Cerpen: Fahrur Rozi*
Tenanglah Hasan, aku akan menjaga rahasiamu. Aku sangat pandai menjaga rahasia dan kau berulang kali mengakuinya. Singkirkanlah wajah pucatmu, sebab tak berapa lama lagi kuyakin bening di pelupuk matamu akan segera tumpah.
Abi yang duduk di sampingmu pasti akan marah jika aku mengatakan kebenarannya. Kuyakin selepas itu, kau pun akan pergi. Kita tidak bisa bermain bung tepak lagi, atau menangkapi capung selepas hujan. Aku sungguh tidak ingin bermain sendiri.
Hasan yang kini mematung di samping kasur itu tak lain adalah khodim abi. Lima belas tahun lalu, dia pernah menyantri pada abi. Saat itu, pondok pesantren binaan abi masih berdiri kokoh. Namun, selepas ibu meninggal setelah melahirkanku, abi memutuskan menutup pondok. Hasan pun harus putus sekolah.
Sepatutnya Hasan kembali kepada keluarganya di pulau seberang. Tapi dia memutuskan untuk bertahan. Berkali-kali aku bertanya mengapa dia mau menjadi khodim yang sepengetahuanku tak jauh beda dari pembantu. Pembantu mestilah digaji, namun kuyakin dia pun sadar bahwa abi kesulitan untuk sekadar menggajinya.
“Tidak ada alasan Ra. Mungkin karena barokah.”
“Barokah?”
“Ya, itu semacam sihir yang membuat nasib buruk berubah jadi nasib baik.”
Aku tak begitu memahami ucapan Hasan. Dia hanya tersenyum seperti biasa. Aku jadi teringat ucapan abi dahulu tentang orang berilmu. Katanya mereka suka tersenyum, wajahnya teduh seperti embun pagi, dan jika bersuara, yang terdengar hanya kelembutan. Pada Hasan kutemukan semua kriteria itu.
Memahami Hasan adalah persoalan yang rumit. Namun, lebih rumit lagi mengungkap alasan mengapa dia berubah jadi pemurung sejak seorang lelaki buncit bertamu hampir dua minggu lalu. Aku melihat wajahnya selalu memutih pucat saat bertemu lelaki berkepala plontos yang tersengal-sengal setiap tertawa itu.
Aku sudah menyimpan rasa tidak suka sejak awal si Buncit bertamu. Cara bicaranya menunjukkan betapa dia berlaku kurang hormat. Kadang dia menyela ucapan abi tanpa permisi, padahal itu merupakan hal yang tidak abi sukai karena kurang andhap asor. Seringkali juga ketika bicara, dia menyemburkan liur dari mulutnya. Aku bergidik setiap kali melihat titik-titik itu menyentuh meja, kursi, bahkan baju abi. Lelaki buncit itu benar-benar jauh berbeda dengan tamu-tamu abi sebelumnya.
Lalu Hasan datang membawa sekendi kopi dengan dua cangkir kecil di atas nampan plastik bermotif bunga. Seperti biasa, dia selalu menunduk kapan memasuki ruangan yang terdapat abi di dalamnya. Dia tidak pernah berani mengangkat wajah, dan kuyakin dia pun tidak sadar betapa menjengkelkannya si Buncit.
“Kamu, cong Hasan?” tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut si Buncit saat Hasan sudah menaruh nampan, dan hendak beranjak. Mau tidak mau Hasan mengangkat wajah. Itu kali pertama dia melakukan hal tersebut dalam perjalanan hidupnya sebagai penyuguh kopi bagi tamu abi. Namun, daripada senang karena ada kenalan menyapa, yang kulihat hanya raut tegang menghiasi wajahnya. Dia ketakutan.
“Sampeyan kenal Hasan?” tanya abi.
“Hahaha, tentu kiai. Dia kan anak Mak Iyeh, salah satu orang yang berutang pada saya. Mestilah saya tahu.” Lelaki itu tertawa, dan aku semakin jengkel padanya.
Hanya setelah beberapa saat berbasa-basi, lelaki itu akhirnya melepaskan Hasan. Dia kemudian pergi dengan cepat, bahkan mengabaikanku yang berdiri di dekat pintu dapur.
Hari itu dia menghilang. Mungkin menyendiri. Berkali-kali kucari dia di sekitar rumah dan tempat-tempat kami biasa bermain. Namun, sekadar bayangannya pun tak nampak.
Baru kuketahui setelahnya bahwa si Buncit adalah Sapri. Dia sekretaris desa Kandangan yang digadang-gadang bakal menggantikan posisi kalebun yang mati mendadak. Pantaslah dia berlaku jemawa.
Aku yakin tak bakal ada hal baik yang terjadi setelah kepergiannya. Itu terbukti seminggu kemudian. Aku jatuh sakit. Cukup parah.
“Sepertinya Lora kasambet ketika bermain di gardu rusak pinggir sungai, kiai,” ucap Hasan. Dua hari lalu kami memang bermain di sana. Kami mencari undur-undur di pasir yang menumpuk di retakan lantai semennya. Lalu, kami membuat semacam perkampungan undur-undur, dan melemparkan satu-satu semut ke setiap corong rumah mereka.
Gardu tua itu memang menyeramkan, dan menurut desas-desus di sana ada penunggu wanita tua berjubah putih. Aku tidak pernah melihatnya, dan karena itu aku menolak percaya.
“Empat puluh derajat celcius Hasan, tinggi sekali. Memangnya kalian ngapain sampai seperti ini?” tanya abi sambil menunjukkan angka yang tertera di termometer. Hasan menunduk.
Abi mengusap wajah. Dia nampak bingung. Frustasi. Musim sedang tidak menentu, dan hasil panen daun tembakau kurang memuaskan. Aku berani bertaruh, pasti isi dompetnya cukup kerontang.
Aku memaksakan senyum untuk membuat abi tenang. Tapi sepertinya wajahku malah jadi lebih menyedihkan, sebab wajah abi kian menghitam.
Kulirik Hasan yang sedari tadi menunduk, tidak berani menatapku. Tubuhnya bergetar. Sepertinya dia menangis.
Aku tahu rahasiamu Hasan, tapi tolong jangan tegang begitu. Kita adalah kawan, dan sepatutnya kawan saling menjaga rahasia.
Hari itu, Sapri gagal membujuk abi untuk turut mendukung kerabat jauhnya yang bakal mencalonkan diri menjadi bupati. Abi menolak walau dijanjikan mendapat bagian amplop dari seseorang di kota kabupaten.
Walau tertolak, tapi ternyata Sapri pantang menyerah. Mungkin menurutnya suara abi terlampau sayang jika tidak didapatkan. Maka, pada suatu malam lelaki itu menelepon Hasan, tepat saat kami hendak tidur.
Bukan aku tak mendengar isi percakapan mereka, aku mendengar semuanya, termasuk ancaman pembunuhan terhadap keluarga Hasan. Saat dia akhirnya gegas beranjak pergi dengan mengendap-endap, aku memutuskan diam-diam mengikutinya.
Dengan langkah yang kuusahakan seringan mungkin agar tidak menghasilkan suara, kubuntuti dia hingga ke bawah pohon mangga yang berada di seberang sawah barat rumah. Di bawah kanopinya yang berpenerangan beberapa tempias sinar rembulan, kulihat Sapri berdiri dengan pongah.
“Ingat ya Hasan, tidak ada kata gagal,” ucap Sapri sambil menyerahkan botol kaca kecil ke genggaman Hasan. Itu pasti racun yang kucuri dengar dari telepon keduanya.
Hasan, aku tahu betul racun itulah yang seringkali kau campurkan ke susuku. Tapi demi kau aku tetap meminumnya. Lihatlah kini Sapri datang lagi ke rumah dengan senyum menjijikkan. Dia menawarkan bantuan untuk membawaku berobat. Bukan tawaran cuma-cuma tentunya. Walau enggan, kupegang tangan abi untuk meyakinkannya menerima tawaran tersebut.
Kulihat kau semakin menunduk Hasan. Tidak perlu merasa bersalah. Rahasiamu aman bersamaku.
Subang, 2025-2026
- Permainan tradisional Madura di mana pemain mencoba merubuhkan tumpukan pecahan genteng dengan batu dari jarak tertentu.
- Khodim: santri yang khusus membantu pekerjaan rumah di kediaman kiai.
- Lora, disingkat Ra: panggilan untuk anak kiai. Semacam Gus kalau di Jawa.
- Andhap asor: sopan santun dalam budaya Madura
- Cong: nak (B. Madura)
- Kalebun: Kepala desa (B. Madura)
- Kasambet: semacam terkena kutukan jin penunggu, sehingga mengalami sakit
Fahrur Rozi adalah santri Ponpes TMI Al-Amin, Prenduan, Sumenep. Karya-karyanya bertebaran di media nasional serta memenangkan sayembara penulisan cerpen dan puisi tingkat nasional.

