Image Slider

Ikhlas sebagai Kunci Keberkahan dalam Berkhidmat

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Kita mulai dari isyarah Ibnu ‘Ajibah tentang apa itu ikhlas. Ikhlas menurutnya adalah rahasia antara Allah SWT dan hamba-Nya, yang tidak dapat dilihat atau dicatat oleh malaikat mana pun, dan tidak dapat dirusak oleh setan mana pun.

Ia adalah ketiadaan (kegaiban) segala sesuatu selain Allah, maka seseorang tidak melihat (tentang ikhlas dan tidaknya) di dunia ini dan akhirat selain hanya Allah, dan tidak bergantung kepada siapa pun selain kepada-Nya, tidak takut kepada siapa pun selain takut pada-Nya, dan tidak pernah berharap kepada siapa pun selain berharap kepada-Nya.

Islam adalah ketaatan atau ketundukan lahiriah (ketundukan secara fisik) anggota tubuh terhadap hukum-hukum yang wajib taklifiyah yaitu yang merupakan beban tanggung jawabnya, dan istislam penyerahan batiniah terhadap hukum-hukum yang yang memaksa melakukan itu.

Islam adalah bentuknya, dan penyerahan adalah rohnya. Islam tanpa penyerahan adalah tubuh tanpa roh. (Ibnu ‘Ajibah, Al-Bahrul Madid Fii Tafsiiri Al-Qurani Al-Majid (Maktabah Syamila. Shamela.org.) hal. 1801).

Jadi, kita melaksanakan ibadah baik itu ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat dan haji maupun ibadah ghairu mahdhah seperti berkhidmat di jalan Allah, suka membantu meringankan beban orang lain, bersedekah, dan lain-lain itu merupakan bentuk tampilan fisiknya, sedangkan rohnya adalah keikhlasan. Maka, berkhidmat tanpa ikhlas bagaikan jasad tanpa roh.

Rabi’ah Al-Adawiyah dalam syairnya mengatakan:

كلهم يعبدوك من خوف نار # ويرون النجاة حظاً جزيلاً

أو بأن يسكنوا الجنان فيحظوا # بقصورٍ ويشربوا سلسبيلا

ليس لي في الجنان والنار حظ # أنا لا أبتغي بحبي بديلا (2)

Artinya: “Mereka semua beribadah kepada-Mu karena takut akan api neraka # Dan mereka memandang keselamatan (dari neraka) sebagai keuntungan yang besar.”

Artinya: “Atau (mereka beribadah) agar bisa menempati surga, sehingga mereka mendapatkan # istana-istana dan meminum air salsabil (nikmat surga).”

Artinya: “Bagiku, tidak penting surga ataupun neraka # Aku tidak menginginkan pengganti dari cintaku (kepada-Mu).”

Syekh Abdul Majid As-Syarnubi mengomentari bahwa Ikhlas Muqarrabin (ikhlas tingkat tinggi = orang yang dekat dengan Allah) adalah persaksian mereka akan keesaan Al-Haqq (Allah) bahwa hanya Dia lah yang menggerakkan dan mendiamkan mereka dalam segala hal serta mereka menolak segala kekuatan atau kemampuan dari diri mereka sendiri.

Maka, mereka bertindak hanya karena Allah dan mereka tidak menganggap amal perbuatan sebagai usaha mereka sendiri. (Syekh Abdul Majid As-Syarnubi, Syarah al-Hikam al-‘Athaiyah (Beirut: Dar Ibn Katsir) hal. 23).

Ibnu ‘Athaillah mengatakan:

الأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

Artinya: “Amal adalah bentuk-bentuk raga kosong yang tegak. Sedangkan rohnya adalah adanya keikhlasan di dalamnya,” (Ibnu Athaillah, Al-Hikam).

Berkhidmat tanpa pamrih. Tidak mengejar materi tapi mengharap berkah ilahi. Kunci mendapatkan keberkahan dari Allah adalah keikhlasan yang murni.

Kata ikhlas mudah diucapkan, tapi susah diterapkan. Kita hanya perlu belajar dan menata diri untuk tetap ikhlas.

Berkhidmat tanpa ikhlas akan melahirkan sifat malas. Jika hanya ikhlas tanpa berkhidmat, maka tidak akan menemukan pintu keberkahan.

Ada yang menarik saat KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy mengomentari kata ikhlas dalam surah Shad Tafsir Jalalain bahwa kalau mau mengikuti jejaknya para rasul, maka kita perlu berhati-hati untuk tidak minta upah atau persenan dalam berdakwah, mengajar, memberikan nasehat atau mauidhah hasanah.

Nilai keberkahan dalam berkhidmat ada di ikhlas. Kalau lelah harus dihargai tapi tidak boleh menghilangkan prinsip keikhlasannya. Kalau menghapus nilai-nilai keberkahan maka akan melahirkan generasi-generasi yang profit oriented materialistis.

Ketika sudah tidak ikhlas atau masih ada pamrih duniawi, maka terbukalah peluang iblis untuk melaksanakan sumpahnya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).

Karena orang yang disesatkan itu tidak masuk kategori yang ikhlas. Iblis tidak akan menggangu mereka yang ikhlas:

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ

Artinya: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad: 83).

Iblis tidak akan menyesatkan manusia manakala kita berada pada maqam ikhlas. Kalau sudah ikhlas, maka tidak boleh ternodai oleh tujuan yang lain. Orang yang ikhlas karena Allah maka menjadi pengecualian bagi iblis untuk tidak disesatkannya.

Nabi Muhammad juga diperintah untuk menyampaikan:

قُلْ مَآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُتَكَلِّفِينَ

Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’.” (QS. Shad: 86).

Bahasa Kiai As’ad guru yang mengajar di madrasah (sekolah), jangan mengharapkan bayaran. Tapi kalau dibayar diterima untuk dirinya dan keluarganya. (KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dalam pengajian Tafsir Jalalain, Kamis 26/2/2026).

Jika Nabi Muhammad diperintahkan untuk tidak meminta upah apapun dari dakwah yang dijalankannya. Kita juga sebagai umatnya harus mengikuti jejak beliau.

Tidak boleh berharap upah dari dakwah yang dilakukannya. Namun, jika diberikan upah atau gaji, maka kita menerimanya dengan senang hati.

Nilai keberkahan akan didapat manakala kita ikhlas karena Allah semata melakukannya. Jangan ada pamrih sedikit pun dari apa yang kita perbuat, lakukan dengan suka hati, nanti Allah yang akan mengganti. Itu janji Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3).

Tautkan hati hanya pada Allah. Tugas kita hanya berusaha tapi Allah yang menentukan hasilnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam berkhidmat tanpa pamrih sedikit pun.

Biarlah sumber keberkahan itu ada pada keikhlasan tanpa kita minta. Kalaupun terpaksa berharap boleh, tapi memaksanya jangan.

Jika berkhidmat dilakukan dengan tulus ikhlas karena Allah semata, maka tak akan ada rasa cemburu, tak akan ada lagi merasa tidak dihargai dan tak akan ada lagi demonstrasi. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga