Image Slider

Misteri Angka Tujuh dalam Surat Al-Fatihah: Inspirasi Rukun Shalat

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Surat Al-Fatihah yang umumnya dikenal dengan Ummul Qur’an berjumlah tujuh ayat. Baik yang memasukkan basmalah sebagai bagian dari ayat dalam Al-Fatihah maupun yang tidak.

Penggunaan angka 7 dalam Fatihah ini tentunya bukanlah suatu kebetulan. Sama halnya dengan jumlah kalimat/lafadz dalam kalimat tauhid (لا اله إلا الله محمد رسول الله) yang juga ada 7.

Imam Ar-Razi menyebutkan hadits Nabi Muhammad SAW dalam tafsirnya yang mengisahkan dari Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ

“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian.” Jika hamba mengucapkan:

(بِسْمِ اللّٰه الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم)

Maka Allah berfirman:

ذَكَرَنِي عَبْدِى

“Hamba-Ku mengingat-Ku.” Apabila hamba mengucapkan:

( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )

Maka Allah berfirman:

حَمِدَنِى عَبْدِى

“Hamba-Ku telah memuji-Ku.”Jika mengatakan:

(الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ )

Maka Allah berfirman:


أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى.

“Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika mengatakan:

(مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ)

Allah berfirman:


مَجَّدَنِى عَبْدِى

“Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat yang lain:

فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى

“Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku.” Jika mengatakan:

(إِيَّاكَ نَعْبُدُ)

Maka Allah berfirman:

عَبدني عبدي

“Hamba-Ku menyembah-Ku.” Jika mengatakan:

(وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)

Maka Allah berfirman:

تَوَكَّلَ عَلَيَّ عَبْدِي

“Hamba-Ku bergantung penuh pada-Ku.” Dalam riwayat yang lain, jika mengatakan:

(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ )

Maka Allah berfirman:

هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى

“Ini antara-Ku dan hamba-Ku.” Jika mengatakan:

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ).

Maka Allah berfirman:

هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ

“Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Hadits ini menurut Imam Ar-Razi menunjukkan bahwa poros syariat adalah pada upaya menjaga kemaslahatan makhluk , sebagaimana firman Allah:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَها

Artinya: “Jika kalian berbuat baik, berarti kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra’: 7).

Hal itu disebabkan karena perkara terpenting bagi seorang hamba adalah menerangi hatinya dengan mengenal Rububiyah (Tuhan), kemudian mengenal Ubudiyah (penghambaan), karena sesungguhnya dia diciptakan untuk menjaga perjanjian (amanah) ini. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَما خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghambakan diri pada-Ku” (QS. Adz-Dzarriyat: 56). (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Al-Kabir wa Mafatih Al Gaib Jilid 1, Kairo, Daar Al Hadits hal. 296).

Begitu istimewanya surat Al-Fatihah sehingga terdapat bagian tak terpisahkan atau komunikasi yang erat dan langsung direspon positif seolah tanpa hijab antara hamba dengan Tuhan-Nya.

Surat pendek yang semua umat Islam mulai anak usia dini sampai yang tua renta pasti hafal di luar kepala karena ia merupakan salah satu rukun dari rukun shalat yang tanpanya shalat menjadi tidak sah dan dibaca dalam setiap raka’at shalat. Hadits Nabi Muhammad SAW:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anehnya surat ini ada tujuh ayat yang kemudian sesuai dengan jumlah huruf Al-Fatihah kalau ditulis dengan bahasa Arab الفاتحة (ا، ل، ف،ا،ت،ح،ة). Pertanyaannya adalah kenapa harus tujuh, tidak dengan angka yang lain? Angka tujuh adalah angka yang cukup sakral.

Dalam seminggu ada 7 hari, ada 7 proses penciptaan manusia, ada tujuh lapis langit dan bumi yang semua bertasbih dan memuji Allah, 7 thawaf dan 7 sa’i, makan 7 butir kurma ajwa sebagai obat dan angka tujuh yang lain.

Bahkan kalau diperhatikan ada tujuh huruf Hijaiyah juga yang tidak ada dalam surah Al-Fatihah.

Imam Ar-Razi menyebutkan tujuh huruf Hijaiyah yang tidak ada dalam surah Al-Fatihah itu adalah الثاء، الجيم، الخاء، الزاي، الشين، الظاء، الفاء. Ini semua berhubungan dengan siksa. Tsa’ (ث) al-Tsubur (الثبور) menunjukkan pada makna kecelakaan dan kebinasaan. Huruf Jim (ج) jahannam (جهنم) menunjukkan neraka jahanam.

Kha’ (خ) Alkhizyu (الخزي) menunjukkan kerendahan atau kehinaan. Huruf za’ (ز) dan syin (ش) azzafir dan assyahiq ( الزفير والشهيق) menunjukkan makna mengeluarkan dan menarik napas dengan merintih.

Huruf za’ (ز) juga menunjukkan pada azzaqqum (الزقوم) yaitu pohon zaqqum di neraka. Huruf syin (ش) menunjukkan pada assyaqawah (الشقاوة) yaitu kecelakaan.

Huruf dha’ (ظ) adalah dhillun (ظل) menunjukkan bayangan. Sementara huruf fa’ (ف) adalah alfiraq (الفراق) yang menunjukkan perpisahan.

Manfaat digugurkannya tujuh huruf tersebut kata Imam Ar-Razi adalah untuk membuat manusia aman dan selamat dari memasuki tujuh pintu neraka jahanam. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Fakhr ar Razi 1981. Beirut: Daar. Alfikr hal.184).

Walaupun beberapa ulama mengkritik pendapat Imam Ar-Razi ini, tapi mengaitkan tujuh huruf tersebut dengan perkara yang negatif bukan lah sesuatu yang berlebihan karena pasti ada keterkaitan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya dan itu tidak bisa kita katakan terjadi secara kebetulan.

Seperti misalnya lagi kalau kita preteli akhiran per-ayat dalam surah Al-Fatihah pasti diakhiri dengan huruf nun (ن) dan huruf mim (م). Jumlah akhiran huruf nun ada empat dan akhiran huruf mim ada 3.

Apa maknanya?

Akhiran huruf nun pada ayat 2, 4, 5, dan 7, sedangkan akhiran huruf mim pada ayat 1, 3, dan 6.

Ibnu Abbas memaknai NUN yang ada dalam Al-Qur’an surah al-Qalam termasuk dari nama-nama Allah.(Kitab ad-Durrul Mantsur juz 4 hal.620).

Ini sama dengan jumlah kalimat/lafadz لا اله إلا الله. Sementara huruf MIM yang ada 3 sama dengan jumlah kalimat/lafadz محمد رسول الله yang diawali huruf MIM (م).

Hubungan ini semua kalau kita korelasikan secara filosofis bahwa semua yang ada termasuk kita sebagai manusia berasal dan akan kembali kepada Allah.

Kita harus mengenal Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan mengenal diri kita sebagai yang menghamba hanya pada-Nya.

Mengenal ini semua tentu dengan ajaran Islam yang dibawa oleh manusia pilihan Allah sebagai utusan-Nya yaitu Nabi Muhammad Saw.

Imam Ar-Razi juga mengaitkan setiap ayat dalam surat Al-Fatihah sebagai pintu dalam delapan pintu surga secara berurutan.

Beliau menyebutkan bahwa surga memiliki delapan pintu. Pada maqam (posisi/pembahasan) ini, telah dibukakan untukmu salah satu pintu dari pintu-pintu surga, yaitu Pintu Ma’rifat (pengenalan kepada Allah).

Pintu kedua adalah Pintu Dzikir, yaitu dalam ayat بسم الله الرحمن الرحيم (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Pintu ketiga adalah Pintu Syukur, yaitu ayat: الحمد لله رب العالمين (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).

Pintu keempat adalah Pintu Roja’ (Harapan), yaitu ayat الرحمن الرحيم (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Pintu kelima adalah Pintu Khauf (Takut), yaitu ayat مالك يوم الدين (Yang menguasai Hari Pembalasan).

Pintu keenam adalah pintu Ikhlas yang lahir dari makrifah ubudiyah dan makrifah rububiyah, yaitu ayat اياك نعبد واياك نستعين (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).

Pintu ketujuh adalah pintu Doa dan Tadharru’ (kerendahan hati), sebagaimana firman-Nya:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ

“Ataukah Dia yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya.” (QS. An-Naml: 62) dan ادعوني أستجب لكم “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.(QS. Ghafir: 60), yang mana di sini adalah ayat اهدنا الصراط المستقيم (Tunjukilah kami jalan yang lurus).

Pintu kedelapan adalah pintu Mengikuti (Iqtida’) ruh-ruh yang baik dan suci serta mendapat petunjuk melalui cahaya mereka, yaitu ayat:

صراط الذين أنعمت عليهم، غير المغضوب عليهم، ولا الضالين

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

Melalui cara ini, jika membaca surah Al-Fatihah dan memahami rahasia-rahasianya, maka terbukalah delapan pintu surga. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala:

جَنَّاتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ الْأَبْوَابُ

“Surga-surga Adn, pintu-pintunya terbuka bagi mereka” (QS. Shad: 50).

Maka, surga-surga Ma’arif Rabbaniyyah telah terbuka pintu-pintunya dengan kunci-kunci spiritual (maqalid ruhiyyah) ini. (Tafsir Al-Kabir wa Mafatih Al Gaib Jilid 1, Kairo, Daar Al Hadits hal. 304).

Jadikan Al-Fatihah sebagai payung dalam gerakan dan tindakan kita sebagaimana Al-Fatihah sebagai induknya Al-Qur’an.

Jadikan Al-Fatihah dalam setiap langkah dan nafas perjuangan kita sebagaimana Al-Fatihah sebagai salah satu rukun dalam rukun shalat yang dibaca dalam setiap raka’at.

Coba kita perhatikan lagi kalau setiap raka’at dalam shalat wajib lima waktu membaca Al-Fatihah, maka sehari menjadi 17 kali yang ini sama dengan jumlah rukun shalat yang ada 17 seperti dalam Kitab Safinatun Najah.

Kalau dalam seminggu berarti ada 119 kali. Dihubungkan dengan surah at-Taubah ayat 119:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”

Adakah hubungannya dengan keharusan bertakwa dalam setiap gerak langkah kita dan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang benar, jujur dalam ucapan, perilaku dan perbuatannya.? Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga