Image Slider

NU Progresif: Catatan Kritis Jelang Pelantikan PCNU Sumenep 2026–2031

Oleh: Abdul Hadi

Di tubuh Nahdlatul Ulama selalu ada dua denyut yang berjalan bersamaan: menjaga tradisi dan merespons perubahan. NU tidak pernah lahir untuk membeku dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tidak pernah tergoda membuang akar demi mengejar modernitas yang kehilangan arah.

Menjelang pelantikan kepengurusan PCNU Sumenep periode 2026–2031, pertanyaan penting yang harus dijawab bukan sekadar siapa yang menjadi pengurus, melainkan: ke mana arah gerak NU Sumenep lima tahun ke depan?

Apakah NU hanya akan menjadi organisasi seremonial yang ramai saat pelantikan, penuh baliho dan sambutan, tetapi sepi gagasan dan kerja sosial? Ataukah mampu menjadi kekuatan progresif yang tetap berpijak pada Aswaja, namun berani menjawab tantangan zaman?

NU sejak awal sejatinya tidak anti-modernitas. Kaidah yang diwariskan para ulama:

Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah
Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Kaidah itu bukan slogan pasif. Ia adalah metodologi peradaban. Di situlah letak keunikan NU. Tradisi dijaga, tetapi akal tidak dibelenggu. Pesantren dipertahankan, tetapi wawasan harus diperluas. Kiai dihormati, namun realitas sosial juga wajib dibaca.

Maka NU progresif bukan NU yang meninggalkan tradisi. Justru NU progresif adalah NU yang mampu menjadikan tradisi sebagai energi perubahan sosial.
Kita harus jujur mengatakan: tantangan NU hari ini jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, ketimpangan pendidikan, arus kapitalisme digital, degradasi moral politik, hingga lunturnya otoritas keulamaan di era media sosial, semuanya datang bersamaan.

Di tengah situasi itu, NU tidak cukup hanya hadir sebagai “penonton moral”. NU harus menjadi kekuatan penggerak masyarakat.
Kedepan, kepengurusan baru PCNU Sumenep tidak boleh hanya sibuk mengurus agenda internal dan rutinitas administratif. NU harus turun lebih konkret menyentuh problem umat: ekonomi warga, pertanian, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, hingga penguatan generasi muda.

NU harus kembali menjadi rumah besar kaum mustadh’afin. Jangan sampai NU hanya besar secara struktur, tetapi kecil dalam pengaruh sosial. Banyak pengurus, tetapi minim gerakan. Banyak rapat, tetapi sedikit keberpihakan. Banyak kegiatan seremoni, tetapi lemah dalam agenda pemberdayaan.

Padahal sejarah NU dibangun bukan oleh orang-orang yang sekadar hadir di daftar absensi. NU dibesarkan oleh orang-orang yang berkhidmat dengan pengorbanan.

Di sinilah pentingnya menghadirkan spirit “NU progresif”. Bukan progresif dalam arti liberal tanpa batas. Bukan pula progresif yang tercerabut dari sanad dan tradisi pesantren. Tetapi progresif yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan arah ideologis Aswaja.

Spirit progresif itu sebenarnya sudah lama hidup di rahim NU. Kita mengenal KH. Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi modern bernama NU pada 1926. Kita mengenal KH. Wahab Chasbullah yang membangun gerakan pendidikan dan politik kebangsaan. Kita mengenal Abdurrahman Wahid yang membuka cakrawala pemikiran NU ke ranah demokrasi, pluralisme, dan kemanusiaan.

Mereka semua berpikir maju, tetapi tetap berpijak pada tradisi.
Oleh karena itu, generasi muda NU hari ini tidak boleh hanya menjadi penjaga nostalgia. Mereka harus menjadi pelanjut peradaban.

Banom-banom NU, seperti PMII, GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, dan seluruh badan otonom NU harus menjadi laboratorium kaderisasi pemikiran dan gerakan sosial. Jangan hanya menjadi mesin acara dan panggung formalitas.

Kader NU harus mulai menguasai isu-isu strategis: teknologi, ekonomi digital, ketahanan pangan, lingkungan hidup, hingga geopolitik global. Sebab tantangan umat ke depan tidak cukup dijawab hanya dengan retorika keagamaan.

NU harus melahirkan kader yang alim sekaligus kompeten. Yang paling berbahaya bagi organisasi besar bukanlah kritik dari luar, melainkan stagnasi dari dalam. Ketika organisasi merasa sudah besar lalu kehilangan tradisi berpikir kritis, saat itulah kemunduran dimulai.

Kritik terhadap NU sejatinya bukan bentuk kebencian, tetapi tanda cinta. Sebab organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus melakukan muhasabah.

Pelantikan PCNU Sumenep 2026–2031 jangan hanya menjadi seremoni pergantian jabatan. Ia harus menjadi momentum konsolidasi gagasan, penyatuan energi, dan peneguhan arah perjuangan.

NU Sumenep harus mampu menjadi pusat gerakan sosial-keagamaan yang inklusif, progresif, membumi, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Sebab NU tidak didirikan hanya untuk dikenang. NU didirikan untuk terus bergerak.

Wallahu ‘alam bisshowab

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga