Image Slider

Dedikasi Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Khalifah Utsman bin Affan RA merupakan khalifah ketiga dalam sejarah Islam setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Masa kepemimpinannya diwarnai oleh berbagai ujian dan fitnah besar yang mengguncang persatuan umat Islam. Bahkan Rasulullah SAW telah memberikan isyarat bahwa pada masa tertentu akan muncul fitnah yang begitu dahsyat dan berlapis-lapis.

Dalam situasi tersebut, Nabi SAW menunjuk Utsman bin Affan sebagai sosok yang berada di atas kebenaran dengan sabdanya:

هَذَا وَأَصْحَابُهُ يَوْمَئِذٍ عَلَى الْحَقِّ

Artinya: “Orang ini beserta para pengikutnya pada saat itu berada di atas kebenaran.” (Imam Hanbali. 1983. Kitab Fadhailu ash-Shahabah Juz I. Ummul Quro University. Hlm. 449).

Pernyataan Rasulullah SAW ini menunjukkan kedudukan istimewa Utsman sebagai pemimpin yang tetap teguh memegang prinsip kebenaran meskipun menghadapi berbagai tuduhan dan pemberontakan.

Kedermawanan, Integritas dan Loyalitas
Dedikasi Utsman bin Affan juga tercermin dari pengorbanannya yang luar biasa bagi umat Islam. Beliau membeli tanah untuk memperluas Masjid Nabawi demi kenyamanan kaum Muslimin dalam beribadah.

Hal ini diceritakan dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah bahwa saat Utsman dikepung, beliau berkata:

قَالَ: أَنْشُدُ بِاللَّهِ مَنْ شَهِدَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَنْ يُوَسِّعُ لَنَا بِهَذَا الْبَيْتِ فِي الْمَسْجِدِ بِبَيْتٍ لَهُ فِي الْجَنَّةِ؟ فَابْتَعْتُهُ مِنْ مَالِي، فَوَسَّعْتُ بِهِ الْمَسْجِدَ؟ فَانْتَشَدَ لَهُ رِجَالٌ.

Artinya: “Aku meminta kesaksian kalian demi Allah, adakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membeli rumah ini untuk memperluas masjid, maka baginya sebuah rumah di surga?” Lalu aku membelinya dengan hartaku sendiri dan memperluas masjid dengannya?’.

Maka beberapa orang memberikan kesaksian untuknya. (Ibnu Katsir. 1998. Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz X. Dar Hajar. Hlm. 293).

Utsman bin Affan juga memperluas Masjidil Haram pada tahun 26 Hijriyah (Tarikh At-Thabari: 251) dan Masjid Nabawi pada tahun 29 Hijriyah bulan Rabiul Awal (Tarikh At-Thabari: 267).

Beliau juga yang membeli Sumur Rūmah dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya agar dapat dimanfaatkan secara gratis oleh masyarakat dan para musafir. Beliau minta kesaksian:

وَأَنْشُدُ بِاللَّهِ مَنْ شَهِدَ رُومَةَ يُبَاعُ مَاؤُهَا ابْنَ السَّبِيلِ، فَابْتَعْتُهَا مِنْ مَالِي، فَأَبَحْتُهَا ابْنَ السَّبِيلِ؟ قَالَ: فَانْتَشَدَ لَهُ رِجَالٌ،

Artinya: “Aku meminta kesaksian kalian demi Allah, siapakah yang menyaksikan bahwa Sumur Rūmah dahulu airnya diperjualbelikan kepada para musafir (ibnu sabil), lalu aku membelinya dengan hartaku sendiri dan aku menjadikannya boleh digunakan oleh para musafir?’ Maka beberapa orang pun berdiri memberikan kesaksian untuknya.” (Ibnu Katsir. 1998. Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz X. Hlm. 293-294).

Kemudian pada saat Perang Tabuk, Utsman menginfakkan harta yang sangat besar hingga mampu membiayai setengah kebutuhan pasukan kaum Muslimin. Beliau berkata:

قَالَ: وَأَنْشُدُ بِاللَّهِ مَنْ شَهِدَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ جَيْشِ الْعُسْرَةِ، قَالَ: مَنْ يُنْفِقُ الْيَوْمَ نَفَقَةً مُتَقَبَّلَةً؟ فَجَهَّزْتُ نِصْفَ الْجَيْشِ مِنْ مَالِي؟ فَانْتَشَدَ لَهُ رِجَالٌ

Artinya: “Aku meminta kesaksian kalian demi Allah, adakah di antara kalian yang menyaksikan Rasulullah SAW pada saat Perang Tabuk (Jaish al-‘Usrah) bersabda: “Siapakah yang hari ini akan menginfakkan harta yang diterima (oleh Allah)?” Lalu aku membiayai setengah pasukan dari hartaku sendiri?” (Ibnu Katsir. 1998. Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz X. Hlm. 293).

Ketika rumahnya dikepung oleh para pemberontak, Utsman tidak membela diri dengan kekuatan senjata. Sebaliknya, beliau mengingatkan masyarakat tentang jasa-jasa dan pengabdiannya kepada Islam, dan banyak sahabat yang memberikan kesaksian atas kebenaran pengakuannya.

Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Utsman dibangun di atas ketulusan, pengorbanan, dan integritas moral.

Pengayom dan Pelayan Rakyat
Dalam menjalankan pemerintahan, Utsman juga meninggalkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang sangat relevan hingga saat ini. Dalam suratnya kepada para gubernur, beliau menegaskan:

فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْأَئِمَّةَ أَنْ يَكُونُوا رُعَاةً، وَلَمْ يَتَقَدَّمْ إِلَيْهِمْ أَنْ يَكُونُوا جُبَاةً

Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan para pemimpin agar menjadi pengayom dan pelayan rakyat, bukan sekadar pemungut pajak atau pencari keuntungan.”

Menurutnya, ketika pemimpin kehilangan fungsi pengayoman, maka amanah, rasa malu, dan kesetiaan dalam masyarakat akan ikut hilang. (Tarikh At-Thabari Juz IV. Hlm. 244).

Kepada para panglima dan pejabat negara, Utsman berpesan agar menjaga amanah, tidak menyalahgunakan kekuasaan, dan senantiasa berpegang pada keadilan. Beliau mengingatkan bahwa:

فَإِنَّكُمْ حُمَاةُ الْمُسْلِمِينَ وَذَادَتُهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya kalian adalah para pelindung kaum Muslimin dan pembela mereka.”

Beliau berpesan agar pemegang amanah menjaga integritas, tidak menyalahgunakan wewenang, tidak mengubah prinsip keadilan, dan tidak mengkhianati amanah rakyat karena penyimpangan terhadap amanah akan menyebabkan hilangnya legitimasi dan pertolongan Allah.

Beliau juga mengajar setiap pemimpin untuk selalu muhasabah (intropeksi). Beliau mengatakan:

فَانْظُرُوا كَيْفَ تَكُونُونَ

Artinya: “Maka perhatikanlah bagaimana keadaan kalian.” (Tarikh At-Thabari Juz IV. Hlm. 245)

Di sini Utsman mengajarkan tentang etika sebagai seorang pemimpin yaitu menjadi pelindung umat, menjaga amanah, dan senantiasa bermuhasabah (introspeksi) agar tidak digantikan oleh Allah karena pengkhianatan terhadap tanggung jawab.

Beliau juga mengingatkan para petugas pajak agar tidak menzalimi rakyat, menegakkan kebenaran, berpegang teguh pada amanah yang diberikan, jangan berbuat zalim terutama pada anak yatim dan kelompok yang berada dalam perlindungan negara. Beliau menyampaikan:

وَالْوَفَاءَ الْوَفَاءَ، لَا تَظْلِمُوا الْيَتِيمَ وَلَا الْمُعَاهَدَ، فَإِنَّ اللَّهَ خَصْمٌ لِمَنْ ظَلَمَهُمْ.

Artinya: “Penuhilah janji, penuhilah janji itu. Jangan menzalimi anak yatim dan jangan pula orang yang berada dalam perjanjian (mu‘ahad), karena Allah akan menjadi musuh bagi orang yang menzalimi mereka.”

Bahkan kepada masyarakat umum, Utsman mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak mudah terjebak pada berbagai penyimpangan dan perpecahan.

Beliau mengingatkan bahwa kekeliruan dan penyimpangan dapat muncul dari ketidakpahaman terhadap ajaran agama, terutama ketika seseorang berbicara tentang agama tanpa ilmu yang memadai. Kata Utsman mengingatkan hadits Rasulullah SAW:

“الْكُفْرُ فِي الْعُجْمَةِ،” فَإِذَا اسْتَعْجَمَ عَلَيْهِمْ أَمْرٌ تَكَلَّفُوا وَابْتَدَعُوا.

Artinya: “Kekufuran itu terdapat dalam al-‘ujmah (ketidakjelasan, kebodohan, atau sikap menjauh dari pemahaman yang benar)”.

Maka apabila suatu urusan menjadi samar bagi mereka, mereka memaksakan diri (berbicara atau bertindak tanpa ilmu) lalu mengada-adakan perkara baru (bid’ah). (Tarikh At-Thabari Juz IV. Hlm. 245)

Amanah, Keadilan, dan Kepedulian Sosial
Selain itu, Utsman dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat. Ia meningkatkan tunjangan masyarakat, melanjutkan kebijakan sosial pendahulunya, dan menyediakan bantuan makanan bagi para musafir, orang-orang yang beribadah di masjid, dan kaum yang membutuhkan.

Dalam Tarikh At-Thabari disebutkan bahwa Utsman melanjutkan kebijakan yang telah dilakukan oleh Umar, dan beliau menambahkan suatu kebijakan lagi, yaitu menyediakan makanan pada bulan Ramadan. Kemudian beliau berkata:

لِلْمُتَعَبِّدِ الَّذِي يَتَخَلَّفُ فِي الْمَسْجِدِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالْمُعْتَرِّينَ بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ

Artinya: “Makanan ini diperuntukkan bagi orang yang beribadah (i’tikaf) dan tetap berada di masjid, para musafir (ibnu sabil), serta orang-orang yang datang dan membutuhkan bantuan dari masyarakat pada bulan Ramadan.” (Tarikh At-Thabari Juz IV. Hlm. 246).

Ini menunjukkan perhatian Utsman bin Affan terhadap kesejahteraan sosial, khususnya pada bulan Ramadhan, dengan menyediakan makanan bagi para ahli ibadah, musafir, dan orang-orang yang membutuhkan.

Utsman juga berjasa dalam menyatukan umat Islam dengan dikodifikasikannya Al-Qur’an. Dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah disebutkan bahwa di antara jasa terbesar Khalifah Utsman bin Affan adalah menyatukan kaum Muslimin pada satu bacaan Al-Qur’an berdasarkan Al-‘Ardah Al-Akhirah, yaitu bacaan terakhir yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Langkah ini dilakukan setelah Hudzaifah bin al-Yaman menyaksikan perselisihan di kalangan kaum Muslimin mengenai perbedaan qira’at hingga saling menyalahkan dan mengkafirkan. Atas dasar itu, Utsman mengumpulkan para sahabat dan memutuskan untuk menyalin mushaf standar dengan merujuk pada suhuf yang telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar, kemudian membentuk tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit. Mereka diperintahkan untuk menulis sesuai dialek Quraisy apabila terjadi perbedaan.

Setelah selesai, beberapa mushaf dikirim ke berbagai wilayah Islam seperti Syam, Mesir, Basrah, Kufah, Makkah, dan Yaman, sementara satu mushaf disimpan di Madinah. Mushaf-mushaf tersebut kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani, dinisbatkan kepada Utsman karena penyatuan dan penyebarannya dilakukan atas perintah beliau demi menjaga persatuan umat dan mencegah perpecahan dalam membaca Al-Qur’an. (Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz X. Hlm. 393-394).

Menunaikan amanah sebagai seorang pemimpin juga tidak berhenti disitu. Dalam Kepemimpinannya, Utsman juga memperluas wilayah kekuasaannya dan berjasa dalam pembentukan armada laut pertama dalam Islam.

Hal ini terungkap dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah saat Muawiyah meminta izin kepada Khalifah Utsman menaiki kapal-kapal untuk menaklukkan pulau yang dikenal dengan nama Siprus bersama pasukan besar kaum Muslimin dan beliau mengizinkannya. (Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz X. Hlm. 228-229).

Dari perjalanan hidup dan kepemimpinannya, Utsman bin Affan memberikan pelajaran berharga bahwa kekuasaan bukanlah sarana untuk memperkaya diri, melainkan amanah untuk melayani umat.

Kepemimpinannya dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu amanah, keadilan, dan kepedulian sosial.

Di tengah tantangan kepemimpinan modern yang sering diwarnai perebutan kepentingan dan krisis integritas, teladan Khalifah Utsman bin Affan tetap relevan sebagai inspirasi bagi lahirnya pemimpin yang berorientasi pada khidmat atau pengabdian dan kemaslahatan masyarakat.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga