Image Slider

Momentum Istiwaul A’dham 1447 H, LFNU Ukur Arah Kiblat Kantor PCNU Sumenep

Kota, NU Online Sumenep 

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sumenep memanfaatkan momentum Istiwaul A’dham 1447 H untuk melakukan pengukuran arah kiblat di lingkungan Kantor PCNU Sumenep, Kamis (28/05/2026) pukul 16.18 WIB.

Istiwaul A’dham atau Rashdul Kiblat merupakan fenomena astronomis ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah di kota Makkah. Pada saat itu, sinar matahari yang jatuh ke bumi seolah memancar langsung dari arah Ka’bah sehingga dapat dimanfaatkan untuk menentukan arah kiblat secara akurat.

Secara astronomis, fenomena ini terjadi ketika deklinasi matahari sama dengan lintang Ka’bah, yakni sekitar 21° 25’ Lintang Utara. Peristiwa tersebut umumnya berlangsung dua kali dalam setahun, yakni sekitar 27–28 Mei dan 15–16 Juli.

Ketua LFNU Sumenep, Kiai Fathor Rois, menjelaskan bahwa pengukuran arah kiblat penting dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan arah shalat yang digunakan masyarakat.

“Memang secara fikih sah saja ketika kita menghadap ke barat (jihatul qiblah), tetapi alangkah baiknya walaupun kita tidak menghadap langsung ke ‘ainul qiblah, kita mengetahui seberapa jauh kita melenceng dari kiblat yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi Kantor PCNU Sumenep. Menurutnya, tanpa pengukuran yang tepat, jamaah bisa saja mengikuti kebiasaan masyarakat Indonesia yang sedikit menggeser arah shalat ke kanan. Padahal, berdasarkan posisi bangunan kantor yang cenderung menghadap ke utara, arah kiblat yang benar justru sedikit bergeser ke kiri.

“Pengukuran arah kiblat di Kantor PCNU Sumenep sebenarnya pernah dilakukan sebelumnya. Namun, selama dua periode kepengurusannya, observasi yang memanfaatkan momentum Istiwaul A’dham baru pertama kali dilaksanakan,” terangnya.

Sementara itu, Dr Achmad Mulyadi, anggota LFNU Sumenep, menjelaskan bahwa metode Rashdul Kiblat memiliki tingkat akurasi sangat tinggi karena memanfaatkan posisi matahari yang tepat berada di atas Ka’bah.

“Dengan kondisi tersebut, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menunjukkan arah yang berlawanan dengan posisi Ka’bah sehingga dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat secara presisi,” katanya.

Menurutnya, metode ini memiliki keunggulan karena tidak sepenuhnya bergantung pada kompas yang sering dipengaruhi medan magnet maupun gangguan lingkungan sekitar.

“Selain memiliki nilai ilmiah, fenomena Istiwaul A’dham juga menunjukkan eratnya hubungan antara ilmu pengetahuan dan praktik ibadah dalam Islam. Ilmu astronomi tidak hanya digunakan untuk mengkaji benda langit, tetapi juga membantu pelaksanaan ibadah umat Islam, mulai dari penentuan waktu salat, awal bulan hijriah, hingga penentuan arah kiblat,” tuturnya.

Karena itu, momentum Rashdul Kiblat menjadi kesempatan penting bagi masyarakat dan lembaga keagamaan untuk melakukan pengecekan ulang arah kiblat agar tetap sesuai dengan posisi Ka’bah secara akurat.

Ia menjelaskan, kegiatan pengukuran di Kantor PCNU Sumenep ditutup dengan penempelan stiker penanda arah kiblat pada titik yang telah ditetapkan. Harapannya, dapat menjadi panduan bagi warga NU dan masyarakat yang beribadah di lingkungan kantor PCNU.

“Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara ilmu falak dan praktik ibadah umat Islam sehingga ketepatan arah kiblat dapat terus terjaga berdasarkan pendekatan ilmiah dan syar’i” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga