Image Slider

Pelantikan PCNU Sumenep, Gus Yahya Tekankan Pentingnya Digitalisasi Organisasi

Gapura, NU Online Sumenep

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan pentingnya transformasi organisasi di tubuh Nahdlatul Ulama agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, NU harus mampu mengelola jam’iyah dengan cara-cara baru, termasuk penguatan konsolidasi dan digitalisasi organisasi. Jika tidak, maka ancaman terbesar yang dihadapi adalah kepunahan.

Hal itu disampaikan Gus Yahya saat memberikan orasi Ke-NU-an dalam pelantikan PCNU Sumenep di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Gapura, Sumenep, Sabtu (16/05/2026).

Menurutnya, NU didirikan bukan untuk memulai khidmat kepada umat dari nol, melainkan untuk mempersatukan kekuatan khidmat para ulama dan pesantren yang sejak lama telah mengakar di tengah masyarakat.

“Kalau berbicara khidmat pelayanan umat, itu bukan barang baru. Dari dulu, sebelum NU didirikan, para kiai sudah menggeluti khidmat kepada umat,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah pesantren tua di Madura, termasuk Annuqayah, yang telah berdiri jauh sebelum Nahdlatul Ulama lahir pada 1926. Bahkan, kata dia, saat peringatan Satu Abad NU, PBNU menemukan lebih dari 100 pesantren di Indonesia yang telah berusia lebih dari satu abad.

“Ada yang sampai tiga sampai empat abad berkhidmat,” katanya.

Tujuan Berdirinya NU: Mempersatukan Khidmat

Menurut Gus Yahya, tujuan utama pendirian NU oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah mempersatukan khidmat para ulama agar menjadi kekuatan besar yang memiliki daya manfaat lebih luas dibanding berjalan sendiri-sendiri.

“Jangan sendirian, harus bersama-sama. Diajak bersatu mempersatukan khidmat,” tegasnya.

Ia menyebut pesan persatuan itu sangat jelas tertuang dalam khutbah KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian diabadikan dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.

Dalam suasana penuh keakraban, Gus Yahya juga sempat berseloroh mengenai Ketua PCNU Sumenep, KH. Md. Widadi Rahim yang memiliki nama “Widad”.

“Rupanya PCNU Sumenep sudah memenuhi seruan Hadratussyeikh karena sudah pakai Widad. Bahkan dua, selain ketua, karibnya juga ada Widad,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Namun di balik candaan tersebut, Gus Yahya menekankan pentingnya membangun persatuan tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah.

“Masukkan kalian semua dengan rukun dan cinta. Tidak hanya bersatu secara fisik, melainkan juga secara jiwa dan ruh,” katanya.

Transformasi Jam’iyah sebagai Agenda Besar PBNU

Dalam orasinya, Gus Yahya juga menyoroti tema pelantikan PCNU Sumenep yakni “Transformasi Jam’iyah dalam Berkhidmat untuk Kemaslahatan Umat”. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan agenda besar PBNU pada periode ini.

Ia menjelaskan, PBNU saat ini membawa tiga agenda utama, yakni transformasi organisasi, reposisi jam’iyah secara lebih strategis, dan penguatan peran internasional NU dalam isu-isu kemanusiaan global.

“Maka transformasi ini adalah tema besar yang diusung PBNU. Alhamdulillah disambut baik oleh PCNU Sumenep,” ujarnya.

Gus Yahya mengingatkan agar seluruh jajaran NU tidak berpikir secara sempit dan parsial dalam membangun organisasi.

“PCNU Sumenep ketika hendak memandang ke depan tidak boleh hanya berpikir tentang Sumenep saja. Sumenep harus berpikir tentang Indonesia,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan suatu daerah tidak akan berarti apabila daerah lain tertinggal.

“Kalau hanya Sumenep saja yang bergerak, sementara tempat lain tidak bergerak, maka Sumenep tidak akan sampai. Karena yang tidak bergerak akan membebani yang bergerak,” katanya.

Selain itu, Gus Yahya juga memaparkan langkah PBNU dalam membangun konsolidasi organisasi berbasis sistem yang objektif, transparan, dan modern. Salah satunya melalui pengembangan platform digital NU bernama Digdaya.

“NU menurut survei mencakup lebih separuh warga Indonesia. Sebanyak 57 persen warga Indonesia mengaku NU. Tidak mungkin dikelola secara manual,” jelasnya.

Ia meminta seluruh struktur NU, termasuk PCNU Sumenep, mengintegrasikan sistem digital daerah dengan platform nasional agar tata kelola organisasi lebih efektif dan terukur.

Tak hanya itu, PBNU juga tengah mengembangkan sistem Digdaya berbasis kecerdasan buatan (AI) serta memperluas pelatihan kader melalui PD-PKPNU, PMKNU, hingga Akademi Kepemimpinan NU.

“Kita memasuki zaman baru yang segala sesuatunya berubah. Maka mengelola jam’iyah ini harus dengan cara baru supaya tetap relevan dan bisa bertahan. Kalau tidak, ancamannya adalah kepunahan,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga