Image Slider

Kerja Sama, Sama-Sama Kerja, Jangan Mengerjai Sesama

Oleh: Abdul Hadi *)

Malam itu dingin. Angin seperti ikut duduk di beranda. Saya tiba-tiba ingat bapak.

Dulu, hampir setiap malam beliau keluar rumah. Saya digandeng, diajak dari satu “kompolan” ke kompolan lain. Duduk di atas tikar. Minum kopi. Makan seadanya. Kadang yasinan, kadang tahlil, membaca barzanji atau diba’. Setelah itu obrolan panjang—kadang serius, kadang penuh tawa.

Saya tidak paham apa-apa waktu itu.

Saya hanya tahu: bapak sering disalami orang. Dipanggil jika ada musyawarah. Dimintai pendapat ketika ada persoalan.

Bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti.

Saat masuk IPNU, saya tahu bapak ternyata ketua kompolan rutin jamaah Nahdlatul Ulama. Masuk PMII, saya mulai mengenal wajah NU yang lain: bukan hanya yasinan dan tahlilan, tetapi juga gagasan, diskusi, bahkan perdebatan. Di Ansor, saya berjumpa dengan realitas yang lebih keras: idealisme, ego, perbedaan strategi, dan—kadang—gesekan.

Di situlah saya sadar: menjadi pengurus NU bukan soal stempel.

Bukan soal nama tercetak di kop surat.

Bukan soal duduk di kursi paling depan saat acara.

Ia adalah amanah.

Dan ada satu kalimat yang terus terngiang sampai sekarang:

“Bisa kerja sama, sama-sama kerja, dan jangan mengerjai sesama.”

Kalimat sederhana.

Tapi jika direnungkan, dalam sekali.

Dari perjalanan itu saya memahami satu hal: khidmah itu sunyi.

NU didirikan oleh para muassis. Salah satunya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Beliau tidak mendirikan organisasi ini untuk lomba jabatan. NU lahir untuk menjaga agama dan merawat bangsa. Itu saja.

Karena itu, ber-NU semestinya soal pengabdian.

Bukan karier.

Bukan panggung.

Apalagi batu loncatan.

Kalau niatnya lurus, menjadi pengurus terasa ringan. Tapi jika niatnya bergeser sedikit saja, jam’iyah bisa berubah menjadi arena kompetisi yang melelahkan.

Kita sering lupa: struktur itu alat. Tujuannya tetap kemaslahatan.

Siap berkhidmat, bukan dilayani.

Siap bekerja, bukan sekadar tampil.

Siap berkorban, bukan sibuk menghitung keuntungan.

Kalimat-kalimat itu sering kita dengar. Persoalannya: sudahkah kita menjalankannya?

NU punya AD/ART. Punya keputusan muktamar. Punya mekanisme organisasi yang jelas. Tetapi NU hidup bukan hanya karena aturan. Ia hidup karena nilai: tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal.

Empat kata yang sering diucapkan. Kadang lebih sering dihafal daripada dipraktikkan.

Di ruang rapat, perbedaan itu biasa. Bahkan sehat. Yang tidak biasa adalah ketika perbedaan berubah menjadi dendam. Musyawarah itu indah—asal tidak ada yang datang dengan keputusan final di kepala dan menutup telinga sejak awal.

Kritik itu penting. Tapi kritik yang baik membangun, bukan menjatuhkan.

Di zaman media sosial, satu status bisa lebih tajam daripada pidato panjang. Pengurus NU bukan lagi pribadi sepenuhnya privat. Apa yang ia tulis bisa dianggap suara organisasi. Di situlah marwah dipertaruhkan.

Kita boleh berbeda. Tapi jangan sampai perbedaan menggerus adab.

Kadang kita terlalu percaya pada semangat. Padahal organisasi juga membutuhkan kemampuan.

Memahami sejarah NU itu penting—agar tidak mudah goyah oleh wacana luar. Punya visi itu penting—agar jamaah tidak berjalan tanpa arah. Mampu mengelola program itu penting—agar kegiatan tidak berhenti pada proposal dan foto dokumentasi.

Profesionalisme bukan lawan dari keikhlasan. Justru ia bagian dari amanah.

Di era digital ini, pengurus harus cakap. Jangan kalah cepat. Tapi juga jangan ikut-ikutan gaduh. Idealisme tanpa profesionalisme hanya akan menjadi slogan: bagus di spanduk, sepi di lapangan.

NU sering disebut rumah besar. Rumah besar artinya banyak kepala. Banyak cara berpikir. Banyak latar belakang.

Mustahil semua sepakat dalam segala hal.

Yang mungkin adalah saling mengerti.

Saling menahan diri.

Saling menjaga.

Di sinilah kalimat itu kembali relevan:

Kerja sama.

Sama-sama kerja.

Jangan mengerjai sesama.

Jangan sibuk mencari panggung.

Jangan terlalu ingin disebut paling berjasa.

Jangan cepat tersinggung.

Pengurus yang baik sering tidak terlihat. Tapi kerjanya terasa. Namanya jarang disebut. Tapi manfaatnya nyata.

Dan kita semua—termasuk saya—tentu pernah khilaf. Karena itu, tulisan ini pertama-tama adalah pengingat bagi diri sendiri.

Malam makin larut. Saya kembali ingat bapak.

Berjalan dari satu kompolan ke kompolan lain. Tanpa sorotan. Tanpa kamera. Tanpa unggahan media sosial.

Saksi bisu yang tak tercatat sejarah: tikar sederhana. Kopi hangat. Dan khidmah yang sunyi.

Barangkali di situlah inti berorganisasi: bekerja dalam diam, memberi tanpa ribut, menjaga kebersamaan meski kadang harus mengalah sedikit.

NU kini telah memasuki abad kedua. Ia bertahan bukan karena tidak pernah berbeda, tetapi karena tahu cara mengelola perbedaan.

Sisanya? Tergantung kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga