Oleh: Lukmanul Hakim
Saat ini telah memasuki salah satu bulan yang sangat diistimewakan oleh Allah SWT. Dalam kalender Hijriah, bulan Rajab merupakan bulan ketujuh, di mana pada bulan ini segala amal perbuatan akan dilipatgandakan baik itu berupa pahala maupun dosa.
Bulan Rajab adalah bulan mulia. Dikatakan demikian sebab ia masuk dalam kategori bulan-bulan haram yang begitu dimuliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Taubah ayat 36:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ ۗ وَقَا تِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآ فَّةً كَمَا يُقَا تِلُوْنَكُمْ كَآ فَّةً ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 36).
Selain itu juga terdapat hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwasanya bulan Rajab itu adalah bulannya Allah SWT sebagaimana berikut:
رجب شهر الله وشعبان شهرى ورمضان شهرأمتى أخرجه الديلمى
Artinya: “Rajab adalah bulannya Allah SWT, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadlan adalah bulan umatku.” (HR. Ad-Dailami).
Keutamaan dan Kemuliaan Bulan Rajab
Salah satu keutamaan bulan ini ialah duplikat atas amalan seseorang, baik itu berupa amal baik maupun amal buruk. Dalam momen ini, Allah SWT melarang kita cenderung terhadap kemaksiataan, sebab bulan-bulan haram adalah bulan yang terpelihara. Artinya, kaum muslim senantiasa menjaga segala aktivitasnya agar tidak sampai menjerumuskan diri pada hal-hal yang dosa semisal ghibah, zina, riba, dan sebagainya. Begitupun sebaliknya, kaum Muslim berusaha meningkatkan amal-amal salih, memperbaiki shalat, meningkatkan tadarus qur’an, melatih diri shalat Dhuha dan Tahajjud, sedekah Shubuh, dan masih banyak lagi amalan shalih lainnya. Tentu saja mengupayakan untuk menjalankan seluruh perintah-Nya.
Kezaliman tidak dibenarkan pada bulan-bulan biasa, apalagi di bulan suci ini. Baik menzalimi diri sendiri, apalagi menzalimi antarsesama. Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan haram (termasuk pada bulan Rajab) ini lebih besar. Begitu juga amal salih yang dilakukan pada bulan-bulan haram pahalanya amatlah besar. Istimewanya lagi, pada bulan ini pula momen terbaik untuk bertaubat.
Di samping anjuran untuk meraih keutamaan bulan Rajab di atas, ternyata banyak kemuliaan bagi kaum muslimin terealisasi di bulan Rajab ini. Seperti Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW pada tahun ke-10 kenabian, di mana saat itulah Allah SWT memerintahkan kewajiban shalat. Nabi SAW didaulat menjadi imam para Nabi dan Rasul terdahulu di Baitul Maqdis sekaligus dikukuhkan sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.
Selain itu, begitu banyak penaklukan dan pembebasan kaum muslim yang terjadi di bulan ini. Seperti pembebasan kota Damaskus (Syam) oleh kaum Muslim di bawah panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. dan Khalid bin al-Walid ra.
Tak ayal, dahulu kaum muslim begitu antusias memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram, termasuk Rajab. Mereka melakukan berbagai macam amalan mulia dan mempersembahkan prestasi menakjubkan yang tidak lain demi tercapainya kemuliaan Islam dan kaumnya. Mestinya hal serupa dilakukan pada saat ini, kaum muslim senantiasa memuliakan bulan-bulan haram dengan melipatgandakan amal-amal terbaik. Lantas, bagaimana caranya?
Meraih Kemuliaan di Bulan Rajab
Melaksanakan amal-amal shalih adalah kewajiban bagi umat muslim. Menjalankan perintah Allah SWT secara menyeluruh, bukan hanya sebagian. Allah SWT berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208).
Kaffah artinya totalitas, tidak tebang pilih syariat melainkan ikhlas menjalankan semua aturan Allah SWT, mulai dari ibadah mahdhah, sosial-budaya, ekonomi, politik, hingga pemerintahan.
Level amalan shalih mesti terus ditingkatkan, utamanya amal-amal prioritas. Termasuk amal prioritas adalah menunaikan amalan fardhu ‘ain (kewajiban setiap muslim) seperti bermajelis, menutup aurat, dan lainnya. Begitu pula fardhu kifayah (kewajiban atas sebagian muslim) seperti memandikan, mengkafani, serta menguburkan jenazah, hanya butuh eksekusi dari sebagian muslim saja. Maka, muslim yang lain tak akan diwajibkan atasnya.
Namun, perlu kita pahami bahwa amalan fardhu kifayah selain mengurus jenazah, ternyata ada yang lebih urgen, yaitu mengangkat pemimpin umat Islam yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan. Saking urgennya, para ulama menjuluki amalan ini sebagai tajul furudh (mahkota kewajiban). Artinya ketika amalan ini teralisasi maka seluruh amalan-amalan yang lain akan terlaksana dengan efektif. Tapi sayangnya, amal salih ini belum terealisasi sebagaimana mestinya bahkan sejak ratusan tahun yang lalu.
Hilangnya institusi Islam yang menerapkan Islam kaffah sejak tahun 1924 silam, benar-benar telah membuka pintu keburukan bagi umat Islam. Pemahaman sekularisme yang mendominasi hidup mereka menjadikan umat semakin jauh dari identitasnya sebagai Muslim, maksiat dimana-mana, sementara umat yang taat dan patuh hanya kepada Allah SWT dan memperjuangkan Islam, justru dieksekusi.
Marilah kita jadikan momentum menggolarakan semangat, mengokohkan tekad untuk berpartisipasi semaksimal mungkin guna mewujudkan penerapan syariah Islam kaffah sebagai wujud hakiki ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga umat bisa mempersembahkan amalan terbaik di bulan Rajab tahun 2022 ini agar kemuliannya dapat kita capai.
*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

