Image Slider

Urgensi Resiliensi dan Kolektivitas: Refleksi atas Nasyrah K.H. Hasyim Asy’ari

Oleh: Dr. H. Damanhuri *) 

Dalam lintasan sejarah perjuangan intelektual dan sosial di Indonesia, pemikiran Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari seringkali dipandang sebagai jangkar moral yang kokoh. Salah satu dokumen krusial yang merekam visi beliau adalah buletin yang ditujukan kepada para ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah pada tahun 1937. Melalui naskah tersebut, kita dapat membedah sebuah paradigma kepemimpinan yang menggabungkan kedalaman spiritual dengan ketajaman strategi sosial yang tetap relevan hingga saat ini.

Argumentasi fundamental yang ditekankan adalah urgensi persatuan (ittihad) dan kesepakatan (wifaq) sebagai senjata utama dalam mencapai kemaslahatan kolektif. Beliau menggarisbawahi bahwa perpecahan hanya akan memperlemah posisi umat, terutama di era di mana nilai-nilai agama mulai terpinggirkan dan spirit spiritualitas publik mengalami penurunan. Dalam konteks akademik, seruan ini bukan sekadar retorika moralistik, melainkan sebuah strategi penguatan modal sosial. Ulama diharapkan mampu mengesampingkan kepentingan personal demi tujuan yang lebih besar, yakni menjunjung tinggi kalimat Allah dan integritas sosial.

Lebih jauh lagi, naskah ini menguraikan konsep resiliensi di tengah ujian (fitan). Hadratussyaikh menegaskan bahwa kesulitan, penderitaan, dan tantangan zaman bukanlah penghalang, melainkan instrumen penguji untuk membedakan antara mereka yang benar-benar berkomitmen dengan mereka yang hanya berpura-pura dalam keimanan. Di sini, kesabaran (sabr) didefinisikan secara aktif sebagai keteguhan dalam menjalankan tugas-tugas sosial dan syariat, bukan kepasifan. Beliau bahkan mengutip keteladanan Nabi Musa a.s. dalam memotivasi kaumnya untuk memohon pertolongan melalui kesabaran dan ibadah, sebuah seruan yang dimaksudkan agar para ulama tidak terjebak dalam kemalasan atau pengabaian terhadap tanggung jawab kemasyarakatan.

Visi kepemimpinan ini juga mencakup aspek pengorbanan material dan intelektual. Ulama diingatkan untuk siap menghadapi kelelahan dan kerugian dalam perjuangan, dengan keyakinan bahwa kontribusi terhadap agama akan berbuah pertolongan dari Tuhan. Secara khusus, terdapat mandat bagi organisasi (Jam’iyyah) untuk tetap konsisten pada jalur para pendahulu yang saleh (maslak al-salih) di tengah gelombang tantangan yang terus menghantam. Tugas utama yang diemban bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan peran transformatif: membimbing masyarakat dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan dan kebajikan.

‘Ala kulli hal, sebagai penutup, mandat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari ini menegaskan kedudukan ulama sebagai ahli waris para nabi yang memikul beban edukatif dan moral secara bersama-sama. Tidak ada ruang bagi sikap picik atau kekikiran dalam membagikan ilmu. Melalui seruan untuk memperkuat persatuan dan ketahanan mental ini, kita diingatkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan sosial-keagamaan sangat bergantung pada sinkronisasi antara integritas pribadi pemimpinnya dan soliditas kolektif anggotanya. Pesan ini menjadi pengingat abadi bagi kita semua bahwa di tengah disrupsi zaman, konsistensi dalam nilai dan kolaborasi adalah kunci eksistensi. Wallahu A’lamu Bissawab. [ ]

Tulisan ini disarikan dari Nasyrah Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

*) Sekretaris PCNU Sumenep masa khidmah 2026-2031

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga