Image Slider

Istiqamah setelah Ramadhan: Dari Puasa Syawal hingga Tradisi Lebaran Ketupat

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Abuya As-Sayyid Ahmad bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas Al Maliki Al Hasani mengatakan:

لاَتَكُن عَبْدَ رَمَضَانَ، كُنْ عَبْدَ اللّٰه، فَاسْتَمِرَّ فِيْمَا بَدَأْتَ فِيْهِ

Artinya: “Janganlah engkau menjadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah, maka lanjutkanlah (kebaikan) yang telah kau mulai di bulan ramadhan.”

Kata yang cukup berkesan menggambarkan bagaimana kita seakan-akan hanya ingin berbuat amal kebaikan, memperbanyak shadaqah, menolong orang yang membutuhkan, meringankan beban orang lain, suka berbagi ke sesama, ngaji Al-Qur’an, dan perbuatan ihsan yang lain saat di bulan Ramadhan dengan alasan ganjarannya dilipatgandakan sesuai janji Allah.

Kita menjaga lisan kita untuk tidak berbohong, tidak menggunjing, tidak takabur, tidak menyakiti orang lain saat Ramadhan saja dengan alasan takut mengurangi ganjaran puasa.

Kita hanya mencukupkan puasa di bulan Ramadhan saja padahal banyak puasa Sunah yang bisa kita kerjakan termasuk puasa di bulan Syawal ini.

Kita terjebak dengan keagungan Ramadhan saja tanpa berpikir bagaimana dampak dari puasa yang telah kita kerjakan tersebut setelah Ramadhan.

Padahal meningkatnya perbuatan baik dan ibadah setelah Ramadhan dapat dijadikan sebagai indikasi diterimanya puasa yang kita jalankan. Begitu juga sebaliknya. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika dosa kita telah diampuni, maka akan lebih mudah dan ringan perjalanan hidup kita di dunia. Biasanya ditandai dengan semakin meningkatnya kualitas ibadah kita.

Kita juga dapat mengatakan bahwa indikator diterimanya puasa kita adalah semakin berkualitasnya ketakwaan kita pada Allah karena tujuan utama kita berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Meningkatnya ketakwaan setelah Ramadhan karena puasa Ramadhan adalah sekolah atau madrasah dalam menggembleng dan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik secara kualitas, yang muhsin di mana orientasi ibadahnya lillahi taala bukan profit oriented semata.

Maka berbuat baik dan meninggalkan yang tidak baik atau yang dilarang tidak hanya saat puasa Ramadhan, tapi harusnya diteruskan setelah Ramadhan agar kita tidak terkesan menjadi budaknya Ramadhan.

Salah satu ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan setelah Ramadhan adalah puasa sunnah Syawal. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim no. 204).

Kalau ingin mendapatkan ganjaran puasa layaknya puasa dalam setahun, maka puasa 6 hari Syawal adalah jawabannya. Kalau satu hari puasa dalam penelitian dapat menghilangkan penyakit dalam tubuh kita selama 10 hari, maka puasa Ramadhan ditambah 6 hari puasa Syawal sama dengan menghilangkan penyakit dalam tubuh kita selama 360 hari atau satu tahun kalender hijriah.

Di Madura umumnya ada tradisi lebaran ketupat yang dilakukan satu Minggu setelah Idul Fitri. Tradisi ini cukup baik karena konon ceritanya untuk merayakan hari raya setelah melakukan puasa 6 hari Syawal.

Perayaan lebaran ini disebut dengan lebaran ketupat. Istilah ini sering dinisbatkan pada tradisi yang dimulai sejak Wali Songo. Ketupat ini dikenal dengan istilah Jawa yaitu “kupat” dari “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan) karena saat lebaran ini biasanya datang ke keluarga dan tetangga sekitar untuk saling maaf memaafkan. Biasanya sungkeman dari yang muda pada yang lebih tua.

Istilah “Kupat” ini juga merujuk pada “Laku Papat” (empat tindakan) yakni lebaran, luberan (habis atau melebur), leburan (menyatu), dan laburan (kapur atau kembali jernih dan putih layaknya kapur).

Ketupat juga dari janur daun kelapa yang umumnya berbentuk segiempat melambangkan hati. Simbol hati biasanya berarti cinta.

Mencintai sesama tanpa rasa iri hati dan dengki melambangkan kesucian dan cinta sejati. Apalagi asesorisnya adalah dengan janur yang disebut namanya berasal dari bahasa Arab “جَاءَ نُور” ja’a nur yaitu “telah datang cayaha.”

Cahaya datang saat kita telah menyucikan hati dengan puasa Ramadhan ditambah 6 hari puasa Syawal. Inilah salah satu filosofi lebaran ketupat yang perlu dilestarikan jangan sampai punah.

Namun, di beberapa daerah ini sudah mulai memudar. Terutama keterampilan anak muda dalam membuat ketupat. Maka, perlu ada cara atau kegiatan untuk melestarikan pembuatan ketupat seperti lomba pembuatan ketupat dan lain-lain.

Melestarikan perayaan lebaran ketupat bagian dari melestarikan budaya puasa 6 hari di bulan Syawal.

Apalagi secara filosofis cukup menyentuh dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Maka, budaya ini penting untuk terus dilestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan peradaban manusia dan dunia. Ada sebuah kaidah:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Artinya: “Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.”

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga