Oleh: Moh. Fathor Rois *)
Umat Islam bersiap menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Pertanyaan yang mulai banyak diajukan masyarakat adalah: kapan mulai puasa Ramadan 2026?
Secara historis, kewajiban puasa Ramadan telah ditetapkan oleh Allah Swt. sejak tahun 2 Hijriah pada masa Nabi Muhammad. Sejak saat itu, ibadah puasa menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat.
Dalam beberapa riwayat yang dijelaskan dalam kitab Syarah Tirmizi, disebutkan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan puasa Ramadan sebanyak sembilan kali sepanjang hidup beliau setelah hijrah. Mayoritas Ramadan yang beliau jalani berjumlah 29 hari (naqis), dan hanya satu atau beberapa kali saja yang berjumlah 30 hari (kamil). Riwayat ini sekaligus menjadi koreksi terhadap praktik hisab ‘urfi yang masih digunakan sebagian kalangan, yang menetapkan bahwa bulan Ramadan selalu berjumlah 30 hari setiap tahun.
Rasulullah saw. telah menetapkan cara yang sederhana dalam menentukan awal Ramadan, yakni dengan rukyatul hilal (melihat bulan sabit). Apabila hilal terlihat saat matahari terbenam pada malam tanggal 30 Sya’ban, maka malam itu dihitung sebagai malam pertama Ramadan. Namun jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, dan Ramadan dimulai keesokan harinya.
Meski rukyat menjadi dasar utama, perkembangan ilmu astronomi menghadirkan metode hisab untuk membantu menentukan posisi hilal. Melalui perhitungan astronomis, dapat diketahui apakah hilal sudah berada di atas ufuk atau masih di bawahnya, termasuk tinggi dan azimutnya. Hisab berfungsi sebagai alat bantu untuk mengarahkan pandangan saat rukyat dilakukan.
Berdasarkan data astronomis, ijtima’ akhir Sya’ban 1447 H terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 pukul 19.04 WIB. Namun pada saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia—dari Merauke hingga Sabang—posisi hilal masih berada di bawah ufuk.
Khusus untuk wilayah Sumenep, matahari terbenam pada pukul 17.48 WIB dengan tinggi hilal -01° 18’ dan azimut 256° 43’. Dengan posisi hilal yang masih minus (di bawah ufuk), maka secara hisab diperkirakan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.
Meski demikian, data hisab tersebut secara hukum masih bersifat perkiraan. Kepastian awal Ramadan tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia pada malam Rabu, 17 Februari 2026 sekitar pukul 19.00 WIB.
Menyambut Ramadan bukan sekadar menanti tanggal dimulainya puasa, tetapi juga mempersiapkan hati dan amal. Beberapa pesan penting yang dapat menjadi pengingat bersama:
- Persiapkan niat dan hati untuk beribadah dengan penuh keikhlasan.
- Perbanyak taubat dan istighfar, karena Ramadan adalah bulan ampunan.
- Tingkatkan kualitas ibadah, baik puasa, salat tarawih, tilawah Al-Qur’an, maupun sedekah.
- Jaga persatuan umat, terutama dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal Ramadan.
- Didik keluarga menyambut Ramadan dengan gembira, menjadikannya momentum pendidikan iman dan akhlak.
Semoga Ramadan 1447 H menjadi momentum perbaikan diri, penguatan ukhuwah, dan peningkatan ketakwaan bagi seluruh umat Islam.
*) Moh. Fathor Rois, Ketua LFNU PCNU Sumenep

