Giliraja, NU Online Sumenep
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep kembali menggelar kegiatan Bahtsul Masail dan Konsolidasi Perkumpulan bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Sumenep, Ahad (10/5/2026), di Pondok Pesantren Darul Ulum, Desa Banmaleng, Kecamatan Giliraja, Sumenep. Kegiatan yang bertepatan dengan 22 Dzulqa’dah 1447 Hijriah itu berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pengurus PCNU, MWCNU, serta pengurus ranting NU se-Kecamatan Giliraja.
Agenda utama kegiatan meliputi pelaksanaan Bahtsul Masail, pelantikan pengurus ranting NU, dan konsolidasi perkumpulan dalam rangka memperkuat tata kelola organisasi menjelang berbagai agenda strategis PCNU Sumenep masa khidmat 2026–2031.
Ketua PCNU Sumenep, KH. Md. Widadi Rahim, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas istiqamah pelaksanaan Bahtsul Masail yang kini memasuki bulan kedua. Menurutnya, forum tersebut merupakan tradisi intelektual khas Nahdlatul Ulama yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Bahtsul Masail bukan hanya forum menjawab persoalan keagamaan, tetapi juga tradisi keilmuan ala NU yang diwariskan para ulama. Metode manhaji yang digunakan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa PCNU Sumenep akan melaksanakan pelantikan kepengurusan pada 16 Mei 2026 mendatang. Karena itu, seluruh elemen jam’iyah diajak memperkuat doa dan kebersamaan melalui istighasah demi kelancaran agenda tersebut.“Kami berharap seluruh warga NU ikut bermunajat agar pelantikan berjalan lancar, sukses, penuh keberkahan, dan khidmah kepengurusan benar-benar memberi manfaat bagi warga NU maupun masyarakat Sumenep secara luas,” katanya.
Sementara itu, Rais PCNU yang sekaligus memimpin prosesi pelantikan pengurus ranting NU se-Kecamatan Giliraja menekankan pentingnya menjaga persatuan dan keharmonisan di lingkungan organisasi. Menurutnya, soliditas internal menjadi modal utama dalam menyongsong transformasi NU pada abad kedua.Ia mengingatkan bahwa cita-cita para muassis NU harus terus dijaga melalui penguatan pelayanan umat, pengabdian sosial, serta penguatan tradisi keilmuan dan kebangsaan.
Usai sambutan, prosesi pelantikan dilakukan dengan pembaiatan pengurus ranting dan penyerahan simbolis tongkat serta tasbih kepada para pengurus yang dilantik. Simbol tersebut dimaknai sebagai amanah perjuangan, keteladanan, dan kesinambungan khidmah NU di tengah masyarakat.

