Oleh: Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.*
Di tulisan sebelumnya kita sudah bahas masalah Tuhan bahwa Tuhan kita adalah Allah bukan yang lain. Ya karena Tuhan kita berbeda dengan Tuhannya agama lain. Kenapa menyebutnya dengan Allah? Ya karena itu perintah dari agama kita yaitu Islam dan Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya dengan Allah. Coba kita perhatikan dalam Al-Quran Surah Thaha ayat 14.:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku”.
Di situ Allah memperkenalkan diri dengan Allah (الله) tidak dengan Yahweh, El Elyon, tidak juga dengan sebutan dewa atau yang lain. Allah juga mempertegas bahwa Dia-lah yang harus diibadahi karena tidak tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia.
Ini yang menjadi inti dari kalimat tauhid yaitu:
لا اله الا الله
Secara umum ini dimaknai “tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Bagi saya secara makna belum sempurna dan masih debatable karena bahasa “tidak ada Tuhan” ini meniadakan fakta di lapangan bahwa banyak yang didaulat menjadi tuhan baik itu dipaksa maupun tidak, baik manusia maupun non manusia, baik yang berhak disembah maupun yang tidak.
Jadi, ada yang memperjelas makna kalimat tauhid itu dengan “tidak ada yang berhak untuk disembah dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah”. Ini yang bisa kita temukan di kitab Syafinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair al-Khadromi:
“لا معبود بحق في الوجود الا الله”
Yang kemudian diperjelas dalam kitab Kasyifatus Saja karya Syaikh Nawawi al-Bantani bahwa segala sesuatu tidak berhak merendahkan diri atau menyembah kecuali kepada Allah.
Kemudian KHR. As’ad Syamsul Arifin sebagai wasilah utama berdirinya Nahdhatul Ulama (NU) memperjelas dalam kitab Risalah at-Tauhid sebagai berikut:
“لا معبود بحق في الوجود الا الله”
Artinya: “Tidak ada yang berhak untuk disembah dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah.”
“لا مقصود بحق في الوجود الا الله”
Artinya: “Tidak ada yang berhak untuk dituju (sebagai tujuan hidup) dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah”
“لا مطلوب بحق في الوجود الا الله”
Artinya: “Tidak ada yang berhak untuk dituju/diinginkan (sebagai tujuan akhir kehidupan) dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah.”
“لا محبوب بحق في الوجود الا الله”
Artinya: “Tidak ada yang berhak untuk dicintai dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah.”
لا خالق ولارازق ولامحي ولامميت ولامدبر لجميع الأمور الا الله
Artinya: “Tidak ada Pencipta, Pemberi rezeki, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, Yang Maha Mengatur segala urusan makhluk-Nya melainkan Allah.”
Kemudian ditutup dengan doa:
الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبى اعطني محبتك ومعرفتك
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah tujuan hidupku dan keridhaan-Mu yang kuinginkan, berikanlah aku rasa cinta-Mu (mahabbah) dan ma’rifat-Mu (mengenal-Mu).”
Sampai di sini sebenarnya kita sudah mulai mengerti bahwa fokus tujuan hidup kita ada mencari keridhaan Allah. Kita harusnya menempatkan Allah sebagai asal dan tujuan tertinggi di atas segalanya, hanya mengharapkan keridhaan-Nya, serta memohon kemampuan untuk mencintai dan mengenal-Nya lebih dalam.
Tidak Dimaknai Leterlek
Kalau menggunakan pendekatan teologis dan filosofis untuk memahami Kalimat Tauhid secara mendalam, maka ada konsep yang muncul di situ yaitu dekonstruksi dan rekonstruksi. Dekonstruksi itu di kalimat لا اله (tidak ada tuhan).
Ini bermakna menegasikan segala bentuk macam kepercayaan manusia yang disembah dan yang dipuja baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi, baik yang disengaja dengan kesadaran penuh maupun yang tidak.
Bahkan menolak dengan tegas segala hal yang diagungkan oleh manusia baik materi maupun non materi seperti uang dan kekuasaan misalkan.
Diakui atau tidak banyak di antara kita yang masih mengagungkan uang dan kekuasaan termasuk juga popularitas – mudah -mudahan saya tidak termasuk – yang seolah uang adalah segalanya padahal uang tidak bisa menunda kematian. Ya tidak bisa menghidupkan orang mati dan tidak bisa menyogok Malaikat Izrail.
Kalau لا اله nya adalah dekonstruksi, maka الا الله adalah rekonstruksi. Setelah bentuk macam kepercayaan dan keyakinan yang membelenggu manusia dirusak, dibongkar dan dihancurkan, maka setelah itu dibangun kembali sebuah kepercayaan yang benar untuk mengkonfirmasi bahwa satu-satunya yang berhak untuk diagungkan dan disembah hanya Allah. Ya hanya Allah tidak yang lain.
Allah adalah satu-satunya pusat pengabdian karena Dia adalah asal dan tujuan hidup segala sesuatu. Inilah yang disebut rekonstruksi.
Rekonstruksi bertujuan agar kalimat tauhid menjadi teologi pembebasan yaitu membebaskan manusia dari belenggu ketundukan kepada selain Allah.
Kemerdekaan manusia untuk tidak tunduk selain hanya pada Allah adalah inti ajaran tauhid.
Dengan demikian, maka tidak boleh hanya memaknai kalimat tauhid secara leterlek. Kalimat ini bukan hanya sebatas kata yang diucapkan dibibir saja, tapi harus benar-benar dihayati sebagai bentuk pernyataan sikap dan tindakan bahwa kita mengakui hanya Allah sebagai Tuhan kita.
Kalau hanya diucapkan dan dihafalkan apa bedanya dengan anak kecil yang baru belajar bicara. Mereka fasih mengucapkan kalimat tauhid tapi tidak ada konsekuensi hukum baginya.
Sementara kalau kita yang sudah dewasa ada konsekuensi hukum yang melekat terhadap apa yang telah kita ucapkan.
Padahal perkataan harus konsisten atau selaras dengan sikap dan tindakan kita. Ini yang dalam Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dikenal dengan trilogi keimanan yaitu meyakini dalam hati (تصديق بالقلب), mengucapkan dengan lisan (اقرار باللسان), dan mengamalkan dengan perbuatan (عمل بالأركان).
Kemerdekaan Manusia
Di dalam kalimat tauhid tersebut terdapat deklarasi kemerdekaan manusia yang cukup mengagumkan. Disadari atau tidak sejak manusia lahir dan hidup di dunia ini sudah terbelenggu dengan berbagai macam tradisi, kepercayaan dan keyakinan yang bergulir di tengah-tengah masyarakat. Kita sudah disuguhi yang seolah tanpa ada pilihan. Pokoknya harus mengerjakan ini dan itu.
Kita kadang berpikir, dengan berbagai macam kepercayaan dan peribadatan yang ada, apakah semuanya benar atau salah satunya yang benar? Kalau bicara kebenaran, maka tidak mungkin semuanya benar, pasti satu yang benar.
Tidak mungkin juga semuanya salah karena tradisi dan sebuah kepercayaan yang membudaya itu semuanya mengklaim berangkat dari sumber ajaran agamanya masing-masing.
Seperti pembahasan tentang Tuhan, Allah lah satu-satunya yang benar, sedang yang lain salah. Demikian juga dengan kepercayaan, maka sistem kepercayaan yang bersumber dari Allah lah yang benar.
Nah, dalam diskusi ini kita dapat memahami bahwa konsep kalimat tauhid telah memerdekakan manusia dari belenggu sistem kepercayaan yang salah. Kita tidak menjadi budak kebatilan. Kita hanya mengikuti apa yang diperintahkan Allah melalui rasul-Nya Nabi Muhammad Saw.
Di sinilah pentingnya kita membangun kesadaran baru yang menempatkan Allah sebagai pusat dari seluruh aktivitas manusia.
Tentunya dengan keimanan yang tidak hanya bersumbu di hati, tapi juga dideklarasikan dengan sebuah pernyataan. Pernyataan yang benar hanya dapat dikonstruksi dengan ilmu pengetahuan. Kemudian kita implementasikan dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan nyata.
Integrasi antara iman, ilmu dan amal dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagai khalifah adalah sebuah kebutuhan agar kita tidak diperbudak oleh keadaan dan menyatakan dengan sebenarnya bahwa kita adalah manusia yang merdeka. Di mana kita hanya tunduk pada Allah Yang Maha Kuasa.
*) Penulis adalah santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sekaligus Wakil Sekretaris PCNU Sumenep.

