dengan isi ajaran NU mengamalkan dalam ahlussunnah wal jama’ah. Makanya, Barokah hilang sebab jauh dari ulama. Penguasa dzalim sebab rakyat yang termakan oleh songok-menyongok, sehingga hasilnya banyak namun barokahnya hilang, itu juga disebabkan meninggalkan atau jauh dari Ulama,” tegasnya.

Pewarta: Faruq Poday
Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga